OctaFx

iklan

Sistem Trading Triple Screen (2)

Sistem trading triple screen menggunakan 3 layar untuk memonitor pergerakan harga dengan time frame yang berbeda guna memperoleh sinyal trading yang lebih akurat.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Layar Kedua Pada Triple Screen Menggambarkan "Gelombang Pasar" (Market Wave)

Pergerakan harga pada time frame patokan (intermediate time frame) daily tidak diamati melalui indikator trend following seperti MACD, tetapi melalui indikator oscillator. Sifat dasar indikator oscillator mengisyaratkan sinyal buy saat pergerakan harga pasar sedang turun, dan sinyal sell saat harga pasar sedang naik (kondisi oversold dan overbought). Sinyal-sinyal tersebut tampak seperti ‘gelombang’ yang mengisyaratkan momentum untuk entry. 

Dalam hal ini trading dengan metode triple screen tampak logis karena trader hanya berkonsentrasi pada sinyal trading time frame daily dengan sebuah indikator saja, yang didasarkan pada arah trend dari time frame weekly (long term time frame). Misalnya pada saat trend pada time frame weekly naik, maka trader hanya memperhatikan sinyal buy pada time frame patokan (daily) dan mengabaikan sinyal sell. Sebaliknya bila trend pada time frame weekly bearish.

Ada empat indikator oscillator yang biasa digunakan pada sistem trading ini, yaitu:

  1. Force index.
  2. Elder-Ray index.
  3. Stochastic.
  4. Williams percent range.


1. Force Index

Indikator ini dibuat oleh Dr. Elder untuk mengukur kekuatan bullish dan bearish dengan menggunakan pendekatan moving average. Untuk sistem triple screen ini digunakan exponential moving average (ema) dengan periode: 2. Menurut Dr. Elder, ema-2 day pada indikator force index sangat cocok dikombinasikan dengan indikator trend following seperti MACD. Pada platform Metatrader indikator ini bisa diperoleh dari Insert-Indicators-Oscillators-Force Index. Berikut contoh indikator force index pada EUR/USD Daily:

Sistem Trading Triple Screen

Jika garis ema-2 day pada indikator force index berada diatas garis 0.00, maka sentimen bullish lebih kuat, dan sebaliknya bila berada dibawah 0.00 atau negatif, maka sentimen bearish lebih kuat. Jika indikator ini digunakan pada time frame patokan sistem triple screen (time frame 5-day), maka ketika histogram MACD pada time frame weekly membentuk sudut (slope) ke arah atas atau bullish, momen yang tepat untuk membuka posisi buy adalah ketika indikator force index berada pada area negatif dengan momentum pull-back (berbalik arah) ke arah atas.

Posisi buy hendaknya dibuka diatas level tertinggi pada hari tersebut. Dalam hal ini bisa digunakan stop order (dengan buy stop). Stop loss bisa ditentukan pada level terendah hari itu atau hari sebelumnya, mana yang lebih rendah. Jika arah trend terkonfirmasi (uptrend). maka order buy Anda akan terkena, sebaliknya jika tidak konfirm maka order Anda tidak akan tereksekusi. Level exit bisa ditentukan secara manual ketika trend pada long term time frame (weekly) telah mulai berbalik arah dari bullish ke bearish, atau ketika terjadi divergensi bearish pada time frame patokan (daily) yang mengisyaratkan akan terjadinya pergantian trend dari bullish ke bearish. Prinsip yang sama bisa diterapkan untuk kondisi long term time frame yang bearish.

2. Elder Ray Index

Indikator oscillator yang digunakan pada layar kedua adalah Elder Ray Index, atau disingkat Elder Ray saja. Indikator ini dibuat oleh Dr. Elder berdasarkan konsep kekuatan bullish dan bearish dalam pasar. Kekuatan bullish mengukur kemampuan pasar untuk mendorong harga diatas harga rata-rata saat ini, sementara kekuatan bearish mengukur kemampuan pasar mendorong harga lebih rendah dari harga rata-rata sekarang.

Dengan menggunakan indikator trend following seperti MACD pada long term time frame weekly, maka trader bisa mengidentifikasi arah trend jangka panjang. Indikator Elder Ray digunakan untuk menentukan momentum entry. Jika pergerakan harga pada time frame weekly sedang bullish atau uptrend, maka trader hendaknya konsentrasi pada sinyal buy pada time frame 5-day (sesuai kaidah sistem triple screen), dan sebaliknya untuk pergerakan pasar yang sedang bearish atau downtrend. 

Indikator Elder Ray bisa diperoleh dari platform Metatrader dengan masuk ke Insert-Indicators-Oscillators-Bulls Power dan Bears Power. Periode default yang digunakan adalah 13. Berikut contoh Elder Ray pada EUR/USD time frame daily:

Sistem Trading Triple Screen

Sinyal Buy dan Sell

Dengan indikator Elder Ray, momentum untuk buy yang paling tepat adalah ketika pergerakan harga pada long term time frame sedang uptrend dan Bears Power berada pada area negatif (dibawah garis nol) namun arahnya sedang bergerak ke atas atau menuju ke garis nol. Jika time frame weekly sedang bullish, maka trader harus berkonsentrasi pada indikator Elder Ray intermediate time frame (5-day) dengan memperhatikan Bears Power pada area negatif yang sedang bergerak keatas. 

