Advertisement

iklan

Euro dan Franc Swiss Unjuk Gigi, Dolar AS Amblas

Penulis

+ -

Euro dan Franc Swiss unggul berkat pernyataan pejabat bank sentral terkait rencana kenaikan suku bunga dalam tahun ini. Sementara itu, dolar AS rontok akibat beragam faktor.

iklan

iklan

Seputarforex - Indeks dolar AS (DXY) amblas ke kisaran 102.90-an kemarin, seiring dengan beragam perubahan dalam pasar keuangan global. Minat risiko semakin membaik seusai pelonggaran lockdown Shanghai, sehingga mata uang berisiko lebih tinggi mampu membukukan penguatan lanjutan. Sementara itu, Euro dan Franc Swiss melambung drastis berkat pernyataan pejabat bank sentral terkait rencana kenaikan suku bunga dalam tahun ini.

DXY Daily Grafik DXY Daily via TradingView

 

ECB Bakal "Rate Hike" 50 Persen?

Gubernur bank sentral Belanda, Klaas Knot, mengatakan dalam sebuah wawancara kemarin bahwa ECB sebaiknya menaikkan suku bunga sebanyak 25 basis poin pada bulan Juli mendatang demi mengendalikan laju inflasi yang kian meninggi. Ia bahkan menambahkan, "Kenaikan (suku bunga) lebih besar juga semestinya tak dikesampingkan... langkah logis berikutnya akan berjumlah (mencapai) 0.5 persen."

Analis memperkirakan ECB akan menaikkan suku bunga pada rapat bulan Juli, September, dan Desember; tetapi ada pula kemungkinan ECB akan menaikkan suku bunga beruntun pada setiap rapat kebijakan sepanjang sisa tahun ini. Alhasil, EUR/USD langsung meroket hingga menyentuh 1.0600, rekor tertingginya dalam sepekan terakhir. Euro juga memanfaatkan kesempatan untuk menguat terhadap sejumlah mata uang mayor lain, kecuali Franc Swiss.

 

Rebound CHF Berbekal Kisi-Kisi Pentolan Bank Sentral

Franc Swiss menorehkan penguatan signifikan terhadap beragam mata uang mayor lain sepanjang pekan ini, meskipun sentimen risk-on kembali marak. Pasalnya, Presiden SNB Thomas Jordan mengatakan bahwa pihaknya "siap bertindak" jika risiko inflasi meningkat.

Laju inflasi Swiss mencapai 2.5 persen pada bulan April 2022. Itu merupakan rekor tertingginya dalam 14 tahun terakhir, sekaligus telah melampaui target stabilitas harga SNB yang sebesar 0-2.0%.

Jordan menambahkan bahwa ia memperkirakan laju inflasi Swiss akan surut kembali ke rentang target dengan sendirinya (tanpa intervensi kebijakan). Namun, sejumlah analis mensinyalir SNB akan memanfaatkan momen "ECB rate hike" untuk ikut-ikutan menaikkan suku bunga. Alasannya karena kenaikan suku bunga ECB dapat memicu instabilitas nilai tukar EUR/CHF lebih lanjut, sehingga SNB perlu ikut serta dalam "lomba rate hike" demi menjaga stabilitas.

"Jika ECB mulai menaikkan suku bunga pada Juli, lalu pada September, dan sekali lagi pada pergantian tahun sesuai ekspektasi kami, maka SNB semestinya mengikuti," kata Chris Turner dan Charlotte de Montpellier dari ING, "Kami memperkirakan kenaikan suku bunga SNB pertama sebesar 25 basis poin pada rapat September, (kenaikan) kedua pada Desember, dan (kenaikan) terakhir pada Maret 2023. Di saat yang sama, SNB kemungkinan terus mengungkapkan kesiapannya untuk melaksanakan intervensi di pasar forex ketika dipandang perlu, walaupun hal itu akan membuat Franc Swiss menjadi lebih mahal secara nominal karena selisih inflasi kemungkinan akan tetap tinggi..."

 

Yield Obligasi AS Melempem

Dolar AS juga luluh terhadap trio dolar Komoditas dan pound sterling. Mata uang-mata uang high risk tersebut mengambil kesempatan untuk rebound di tengah perbaikan sentimen pasar. Para trader dan investor kini mempertanyakan apakah ketakutan terhadap perlambatan ekonomi global sudah terlalu berlebihan. Apalagi, iklim makroekonomi pasca lockdown Shanghai semestinya kian kondusif dengan bantuan berbagai stimulus dari pemerintah China.

Latar belakang seperti ini mendorong yield obligasi US Treasury turun ke level terendah tiga pekan, sehingga ikut menyeret kurs dolar AS. Greenback berupaya bangkit kembali dalam perdagangan sesi Asia hari Jumat ini (20/Mei), tetapi masih tertekan pada rentang terendah 12 hari.

"Dolar sudah waktunya mengalami pullback," kata Edward Moya, analis senior OANDA, dalam sebuah catatan yang dikutip oleh Reuters, "Secara keseluruhan, pelemahan mungkin berlangsung sedikit lebih lama."

Terlepas dari itu, sejumlah analis memeringatkan agar jangan terburu-buru menganggap reli dolar AS sudah tamat. Analis dari Westpac mencatat, "Masih terlalu dini untuk menentukan (dolar AS telah melewati) puncak tertinggi jangka panjang, di tengah kondisi pasar global yang tak menentu dan ketegasan The Fed (untuk menaikkan suku bunga secara agresif -red)."

Download Seputarforex App

297726
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.