Advertisement

iklan

Prediksi Forex 2022: Apakah Dolar AS Bakal Terus Berjaya?

Penulis

+ -

Fokus pasar forex tahun 2022 kemungkinan akan terpusat pada kebijakan bank sentral. Dolar AS tetap perkasa, sedangkan yen dan euro berprospek paling bearish.

iklan

iklan

Topik COVID-19 mendominasi pasar selama 2020-2021. Meskipun tingkat vaksinasi terus meningkat, varian-varian baru COVID-19 menghadirkan ketidakpastian terhadap outlook ekonomi dan keuangan global. Bagaimana dengan tahun 2022?

Mayoritas analis meyakini pelaku pasar akan semakin mengesampingkan perkara COVID-19. Pasalnya, pemerintah dari negara mana pun akan segan menghambat pemulihan ekonomi mereka demi lockdown yang belum tentu mampu menumpas penyebaran virus. Di sisi lain, laju inflasi yang terus membubung tinggi juga memerlukan penanganan segera.

Dengan mengesampingkan pandemi dan krisis finansial, kurs mata uang biasanya paling terpengaruh oleh kebijakan moneter. Tren nilai tukar mencerminkan arah kebijakan moneter dari bank sentral yang mengatur peredaran mata uang terkait. Oleh karena itu, fokus pasar forex tahun 2022 kemungkinan besar akan terpusat pada kebijakan bank sentral.

Prediksi Forex 2022

Dalam rangka mengatasi lonjakan inflasi, mayoritas bank sentral kemungkinan akan segera mengetatkan kebijakan moneter mereka. Dua langkah penting menuju arah kebijakan hawkish ini: mengurangi program pembelian obligasi (Quantitative Easing) dan menaikkan suku bunga. Proyeksi sementara menunjukkan empat bank sentral terdepan dalam pengetatan moneter secara berturut-turut adalah Federal Reserve AS, Bank of Canada (BoC), Bank of England (BoE), dan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ).

Di tengah tren "rate hike", sejumlah bank sentral utama masih memberlakukan kebijakan moneter longgar. Bank-bank sentral dovish ini berkaitan dengan mata uang-mata uang ber-yield rendah, khususnya yen Jepang dan euro. European Central Bank (ECB) dan Bank of Japan (BoJ) telah mencanangkan rencana untuk memangkas program pembelian obligasi masa pandemi-nya, tetapi masih mempertahankan Quantitative Easing dalam jumlah besar dan terus menekan suku bunga pada kisaran nol.

Latar belakang di atas mendasari lima prediksi forex 2022 sebagai berikut:

 

1. EUR/USD: Bearish

Kurs EUR/USD membuka perdagangan awal tahun 2022 pada level 1.1373, lalu merosot ke 1.1295 dalam tiga hari berikutnya. Posisinya sementara ini tertopang oleh optimisme seputar pandemi dan kedatangan pasokan gas dari Amerika. Namun, apakah masa konsolidasi ini akan bertahan lama?

EURUSD Monthly

Analis dari Danske Bank menilai "puncak" euro sudah berlalu dan kemerosotan bakal berlanjut. Mereka bahkan menyebut "jual euro" sebagai ide trading paling top untuk 2022.

"2022 kemungkinan akan mengungkap lebih banyak dari histori terbaru. Lembaga-lembaga Eropa melaksanakan kebijakan yang negatif bagi EUR dalam perjuangan mereka melawan Covid-19, yang akan memiliki konsekuensi negatif di luar krisis Covid-19 itu sendiri," kata Kristoffer Kjær Lomholt, Kepala Analis Danske Bank.

Credit Suisse dan Wells Fargo juga berpandangan bullish terhadap USD versus euro, karena selisih yield tetap menguntungkan dolar AS dalam jangka panjang. Credit Suisse memproyeksikan EUR/USD bakal mencapai 1.1150. Sedangkan Wells Fargo memprediksi EUR/USD jatuh ke sisi terbawah dalam rentang 1.05-1.10.

 

2. USD/JPY: Bullish

Yen Jepang tercatat sebagai mata uang G10 berkinerja terburuk sepanjang 2021. Kurs USD/JPY hari ini (5/Januari) bertengger pada kisaran 116.00. Laju relinya mungkin akan tertahan untuk berkonsolidasi dalam rentang saat ini selama jangka pendek, tetapi prospek ke depan tetap pro-USD -kecuali jika pemerintah Jepang mendadak berubah jadi anti pelemahan yen-.

USDJPY Monthly

Arah kebijakan BoJ menjadi beban terbesar bagi yen Jepang. BoJ kemungkinan takkan mampu mengakhiri Quantitative Easing hingga bertahun-tahun ke depan, sehingga prospek suku bunga juga takkan mengalami perubahan signifikan. Laju inflasi Jepang pun tetap jauh dari target bank sentral meskipun di tengah tren kenaikan inflasi yang berskala internasional. 

Tim analis dari ING menuliskan dalam catatan akhir tahun 2021, "Yang telah mendorong JPY lebih lemah adalah lingkungan yang cukup ramah untuk aset berisiko, suku bunga AS yang lebih tinggi, dan lonjakan (harga komoditas) energi baru-baru ini. Meskipun tim kami memprediksi energi (akan) terkoreksi lebih rendah memasuki tahun depan (Brent menjadi USD75/barel), suku bunga AS tampaknya akan naik lebih tinggi dan ekuitas mungkin tetap tertopang, kalau bukan malah mengulangi kenaikan kuat tahun ini. (Situasi) ini akan membuat USD/JPY ter-support di dekat 115.00, dengan ruang untuk tembus menuju 120, karena The Fed berpotensi memulai siklus pengetatannya pada musim panas mendatang."

