Advertisement

iklan

Aksi Jual Saham Tekno China Mendongkrak Safe Haven

Penulis

+ -

Kemerosotan saham-saham teknologi China mengguncang sentimen pasar global yang sudah rapuh di tengah pandemi COVID-19.

iklan

iklan

Seputarforex - Mata uang safe haven memulihkan ketangguhannya dalam perdagangan awal sesi Eropa hari ini (27/Juli), meskipun sempat mengendur dalam perdagangan sesi New York dan pembukaan sesi Asia . Dolar AS unggul terhadap sebagian besar mata uang mayor, sementara USD/JPY melemah sekitar 0.3 persen ke kisaran 110.00.

Fluktuasi sentimen risk-on/risk-off terus berlanjut di tengah masih maraknya pandemi COVID-19. Sementara itu, pengetatan regulasi pemerintah China atas saham-saham sektor teknologi telah memicu badai baru.

USDJPY Daily Grafik  USD/JPY Daily via Tradingview.com

Indeks saham A50 China hari ini jatuh lagi sebesar 6 persen, setelah sempat merosot 4 persen pada hari Senin kemarin. Harga saham Tencent bahkan ambruk 10 persen tadi pagi. Dinamika ini merupakan konsekuensi dari pengetatan kebijakan China selama beberapa bulan terakhir.

"Tindakan baru-baru ini, termasuk raksasa teknologi Tencent diperintahkan untuk mengakhiri beragam kontrak lisensi musik global, demikian pula implementasi larangan bagi perusahaan edukasi untuk menghimpun modal di pasar ekuitas, yang juga akan mencegah investasi asing dalam sektor tersebut," kata Michael Brown, analis pasar senior di CaxtonFX.

"Ruang internet China telah dibebani oleh ketidakpastian regulasi sejak suspensi IPO Ant (Alibaba) pada November tahun lalu. Penindakan keras atas aplikasi ride-hailing Didi menjelang IPO-nya di AS, menambah panjang daftar tindakan yang telah diambil oleh regulator China untuk membatasi praktik anti-persaingan oleh perusahaan-perusahaan dalam bidang ini," ujar Mislav Matejka, seorang analis di JP Morgan.

Langkah pemerintah China mengakibatkan investor asing merugi dan memaksa mereka mengurangi penanaman modal di negeri Panda. Efeknya memperburuk sentimen pasar keuangan global yang sudah digerogoti oleh virus SARS-COV-2 varian Delta. Sebagian besar indeks saham global memerah saat ini, sehingga mendorong kenaikan pamor aset-aset safe haven -termasuk USD dan JPY-.

Greenback melemah terhadap yen Jepang. Sebaliknya, greenback unggul terhadap dolar Australia yang sering dianggap sebagai proxy China di pasar forex. Selama lebih dari sepekan terakhir, AUD/USD tertekan pada rentang terendah sejak Desember 2020.

Untungnya, para analis memperkirakan efek samping dari gejolak sektor tekno China kali ini bakal bersifat terbatas saja. Masalahnya, pengetatan kebijakan pemerintah China telah berlangsung selama beberapa bulan dan sebenarnya bukan merupakan berita baru lagi. Pasar kemungkinan akan segera mengesampingkan isu ini ketika muncul katalis yang lebih signifikan, misalnya perubahan kebijakan Federal Reserve atau penurunan jumlah kasus baru COVID-19.

Download Seputarforex App

296114
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC   |   Smartphone

AWAS
Grup Telegram Palsu Mengatasnamakan Seputarforex!

Baca Selengkapnya Di Sini