Advertisement

iklan

Inflasi AS Karam, Kurs Dolar Tenggelam

Penulis

+ -

Data inflasi AS tercatat negatif untuk pertama kalinya sejak Mei 2020, sehingga kurs dolar AS keok terhadap berbagai mata uang mayor lain.

iklan

iklan

Seputarforex - Laporan inflasi Amerika Serikat periode Desember 2022 menunjukkan pertumbuhan bulanan di bawah nol, sehingga pelaku pasar makin yakin The Fed akan menghentikan siklus kenaikan suku bunganya pada kuartal pertama tahun ini. Konsekuensinya, kurs dolar AS longsor dalam perdagangan sesi New York hari Kamis (12/Januari).

Indeks dolar AS (DXY) sempat jatuh nyaris 1 persen sampai kisaran 102.30-an. USD/JPY anjlok lebih dari 2 persen sampai 129.60-an. Sementara itu, EUR/USD malah melejit hingga sempat 'mencium' rekor tertinggi sembilan bulan pada 1.0838.

DXY Daily Grafik DXY Daily via TradingView

 

Tren Inflasi AS Menurun Secara Berkelanjutan

Data inflasi AS tercatat -0.1 persen (Month-over-Month) pada Desember 2022. Para ekonom sebelumnya memperkirakan pertumbuhan nol persen.

Ini merupakan laju inflasi CPI bulanan yang negatif untuk pertama kalinya sejak Mei 2020. Data juga mencerminkan tren penurunan yang solid dan berkelanjutan, dengan laju inflasi tahunan terseret dari 7.1 persen sampai 6.5 persen.

Data Inflasi Amerika Serikat

Tren penurunan inflasi seperti ini mendukung ekspektasi pasar untuk diakhirinya siklus kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Kendati skema dot plot dari rapat FOMC Desember menunjukkan proyeksi suku bunga terminal di atas 5 persen, penurunan inflasi yang signifikan membuka kemungkinan The Fed berhenti menaikkan suku bunga sebelum mencapai tingkat tersebut.

"Angka inflasi inti yang relatif lebih lemah selama tiga bulan (berturut-turut) mulai membentuk sebuah tren...suatu tren yang dapat mendorong The Fed untuk memperlambat laju pengetatan lebih lanjut (dalam rapat FOMC berikutnya) pada tanggal 1 Februari," kata Sal Guatieri, ekonom senior di BMO Capital Markets.

 

Yen dan Euro Terkerek Spekulasi Baru

Kurs dolar AS juga terpukul oleh beberapa berita lain terkait dua rival utamanya, yakni euro dan yen. Berlawanan dengan proyeksi suku bunga The Fed yang kian dovish, bias kebijakan bank sentral Eropa (ECB) dan Jepang (BoJ) justru makin agresif.

Yomiuri melaporkan bahwa rapat BoJ pekan depan akan meninjau efek samping dari kebijakan moneter longgar yang telah diberlakukan selama beberapa tahun terakhir. Selain itu, BoJ kemungkinan akan mengambil langkah untuk "meralat" distorsi dalam kurva yield yang timbul sebagai akibat dari kebijakan tersebut.

"Laporan semalam menekankan bahwa rapat BoJ pekan depan membuka kemungkinan perubahan kebijakan," kata Chris Turner dari ING, sebagaimana dilansir oleh Reuters, "Anda (mungkin) dapat mulai melihat normalisasi kebijakan moneter yang akan menjadi langkah besar bagi Jepang (dan) sebuah angin positif bagi yen."

Sejumlah pejabat tinggi ECB baru-baru ini menyampaikan himbauan terbuka agar suku bunga dinaikkan lebih tinggi lagi demi menekan inflasi. Laju inflasi Zona Euro telah mengalami penurunan beruntun selama tiga bulan terakhir di tahun 2022, tetapi tingkat inflasi utama masih berada di atas 9 persen.

"Ekspektasi kami adalah untuk menaikan suku bunga sebanyak 125 basis poin lagi dari ECB dan kemudian tingkat suku bunga tetap tinggi sampai 2024," imbuh Turner, "Pandangan inti kami untuk kebijakan The Fed versus ECB mengarah pada EUR/USD yang lebih kuat sepanjang tahun ini."

Download Seputarforex App

298829
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.