Diversifikasi Portofolio Dengan Logam Mulia

235778

Meragamkan investasi sangat penting dilakukan untuk meminimalkan risiko. Salah satu caranya adalah melakukan diversifikasi portofolio dengan logam mulia.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Sejak berabad-abad lalu, logam mulia seperti Emas dan Perak telah menjadi simbol kekayaan. Hingga hari ini pun, logam mulia menempati posisi khusus dalam portofolio para investor dunia. Namun, tahukah Anda bahwa harga logam mulia di pasar bisa naik dan turun dengan tajam? Juga bahwa logam mulia tidak hanya berupa Emas atau Perak? Kenali ragam logam-logam mulia untuk mengetahui mana yang paling cocok untuk dikoleksi dalam portofolio investasi Anda.Logam Mulia - ilustrasi
 

Logam Mulia

Logam mulia adalah elemen kimia logam yang terjadi secara alamiah dan tergolong langka, serta memiliki nilai ekonomis tinggi. Harga logam mulia biasanya ditentukan oleh permintaan yang tinggi atau nilai pasarnya. Apabila ditemukan lokasi tambang baru atau teknologi pemrosesan yang lebih efisien, maka harganya bisa berubah secara signifikan.

Logam mulia juga biasanya berkilau, serta sering digunakan sebagai mata uang di masa lalu. Saat ini, logam-logam mulia itu seringkali tidak hanya digunakan sebagai bahan baku perhiasan, melainkan juga sebagai bahan baku industri dan peralatan medis. Diantara logam mulia ini, yang paling banyak menjadi incaran investpor adalah Emas, Perak, Platinum, dan Paladium. Logam-logam mulia tersebut biasanya dijual dalam bentuk bullion dan diperdagangkan di pasar komoditas. Selain keempat jenis logam tadi, juga terdapat logam mulia lain seperti rhodium, osmium, rhenium, ruthenium, dan lain-lain yang kurang populer sebagai aset investasi.

 

Emas

Emas adalah "Raja" logam mulia dan dikenal sebagai safe haven di masa-masa gejolak ekonomi dan politik. Keunikan emas juga terletak pada karakternya yang awet (tidak berkarat), mudah ditempa, dan merupakan konduktor panas dan listrik. Karena itu, ia menjadi komoditas multifungsi, digunakan baik pada alat-alat medis, elektronik, perhiasan, atau bahkan basis mata uang.

Harga emas berfluktuasi 24 jam sehari, hampir tujuh hari dalam seminggu, sejalan dengan pergerakan pasar. Perdagangan emas saat ini lebih condong pada sentimen pasar dibanding hukum permintaan dan penawaran. Menurut Investopedia, ini karena suplai baru dari tambang jauh lebih rendah dibanding emas yang ditimbun oleh masyarakat. Simpelnya, ketika masyarakat yang memegang emas berkeinginan untuk menjual, maka harga emas akan jatuh. Ketika mereka ingin beli, maka suplai baru dari tambang akan segera terbeli dan harga emas pun meningkat.

 

Sejumlah faktor menjadi bagian dari pertimbangan dasar fundamental perdagangan emas:

1. Kondisi finansial terkini
Ketika kondisi finansial dinilai kurang stabil, atau kondisi politik dipertanyakan, emas akan diincar oleh banyak orang sebagai penyimpan kekayaan universal.

2. Inflasi
Ketika imbal hasil saham, obligasi, atau aset sejenisnya dinilai minim atau malah negatif, maka masyarakat akan mengejar emas sebagai aset untuk mempertahankan nilai kekayaan yang mereka punya.

3. Perang atau Konflik Geopolitik
Perang atau konflik geopolitik acap kali membuat orang menimbun emas, dibanding mata uang yang nilainya bisa jadi tidak jelas. Seluruh kekayaan keluarga bisa dialihkan ke emas, dan selanjutnya emas itu bisa dipertukarkan dengan kebutuhan hidup atau biaya mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

 

Perak

Fluktuasi harga perak sebenarnya lebih besar dibanding emas meski nilainya secara nominal bisa jadi lebih rendah. Ini karena selain sebagai penyimpan nilai, perak juga memiliki peran besar di bidang industri, diantaranya dalam pembuatan panel sel surya, baterai, alat medis, pemurnian air, fotografi, alat elektronik, bahkan juga sebagai katalis dalam rekasi oksidasi produksi bahan-bahan kimia penting.


Oleh karena itu, meski permintaan perak sebagai aset investasi cukup tinggi, tetapi permintaan perak sebagai bahan baku industri juga berdampak besar terhadap harganya. Meningkatnya kelas menengah di Asia yang melejitkan permintaan akan barang elektronik, misalnya, mendorong permintaan akan perak (sekaligus harganya) naik. Sejumlah analis bahkan menilai bahwa investasi perak bisa jadi lebih menguntungkan ketimbang emas karena propertinya yang sangat dibutuhkan oleh industri.

 

Platinum

Dibandingkan dengan Emas dan Perak yang telah dikenal sejak jaman kuno sebagai logam mulia, Platinum tergolong baru-baru ini saja masuk ke jajaran logam mulia. Namun demikian, harga Platinum biasanya lebih tinggi ketimbang saudaranya, Emas maupun Perak. Ini karena Platinum lebih langka dan jarang ditemukan, padahal ia juga sangat dibutuhkan sebagai bahan baku industri otomotif dan perhiasan.


Faktor lain yang juga penting mengenai Platinum adalah konsentrasi tambang-nya hanya di dua negara: Afrika Selatan dan Rusia. Ini menjadikan harga Platinum rentan akan manipulasi harga ala kartel. Karenanya juga, harga Platinum bisa jadi sangat volatile (perhatikan: platinum kerap disebut emas putih, tetapi emas putih tidak selalu platinum; jadi fundamental harganya berbeda).

