Dolar AS Melemah Pasca Data Ketenagakerjaan AS

Setelah data-data ketenagakerjaan AS diumumkan, Dolar AS mengalami penurunan. Akan tetapi, pergerakan Dolar masih didukung oleh pengaruh kenaikan suku bunga The Fed.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Dolar AS melemah dalam situasi perdagangan yang choppy di hari Jumat (05/Okt) malam ini, setelah data Ketenagakerjaan AS menunjukkan hasil yang beragam. Di satu sisi, data NFP AS dan pertumbuhan upah melambat. Namun di sisi lain, tingkat pengangguran turun drastis.

 

Rilis Trio Data Ketenagakerjaan AS

Data Non Farm Payroll AS untuk bulan September 2018 terjun ke level terendah sejak setahun terakhir. Sementara itu, angka pendapatan rata-rata per jam naik 8 sen atau sekitar 0.3 persen pada bulan September. Dibandingkan dengan bulan September tahun lalu, data Pendapatan Rata-Rata per jam tahun ini lebih rendah dan menyeret angka rata-rata tahunannya turun dari 2.9 persen ke 2.8 persen. Tingkat Pengangguran AS turun ke 3.7 persen pada bulan September, setelah dua bulan berturut-turut di level 3.9 persen. Untuk diketahui, Tingkat Pengangguran AS kali ini adalah yang terendah sejak bulan Desember 1969.

unemplyment

Menanggapi rilis paket data ketenagakerjaan AS kali ini, ekonom senior Ameriprise Financial Services, Russell Price, mengungkapkan bahwa Inflasi upah merangkak naik, tetapi tidak berakselerasi seperti yang ditakutkan oleh pasar.

 

Indeks Dolar Turun Terbatas

Menyusul laporan NFP, upah pekerja, dan Tingkat Pengangguran AS untuk bulan September 2018, Indeks Dolar (DXY) turun dari kisaran 95.770 ke 95.645. Saat berita ini ditulis, DXY tampak bergerak dalam volatilitas tinggi di time frame 1-jam; setelah melemah ke 95.59, Indeks Dolar berhasil naik kembali ke angka 95.74, lalu tertekan lagi di area 95.71.

dxy

Penurunan Indeks Dolar yang terbatas disebabkan oleh masih tingginya ekspektasi kenaikan suku bunga AS sekali lagi  di tahun ini. Langkah itu pun juga disinyalkan oleh Ketua The Fed Jerome Powell dalam pidato-pidatonya pekan ini, sehingga yield obligasi US Treasury naik. "Jelas bahwa kenaikan yield obligasi US Treasury menciptakan penambahaan permintaan terhadap Dolar AS," kata Dean Popplewell, analis OANDA di Toronto.

285606

Sudah aktif berkecimpung di dunia jurnalistik online dan content writer sejak tahun 2011. Mengenal dunia forex dan ekonomi untuk kemudian aktif sebagai jurnalis berita di Seputarforex.com sejak tahun 2013. Hingga kini masih aktif pula menulis di berbagai website di luar bidang forex serta sebagai penerjemah lepas.