OctaFx

iklan

Dukung Euro, Menkeu Uni Eropa Sepakati Pentingnya Stimulus Fiskal

Selagi menantikan perkembangan negosiasi dagang AS-China, Euro mendapatkan dukungan dari eksternal dan internal kawasan Uni Eropa.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Euro meroket hingga 0.45 persen ke kisaran 1.1020 versus Dolar AS pada pertengahan sesi Eropa hari ini (10/Oktober), sekaligus mencetak rekor tertinggi dua pekan. Apresiasi Euro didukung oleh depresiasi Dolar AS seusai rilis notulen rapat FOMC yang bernada pesimistis serta antusiasme pasar menantikan hasil negosiasi dagang AS-China. Euro juga menguat terhadap sejumlah mata uang mayor lain, lantaran sepercik optimisme yang merebak dari pertemuan para menteri keuangan Uni Eropa.

EURUSD DailyGrafik EUR/USD Daily via Tradingview.com

Presiden Eurogroup, Mario Centeno, mengatakan kepada media bahwa para menteri keuangan Uni Eropa telah setuju untuk membelanjakan anggaran lebih banyak "jika memungkinkan" untuk mengatasi masalah perlambatan ekonomi dan meningkatnya ancaman terhadap outlook ekonomi kawasan. Ancaman-ancaman yang dimaksud antara lain eskalasi sengketa dagang antara AS dan China, potensi penerapan tarif pada otomotif Eropa yang diekspor ke AS, serta ketegangan geopolitik.

"Kami setuju bahwa apabila ada perlambatan yang lebih nyata, kami semestinya tidak mengetatkan kebijakan (fiskal) dan memperburuk situasi. Apabila memungkinkan, posisi fiskal kami harus lebih akomodatif," kata Centeno.

Selain itu, para menteri keuangan Uni Eropa juga menyetujui rincian sebuah anggaran kecil untuk investasi dan reformasi Zona Euro yang akan diluncurkan mulai 2021. Anggaran itu direncanakan sebesar 17 Miliar Euro, dan bisa ditingkatkan lagi melalui Intergovernmental Agreement (IGA).

Presiden European Central Bank (ECB) Mario Draghi telah berulangkali menghimbau negara-negara anggota agar meluncurkan stimulus fiskal dan melakukan reformasi struktural, karena stimulus moneter saja tak mampu menanggulangi perlambatan ekonomi. Akan tetapi, pemerintah yang berkuasa di berbagai negara Uni Eropa enggan melakukannya, karena peningkatan belanja anggaran untuk stimulus fiskal dapat mendorong kenaikan utang negara dan defisit anggaran.

Macetnya pertumbuhan ekonomi kawasan saat ini boleh jadi mendesak mereka untuk segera bertindak. Pada hari Rabu, menteri keuangan Jerman dan Belanda mengatakan bahwa pemerintahnya sudah mulai membelanjakan lebih banyak anggaran, setelah bersikukuh menjalankan anggaran surplus selama bertahun-tahun.

Terlepas dari berita ini, pelaku pasar masih memantau perkembangan negosiasi dagang AS-China dan terus mengukur kesungguhan AS untuk memicu perang dagang baru dengan Uni Eropa. Prospek positif semakin meningkat setelah pejabat China mengungkapkan kesediaan untuk menandatangani kesepakatan parsial, tetapi AS belum mengungkapkan pendapat mengenainya. Sementara itu, para petinggi Uni Eropa masih mengekspresikan pendapat berbeda-beda tentang ancaman kenaikan tarif impor otomotif oleh AS.

290487

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.