Advertisement

iklan

Carut Marut Ekonomi Rusia Dan Sanksi Internasional Tak Palingkan Putin Dari Crimea

Para pejabat teras Rusia dan kaum konglomerat di negara yang beribukota di Moskow ini masih dihebohkan dengan masalah sanksi dari Barat yang berpotensi mengacaukan perekonomian serta bisnis-bisnis besar mereka. Namun pihak dalam mengatakan bahwa Presiden Vladimir Putin tak mempedulikan masalah tersebut, sehingga para "big boys" Rusia makin meradang.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Para pejabat teras Rusia dan kaum konglomerat di negara yang beribukota di Moskow ini masih dihebohkan dengan masalah sanksi dari Barat yang berpotensi mengacaukan perekonomian serta bisnis-bisnis besar mereka. Namun pihak dalam mengatakan bahwa Presiden Vladimir Putin tak mempedulikan masalah tersebut, sehingga para "big boys" Rusia makin gempar.

putin_rusia

Konglomerat Rusia Menjerit
Tak dapat dipungkiri, ambisi Pemimpin Rusia yang terus memfokuskan perhatiannya untuk kembali menguasai wilayah bagian Ukraina, Crimea, tak peduli seberapa banyak biaya yang dikeluarkan, menimbulkan dampak yang mau tak mau dirasakan oleh hampir semua pihak terutama para usahawan-usahawan besar.

"Semua pihak mengkhawatirkan sanksi yang akan dijatuhkan,"demikian ungkap salah seorang pejabat pemerintah. "Sayangnya, tak ada cara untuk menyampaikan hal ini 'yang berkuasa' karena beliau dikelilingi oleh para loyalis.

Semenjak angkatan bersenjata Rusia menduduki Crimea pada tanggal 28 Februari, pasar-pasar di Moscow terjun bebas ke level-level rendah yang belum pernah terjadi sejak krisis ekonomi global, dengan 50 besar perusahaan yang mengalami kerugian kapital sebesar $110 Miliar. Mata uang Rusia, Rubel, pun bernasib sama dengan perusahaan-perusahaan tersebut. Rubel telah menyentuh rekor rendah dan para ahli ekonomi pun memangkas prediksi pertumbuhan mereka lebih dari setengah. Disadari atau tidak, fenomena ini terjadi sebelum sanksi tersebut benar-benar dijatuhkan, bisa dibayangkan bagaimana saat sanksi sudah benar-benar diberlakukan.

Meningkatnya kegugupan bisnis dalam komunitas bisnis Rusia muncul saat pemimpin-pemimpin Barat mengangkat isu mengenai ancaman sanksi yang akan dijatuhkan pada Rusia menanggapi referendum di Crimea untuk memisahkan diri dari Ukraina dan bergabung dengan Rusia.

Sanksi Internasional
Bahkan, Kanselir Jerman, Angela Merkel kemarin telah mendesak Rusia untuk segera mengubah strateginya pada Ukraina, atau Rusia akan dilanda bencana kerusakan ekonomi dan politik secara besar-besaran. Organisasi Perkembangan Dan Kerja Sama Ekonomi Dunia (OECD) pun menunjukkan ketidaksetujuannya pada tindakan Rusia atas Ukraina dengan menahan proses pengajuan Rusia untuk bergabung ke OECD. Selain Merkel, pada hari Rabu lalu, Mensesneg AS, John Kerry, memperingatkan bahwa sanksi yang akan dijatuhkan oleh pihak Barat ini tak main-main. Kemungkinan-kemungkinan terburuk akan terjadi dengan cepat. Selain itu, Presiden Barrack Obama juga menegaskan bahwa ancaman sanksi ini mulai dirasakan mendalam di Moscow.

Dendam Sejarah Lebih Penting Daripada Runtuhnya Ekonomi
Bagaimana reaksi Putin? Presiden Rusia ini tampak tak gentar. Beliau masih belum menujukkan iktikad untuk mengubah haluan dan menganggap sanksi ekonomi tersebut hanyalah gertak sambal. Bahkan, keluhan-keluhan dan reaksi kekhawatiran yang dilayangkan oleh para pejabat Rusia sendiri pun tak digubris. Para pengusaha terus berupaya menjalin komunikasi dengan pemerintah, dan berharp dapat duduk bersama dengan Putin untuk membicarakan hal ini. Namun, hasil jerih payah mereka masih nihil.

Spekulasi yang santer berhembus dari pejabat pemerintahan menyebutkan bahwa Putin tak akan mau melewatkan "kesempatan emas" untuk membalaskan dendam historis demi merebut kembali Crimea yang terpaksa diserahkan ke Ukraina pada tahun 1954. Di mata Putin, kemungkinan terburuk yang akan melanda perekonomian negaranya tak bisa dibandingkan dengan kepuasan yang diperoleh jika dapat merebut kembali Crimea nanti.

165815

SFN merupakan hasil kerjasama beberapa personel tim Seputarforex untuk mengulas berita-berita terkini di bidang forex maupun saham.


18 Jul 2019

15 Jul 2019