Hindari untuk membuka posisi buy ketika Bears Power berada pada area positif atau diatas garis nol. Seperti halnya jika kita menggunakan indikator Force Index, posisi buy hendaknya dibuka diatas level tertinggi pada hari tersebut, dalam hal ini bisa digunakan stop order (dengan buy stop). Sedang level stop loss bisa ditentukan pada level terendah hari itu atau hari sebelumnya, mana yang lebih rendah. 

Level exit bisa ditentukan secara manual saat Bears Power berada pada area positif dan menguat, serta Bulls Power berada di area negatif atau di area positif tetapi sedang melemah. Untuk sinyal sell berlaku sebaliknya, entry ketika time frame weekly downtrend (bearish) dan Bulls Power berada pada area negatif namun arahnya sedang bergerak ke atas. 

Sinyal entry bisa lebih akurat jika pada saat yang sama terjadi divergensi antara Bulls Power atau Bears Power dengan pergerakan harga. Divergensi bullish terjadi ketika Bears Power membentuk level-level bottom yang lebih tinggi tetapi harga gagal membentuk level low yang lebih rendah dari sebelumnya. Sebaliknya divergensi bearish terjadi ketika Bulls Power membentuk level-level bottom yang lebih tinggi tetapi harga gagal membentuk level high yang lebih tinggi dari sebelumnya.  

(Bersambung)

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.


Ulul Azmi
Maaf saya masih baru di forex, masih kurang ngerti dengan mencari momentum di time frame patokan kenapa berbeda ya dengan sinyal di tren jangka panjang? Contohnya yang dibagian terakhir itu , kam di weekly bullish, tapi kenapa cari di timeframe patokannya malah cari yang sedang turun? Kalau begitu nanti ordernya apa? Sell atau Buy?

Thanq
Martin S
@ Ulul Azmi:
Untuk mencari momentum entry yang tepat. Pada contoh tersebut trend jangka panjang tetap bullish, dan pada time frame yang lebih rendah tentu akan mengikuti. Kita ambil momentum saat selesainya koreksi untuk memperkecil kemungkinan salah.
Bam Heriadi
@Ulul: mencari momentum disini artinya mencari posisi yg pas buat entry buy. setelah tau sekarang trennya lagi up, entry buy bisa diposisikan pada momen yang tepat, dengan prinsip sell top buy bottom. artinya open sell ketika momentum harga sedang di atas dan open buy ketika harga sedang di bawah dengan indikasi bahwa ketika harga sudah mencapai momentum maka harga akan berbalik. jika bisa mendapatkan momentum yang tepat maka entry posisi dari suatu order juga akan memiliki peluang yang bagus. seperti pada kasus ini, kenapa yang dicari justru pada momentum gelombang yang sedang turun? itu karena pada saat itu ada kemungkinan harga akan berbalik ke atas dan entry buy yang ditempatkan di awal pergerakan itu pasti akan mendapat perolehan pip yang lebih banyak. jadi meskipun yang dicari adalah momen gelombang yang sedang turun, entry nantinya tetap di buy, sesuai dengan tren jangka panjangnya yaitu up.
Biantoro
wah kalo kayak gitu cara tradingnya berarti kita enggak ngikutin treng dong? katanya sbg treader perlu follow tren? yg enggak follow tren bukankah punya resiko yg lebih besar? kalo buat yg masih baru kan pasti kurang bisa analisa, jd apa tepat kalo tradingnya sprt itu?
Martin S
@ biantoro:
Tujuan cara tersebut adalah untuk mencari momentum entry yang tepat. Sebagai contoh trend jangka panjang tetap bullish, tetapi tentu ada koreksinya. Kita ambil momentum saat selesainya koreksi untuk memperkecil kesalahan.
Bam Heriadi
@Biantoro: Trading tetap mengikuti tren, karena tren yang diikuti adalah tren jangka panjang dari time frame yang lebih tinggi. Sementara pengambilan posisi entry memang bisa diterapkan dengan cara yang berbeda-beda, di atas saya hanya mencoba menjelaskan tentang pengambilan momentum sebagai salah satu metode entry order. Meski demikian secara keseluruhan cara di atas itu masih mengikuti tren karena trader hanya menunggu momen yang tepat untuk bisa open order sesuai tren di jangka panjang.
M_dawam
Ane trading harian berapa ya tf tf yang tepat buat ane?
Tolong saran para master buat masukan tf jangka panjang ma patokanya
Dn kalau ada short term berarti kan tfnya itu lebih kecil lagi dari tf patokan, itu fungsinya untuk apa?
Martin S
@ M_Dawam:
Anda bisa trading pada time frame 1 jam (H1) atau 4 jam (H4), dengan melihat patokan trend pada time frame daily.
Jika trading pada time frame H1, maka untuk momentum entry Anda bisa lihat di time frame M15 (15 menit), dan jika Anda trading pada time frame 4 jam (H4), momentum entry bisa dilihat pada time frame 30 menit (M30).