Advertisement

iklan

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Kakao

Harga Kakao dalam beberapa tahun ini cenderung lesu. Apa penyebab harga Kakao turun dan naik?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Sejak pertama kali dibudidayakan di Amerika Tengah lebih dari 5000 tahun lalu, Kakao telah meluas ke seluruh dunia. Kegemaran masyarakat mengkonsumsi berbagai olahan Kakao, termasuk cokelat batangan, minuman cokelat, dan bermacam-macam kue, mendorong banyak orang tertarik untuk memproduksi Kakao, termasuk di Indonesia. Namun, harga Kakao dalam beberapa tahun ini cenderung lesu. Apa sebenarnya faktor-faktor yang mempengaruhi harga Kakao dunia? Apa penyebab harga Kakao turun dan naik? Simak ulasannya di sini.

 

Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Harga Kakao

 

Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi harga Kakao berhubungan dengan penawaran dan permintaannya, atau dengan kata lain, Supply dan Demand atas Kakao itu sendiri. Harga Kakao di Indonesia, misalnya, akan dipengaruhi oleh seberapa banyak produksi Kakao dalam negeri dan impor Kakao, dibandingkan dengan kebutuhan akan Kakao oleh perusahaan-perusahaan manufaktur serta permintaan ekspor. Terjadinya perubahan-perubahan besar dalam komponen pembentuk penawaran dan permintaan tersebut dapat mempengaruhi harga Kakao.

Berikut ini beberapa rincian dari faktor-faktor yang mempengaruhi harga Kakao:

 

1. Kondisi Negara-Negara Penghasil Kakao Terbesar Di Dunia

Tahukah Anda, meskipun produksi dalam negeri terhitung kecil, tetapi Indonesia merupakan negara penghasil Kakao terbesar ketiga di dunia. Posisi Indonesia hanya sejengkal di belakang Pantai Gading (Cote d'Ivoire) dan Ghana. Namun, Pantai Gading dan Ghana memproduksi lebih dari dua pertiga suplai Kakao global, sehingga kondisi di kedua negara ini jauh lebih berdampak pada harga Kakao dunia.

 

Daftar 10 Negara Penghasil Kakao Terbesar Di Dunia
(sumber data: WorldAtlas.com, 2017)

Daftar Negara Penghasil Kakao Terbesar Dunia

 

Apabila cuaca bagus di Pantai Gading dan Ghana menghasilkan panen berlimpah, maka pasokan Kakao dunia akan meningkat, sehingga harga cenderung melemah. Lebih dari itu, karena Kakao termasuk komoditas yang dapat disimpan dalam tempo cukup lama, maka timbunan di gudang bisa terakumulasi, apabila panen berlimpah terjadi berulang kali. Kondisi surplus (oversupply) seperti ini dapat menjadi penyebab harga Kakao turun.

Selain kondisi alam, faktor lain yang dapat mempengaruhi harga Kakao dari negara penghasil Kakao terbesar adalah sosial-politik. Pantai Gading dan Ghana sama-sama berlokasi di benua Afrika yang rentan krisis politik. Selain itu, perkebunan-perkebunan Kakao di sana telah lama dituduh mempekerjakan anak-anak tak terdidik dengan jam kerja yang tidak manusiawi. Bahkan, pernah beredar video soal kemiskinan akut hingga para buruh perkebunan Kakao tak pernah mencicipi coklat yang notabene merupakan hasil olahan utama Kakao. Hal ini dapat mendorong perusahaan-perusahaan dengan etika bisnis tinggi untuk memilih Kakao produksi negara lainnya.

 

2. Hama Dan Penyakit Pada Tanaman Kakao

Apabila ada kekhawatiran tentang Kakao produksi Afrika karena masalah etis, apakah kemudian Kakao Indonesia dapat menjadi pilihan berikutnya? Tunggu dulu. Salah satu masalah yang membuat korporasi mancanegara khawatir untuk mempercayakan suplai Kakao pada Indonesia adalah maraknya hama Penggerek Buah Kakao (PBK).

Serangan PBK mengakibatkan buah Kakao menjadi belang-belang kuning-hijau atau kuning-jingga, dengan lubang-lubang gerekan tempat keluarnya larva. Kemudian setelah dibelah, nampak biji-biji Kakao kecil-kecil karena tidak berkembang, berwarna hitam, dan melekat satu sama lain.

 

Buah Terkena Hama Penggerek Kakao

 

Pada tahun 2015, hama PBK di Indonesia sempat melanda sejumlah sentra produksi Kakao, termasuk Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Dalam sebuah laporan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, disebutkan bahwa harga Kakao Indonesia di Terminal Kakao New York terus menurun dari USD250 USD menjadi USD125 per ton, jauh dari harga kakao asal Pantai Gading USD250-300 per ton, sehubungan dengan serangan hama Penggerek Buah Kakao (PBK) itu.

Per tahun 2018 ini, banyak pihak diketahui telah mensosialisasikan bermacam-macam upaya untuk mengendalikan hama PBK. Namun, masih saja ada petani Kakao yang terdampak.

 

3. Kesadaran Akan Gaya Hidup Sehat

Sejak sekitar tahun 2016, peningkatan kesadaran akan gaya hidup sehat telah banyak disebut-sebut sebagai penyebab harga Kakao turun. Belum ada penelitian mendalam mengenai hal ini, tetapi disinyalir pokok perkaranya ada dua.

Pertama, mayoritas produk Kakao saat ini non-organik, sedangkan kesadaran akan gaya hidup sehat mendorong orang-orang untuk lebih mencari Kakao organik. Oleh karena itu, meskipun permintaan secara global meninggi dan mendorong harga Kakao naik, tetapi kenaikan harga Kakao belum tentu dinikmati oleh semua petani.

 

Contoh Produk Kakao Organik

 

Kedua, kegunaan produk turunan Kakao utamanya untuk campuran dalam berbagai kudapan manis, yang dianggap sebagai biang beragam penyakit. Sebagai contoh, banyak orang tua modern melarang anak-anaknya memakan terlalu banyak kudapan manis, termasuk produk cokelat turunan Kakao, dan memilih memberikan snack ringan berupa buah atau kacang-kacangan. Menurut penelitian, konsumsi cokelat memang bermanfaat bagi kesehatan, tetapi ini khusus untuk produk cokelat tanpa pemanis, yang peminatnya jauh lebih sedikit.

 

4. Kurs Valas

Dalam perdagangan internasional, komoditas diperdagangkan menggunakan perantara mata uang Dolar AS. Oleh karena itu, harga komoditas di pasar dunia umumnya berhubungan terbalik dengan kurs Dolar AS, termasuk Kakao. Apabila nilai tukar Dolar AS melemah, maka harga Kakao dunia cenderung menguat; sedangkan jika Dolar AS menguat, maka harga Kakao dunia cenderung melemah.

Bagi petani lokal Indonesia, fenomena ini boleh jadi tidak terlalu berdampak, meskipun kurs Dolar AS punya pengaruh terhadap harga Kakao dunia. Mayoritas produksi Kakao Indonesia masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Selain itu, ketika Dolar AS menguat, belum tentu petani yang menjual barangnya ke mancanegara dirugikan, karena eksportir tetap bisa mendapatkan keuntungan dari pelemahan kurs Rupiah terhadap Dolar AS.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.