 

3. GBP/USD: Netral

Kurs GBP/USD sempat menyentuh rekor tertinggi multi-tahun pada level 1.4250 di bulan Juni 2021, tetapi saat ini (5/Januari) sudah kembali surut ke kisaran 1.3530-an. Proyeksi sterling tahun 2022 tak kalah ruwetnya dengan tarik-ulur tahun lalu.

GBPUSD Monthly

Faktor-faktor yang dapat memengaruhi GBP/USD kelak lebih tak menentu dibandingkan mata uang mayor lain. Carut-marut brexit, situasi politik domestik, ditambah retorika kebijakan BoE yang lebih plin-plan ketimbang bank sentral lain. Sengketa Inggris-Uni Eropa terkait protokol Irlandia Utara belum usai, sementara rumor seputar referendum kemerdekaan Skotlandia babak dua sudah mulai mengemuka.

Sebagian bank investasi berpandangan bearish terhadap sterling . BMO Capital Markets bahkan memproyeksikan GBP/USD akan mencapai 1.29 dalam 3 bulan dan 1.32 dalam 12 bulan mendatang. Namun, tak semua analis sepakat.

Chris Turner dan Francesco Pesole dari ING mencatat, "Ini bukan pandangan yang populer, tetapi kami pikir GBP dapat menahan serangan dolar yang kuat, lebih baik daripada beberapa (mata uang lain). Kami ragu Cable akan diperdagangkan jauh di bawah 1.30, dan memperkirakan pengetatan awal BoE akan menopang GBP. Dalam satu tahun di mana lingkungan eksternal bisa menjadi lebih menantang (suku bunga AS yang lebih tinggi, kemudian dalam siklus ekonomi), Inggris tidak terlihat rentan seperti yang mungkin dipikirkan beberapa orang."

 

4. USD/CAD: Bearish

Kurs USD/CAD saat ini (5/Januari) beredar pada kisaran 1.2700. USD/CAD pada awal tahun 2021 lalu bermula dalam rentang 1.2700-an, kemudian anjlok sampai 1.2000-an, disusul dengan rebound kencang sejak pertengahan tahun hingga sempat mendekati 1.3000 pada Desember. Bagaimana dengan kurs USD/CAD setahun ke depan?

USDCAD Monthly

Reli harga minyak kemungkinan bakal termoderasi dalam tahun 2022, sehingga tak berkontribusi positif lagi bagi dolar Kanada. Namun, pemulihan AS cenderung menguntungkan bagi negeri jirannya (AS berstatus importir minyak Kanada). BoC juga termasuk bank sentral paling hawkish, sehingga dapat menyokong kurs Loonie.

"Di Kanada, pasar tenaga kerja sudah berada pada tingkat pra-pandemi, investasi pesat terus mendukung prospek pertumbuhan dan kampanye vaksinasi yang sangat sukses memungkinkan pelonggaran kebijakan pembatasan yang sejauh ini sangat ketat. Dengan menambahkan (pertimbangan) bahwa permintaan dari negara tetangga AS untuk ekspor Kanada kemungkinan akan terus meningkat, dan pemerintah Trudeau berjanji untuk menjaga kebijakan fiskal longgar lebih lama, kisah ekonomi domestik akan tetap positif untuk CAD, dan melindunginya secara parsial dari gelombang risk-off maupun apresiasi USD," papar ING.

Sejumlah pelaku pasar memprediksi BoC bakal mengumumkan rencana "rate hike" dalam rapat kebijakan pada akhir bulan Januari ini. Sedangkan sebagian analis berpendapat kenaikan suku bunga BoC pertama kemungkinan hadir pada kuartal kedua atau kuartal ketiga. ING memperkirakan USD/CAD tahun 2022 akan cenderung menghuni sisi bawah dalam rentang 1.20-1.25.

 

5. AUD/USD: Netral

Kurs AUD/USD masuk klasemen pecundang tahun lalu, dan masih tertekan pada kisaran 0.7230-an pada awal Januari ini. Tapi depresiasi Aussie justru menjadikannya salah satu mata uang yang paling undervalue terhadap USD. Alhasil, kurs AUD/USD punya ruang untuk reli paling tinggi ketika minat risiko pasar pulih pada tahun 2022. Sayangnya, Aussie punya latar belakang fundamental yang lebih rumit.

AUDUSD Monthly

Risiko yang membayangi dolar Australia jauh lebih kompleks daripada mata uang lain. Pertama, harga komoditas kemungkinan bakal menurun pada tahun 2022 - atau setidaknya, tidak akan melambung setinggi tahun 2021. Kedua, prospek pertumbuhan dan kebijakan China akan terus memengaruhi perekonomian dan nilai tukar Aussie. Ketiga, bank sentral Australia belakangan ini terkesan lebih berhati-hati dalam berkomentar tentang tapering dan suku bunga .

ING merangkumnya dengan bernas, "AUD juga mata uang yang paling oversold dalam G10 dan punya ruang paling luas untuk cuan dari short-squeeze pada masa-masa risk-on. Namun, AUD bisa dibilang menghadapi risiko penurunan terbesar di antara mata uang komoditas G10 karena eksposurnya yang besar terhadap sentimen terkait China dan potensi penurunan komoditas. Bahkan dengan asumsi hanya sedikit dari risiko tersebut yang terwujud, AUD/USD tampaknya sangat tidak mungkin kembali ke tertinggi tahun 2021 pada 0.80 di tahun depan (2022)."

Download Seputarforex App

297080

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC   |   Smartphone

AWAS
Grup Telegram Palsu Mengatasnamakan Seputarforex!

Baca Selengkapnya Di Sini