OctaFx

iklan

10 Negara Produsen Minyak Terbesar Di Dunia

285524

Ada anggapan kalau negara produsen minyak terbesar di dunia pasti berstatus anggota OPEC dan berlokasi di Timur Tengah. Padahal itu tidak benar.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Dalam berita-berita terkait harga minyak, nama negara - negara produsen minyak terbesar di dunia acap kali dikutip sebagai penyebab kenaikan maupun penurunan harga. Ketika terjadi mogok kerja massal karyawan migas, konflik bersenjata, atau gangguan pipa di kawasan terkait; harga minyak bisa jatuh beberapa Dolar AS dalam hitungan hari. Sebaliknya, ketika ada kabar peningkatan kapasitas produksi atau penemuan ladang minyak baru; harga minyak akan cenderung meningkat.

Mengingat pentingnya posisi negara - negara produsen minyak terbesar tersebut, setiap trader dan investor yang memperdagangkan komoditas minyak perlu mengetahuinya. Bisakah Anda menebak negara mana saja itu?

 

Daftar 10 Negara Produsen Minyak Terbesar

Banyak yang secara keliru menganggap kalau OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) mencakup semua negara produsen minyak terbesar di dunia. Ada pula kesalahpahaman kalau minyak hanya dihasilkan di Timur Tengah saja. Padahal, kenyataannya, sebagian dari 10 negara produsen minyak terbesar di dunia justru tak termasuk sebagai anggota OPEC dan tak berlokasi di Timur Tengah. Lihat saja data produksi minyak (mencakup minyak mentah, biofuel, dan cairan minyak lainnya) dari US Energy Information Administration berikut ini:

Negara Produsen Minyak Terbesar Di Dunia

Berdasarkan data tahun 2017 tersebut, Amerika Serikat (14.46 Juta bph) merupakan negara produsen minyak terbesar di dunia, disusul oleh Arab Saudi (12.08 Juta bph) dan Rusia (11.18 Juta bph). Penghuni peringkat sepuluh besar selanjutnya berturut-turut adalah Kanada, Iran, Irak, China, Uni Emirat Arab, Brazil, dan Kuwait.

Dibandingkan daftar negara produsen minyak terbesar di dunia tahun 2016, terdapat perubahan besar. Sebelumnya, Rusia dan Arab Saudi berselang-seling menduduki peringkat pertama. Namun, mulai tahun 2016, AS menggenjot produksi minyak shale-nya melalui peningkatan aktivitas fracking, sehingga berhasil merebut kursi puncak.

Antara tahun 2018-2019, perubahan lebih lanjut bisa terjadi dalam daftar tersebut, mengingat AS mulai memblokade ekspor migas Iran per 4 November mendatang. Penurunan permintaan atas minyak mentah Iran bisa mengakibatkan penurunan produksi di dalam negeri.

 

Negara Produsen Minyak Terbesar Bukan Anggota OPEC Saja

Apabila diamati, maka diantara 10 negara produsen minyak terbesar di dunia, hanya Arab Saudi, Iran, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait yang termasuk anggota OPEC. Di sisi lain, AS, Rusia, Kanada, China, dan Brazil bukan anggota OPEC. Mengapa demikian?

Pada umumnya, ada tiga sebab mengapa suatu negara produsen minyak tak bergabung OPEC:

  1. Banyak negara menghasilkan minyak mentah melimpah, tetapi konsumsinya tak kalah tinggi, sehingga mereka harus mengimpor untuk memenuhi kebutuhan domestik. Negara-negara produsen sekaligus importir minyak tersebut tak berstatus sebagai eksportir netto, dan karenanya maka tak memiliki kualifikasi memadai untuk bergabung dengan OPEC (kecuali bila OPEC memberikan izin khusus). Contohnya Amerika Serikat, China, dan Brazil. Indonesia sempat masuk OPEC sejak 1962, tetapi mensuspensi keanggotaan pada Januari 2009 dan November 2016; salah satunya karena sudah berubah status dari eksportir jadi importir netto.
  2. Banyak ketentuan OPEC berkaitan dengan kuota produksi hanya dapat dijalankan oleh negara produsen minyak yang mengendalikan industri migas secara sentralisasi melalui badan usaha milik negara (BUMN). Oleh karenanya, negara-negara yang menjalankan sistem ekonomi liberal dan membebaskan pengelolaan migas pada pihak swasta, tak dapat bergabung dengan OPEC. Contohnya Kanada.
  3. Negara produsen minyak terkait merasa kepentingannya tak selalu selaras dengan negara-negara anggota OPEC. Contohnya Rusia.

Selain ketiga alasan tersebut, bisa jadi terdapat sebab-sebab khusus lain mengapa suatu negara produsen minyak tak masuk dalam kartel raksasa OPEC. Misalnya karena tak mendapat restu dari anggota-anggota OPEC yang sudah bergabung lebih dulu.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.