Stress? Siapa Butuh Trading Stress?

264585

Stress tentunya dapat dialami oleh siapa saja. Namun jangan sampai stress berlebihan agar tidak mempengaruhi trading Anda.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Itu dia pertanyaan besar untuk para trader, bagi Anda apakah kita perlu menjaga level trading stress? Apa kita harus selalu dalam kondisi meditatif tanpa gangguan dan tekanan sama sekali sebelum memasuki medan perang di pasar?

 

stress_management

 

Semisal dalam kasus kehidupan sehari-hari misalnya, saat ketika Anda bersepeda motor (atau pakai mobil) pulang ke rumah, tiba-tiba ada pengendara lain melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan untuk memotong jalur. Anda hanya memiliki jeda waktu sepersekian detik untuk menentukan aksi berikutnya.

Dalam waktu sepersekian detik tadi, kemampuan manusia untuk menangkap informasi dan merespon stimulus naik berlipat ganda karena reaksi berantai dari susunan syaraf pusat, hal itu hanya bisa terjadi setelah individu memasuki fase fight or flight. Simpelnya, Anda akan menjadi "superman" selama Anda berada dalam kondisi stress.

 

Stress Adalah Bagian Alami Dari Kehidupan

Pertanyaan dasar mungkin muncul di benak, "Mengapa kita harus mengalami stress jika ada pilihan untuk menghindarinya?"

Alasannya sederhana, anggap saja stress seperti mekanisme keran pada pipa tangki air. Aliran air pada umumnya akan dibiarkan mengalir dengan tekanan rendah untuk menjaga persediaan secara keseluruhan, namun jika dibutuhkan air bervolume besar dalam waktu sesingkat mungkin, keran akan diputar.

 

water valve

 

Sama halnya seperti pada kita, manusia memiliki "keran"-nya sendiri yang akan berputar otomatis seandainya ada situasi genting untuk dihadapi.

Kalau begitu kenapa kita tidak biarkan saja "keran" dalam posisi terbuka? Supaya alirannya terus lancar.

Ya, kembali ke konsep tanki air tadi, kalau keran dibiarkan terus terbuka yah sudah pasti persediaannya terkuras habis. Kering, dong. Sama seperti pada individu, jika dalam kondisi stress terus menerus kemungkinan besar dia akan kehabisan energi (fisik dan mental), kemungkinan akibatnya yah antara pingsan masuk rumah sakit umum atau depresi masuk rumah sakit jiwa.

 

Flight Or Fight Dalam Bertrading

Nah ini dia, bagiannya para trader. Trading stress sebenarnya selama dalam porsi level dapat ditolerir, bermanfaat besar karena kemampuan untuk menangkap informasi serta kesigapan dalam menerima perubahan berlipat ganda apabila dibandingkan ketika trader dalam kondisi "bangun tidur", hmm, maksudnya kondisi normal.

Tapi ingat, diperlukan risk management supaya kondisi mental mampu menerima kenyataan bahwa kalah (rugi) adalah bagian dari kegiatan trading. Trading stress akan mempercepat keputusan untuk mencari apa yang bisa Anda lakukan untuk meminimalisir atau mengelola kerugian.

Namun jika risk management buruk, justru stress akan mempercepat kondisi mental-blocking dan tak lama kemudian kepanikan akan menyusul.

Satu lagi catatan, stress tidak identik dengan frustrasi, frustrasi adalah tekanan mental ketika individu tidak mampu mencapai target atau goal, entah karena adanya hadangan eksternal ataupun internal. Misalnya dalam trading stress, gejala stress selalu terjadi lebih dahulu, dan apabila masalah tak kunjung terselesaikan atau target tak mampu dicapai (perubahan harga tak kunjung sesuai batas TP atau kerugian terlalu cepat menyentuh SL), trader jelas akan rentan merasakan frustrasi.

 

stress symtomp

Kesimpulannya, tenangkan alur berpikir ketika Anda mengalami gejala stress (detak jantung meningkat, muncul titik-titik keringat, irama nafas bertambah cepat, dsb). Gunakan momen trading stress tersebut untuk bertindak lebih tanggap.

Selamat ber-trading!

Rio Renata aktif menulis di Seputarforex sebagai penulis artikel forex dan broker dalam dua bahasa, khususnya mengenai aspek teknikal. Karena berlatar pendidikan psikologi, ia memandang pergerakan harga pasar layaknya dinamika perilaku individual, yaitu memiliki pola tertentu yang dapat diantisipasi.