 

Paladium

Paladium bisa digunakan sebagai substitusi Platinum meski sering dianggap lebih inferior. Berbeda dengan logam mulia lainnya yang didukung oleh permintaan akan perhiasan, permintaan utama Paladium adalah sebagai pemenuh kebutuhan industri.


Sebagaimana Platinum, deposit Paladium di dunia juga amat langka, tercatat hanya ditemukan dalam jumlah signifikan di Afrika Selatan, Amerika Serikat, Kanada, dan Rusia. Terbatasnya suplai Paladium padahal kebutuhannya tinggi membuat banyak investor tertarik pada logam mulia yang satu ini. Harga Paladium juga biasanya lebih mahal ketimbang emas atau perak.

 

Diversifikasi Portofolio Dengan Logam Mulia

Logam-logam mulia menawarkan perlindungan unik dari inflasi berkat nilai intrinsiknya yang tinggi (berbeda dengan surat-surat berharga seperti saham atau obligasi) dan persediannya yang terbatas. Logam mulia juga bisa dijadikan "asuransi" ditengah kondisi ekonomi atau geopolitik buruk. Dalam jangka pendek, harga logam mulia memang bisa naik-turun; tetapi dalam jangka penjang selain kebal inflasi juga cenderung menunjukkan tren meningkat meski unsur inflasi telah dikecualikan, sebagaimana bisa dilihat dibawah.

Harga Logam Mulia

Dilihat dari aspek investasi, logam mulia berdiri di posisi berlawanan dengan aset lain seperti saham, obligasi, atau valas. Ini berarti, dengan memasukkan logam mulia dalam komposisi portofolio maka investor bisa mengurangi resiko dan volatilitas. Logam mulia pun relatif lebih mudah untuk dicairkan dibanding aset tidak bergerak seperti properti.


Cara untuk memasukkan logam mulia dalam portofolio pun bermacam-macam. Sayangnya, sejumlah cara ini hanya bisa diakses oleh investor asing bermodal besar; diantaranya:

1. ETF Komoditas.
Exchange Traded Funds (ETF) bisa ditemukan di pasar komoditas internasional, seperti London Stock Exchange (LSE).

2. Saham perusahaan tambang logam mulia
Perusahaan tambang logam mulia ada di hampir semua negara, khususnya negara-negara kaya sumber daya alam. Di Indonesia, perusahaan bidang tambang logam mulia di Bursa Efek antara lain Aneka Tambang (ANTAM) dan J Resources Asia Pasific (PSAB).

3. Futures dan Option
Perdagangan berjangka di aset derivatif seperti ini menawarkan perdagangan logam mulia dengan leverage tinggi, sehingga meski potensi profit besar tetapi risiko juga tidak kalah besar.

4. Barang fisik
Untuk mendapatkan logam mulia langka seperti Paladium atau Platinum dalam bentuk fisik di Indonesia akan sulit. Namun demikian, Emas dan Perak dalam bentuk batangan maupun koin bisa dibeli dengan mudah dan semakin ramai diperdagangkan. Banyak yang menggunakannya sebagai agunan dalam skema gadai emas, simpanan hari tua, simpanan haji, maupun warisan masa depan bagi anak-cucu.


Disamping keempat cara itu, bagi mereka yang menyukai tantangan risiko tinggi juga bisa memanfaatkan derivatif komoditas logam mulia dalam bentuk perdagangan CFD (Contract for Difference) yang biasanya difasilitasi oleh broker-broker yang sama dengan broker forex. CFD komoditas logam mulia bisa dikenali dengan simbol XAU untuk Emas, XAG untuk Perak, XPT untuk Platinum, dan XPD untuk Paladium.

Selayaknya trading forex, CFD komoditas itu juga diperdagangkan berpasangan dengan mata uang tertentu, biasanya Dolar AS (USD) atau Euro (EUR) sehingga menjadi XAU/USD, XAU/EUR, XAG/USD, dan seterusnya. Meski trading CFD ini tidak memungkinkan Anda untuk memiliki logam mulia terkait secara langsung, tetapi bisa bermanfaat dalam strategi trading untuk memperoleh profit lebih, khususnya ketika Dolar sedang lesu.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.

15 Oktober 2019 18:16

1,494.53 ( 0.11%)

Support : 1,485.59
Pivot : 1,490.56
Resistance : 1,497.83

Hold 50% Buy 100% Buy

48% Buy
Selengkapnya

Haryanto
Misalkan kita punya modal dalam kisaran puluhan juta, kira-kira dari ke empat tempat diversifikasi portfolio tadi, manakah yang paling menguntungkan? Apakah juga sebanding dengan risikonya jika kita pilih instrumen tersebut?
A. Muttaqiena
Pilihan instrumen mana itu bergantung pada tujuan Anda berinvestasi dan berapa lama Anda akan berinvestasi. Dana hingga puluhan juta tentunya bisa digunakan di instrumen yang manapun. Namun, bila Anda ingin mendapat untung dalam waktu satu tahun saja, misalnya, maka akan kurang tepat kalau membeli logam mulia batangan; justru akan lebih baik bila bertrading futures atau saham saja. Sebaliknya, bila tujuan berinvestasi adalah untuk melindungi dana dan mengembangkannya dalam jangka waktu lama hingga bertahun-tahun, maka batangan logam mulia emas atau perak bisa jadi pilihan. Ini karena di Indonesia, pasar untuk platinum dan paladium belum berkembang, sehingga bisa sulit ketika memperjual-belikannya sewaktu-waktu.