OctaFx

iklan

USD/JPY Tergelincir, Pakar Waspadai Anomali Bursa Jepang Lagi

Para pakar memeringkatkan pelaku pasar agar mewaspadai kemungkinan terjadinya anomali dalam USD/JPY dan pair cross Yen lain akibat minimnya likuiditas.

acy

iklan

Advertisement

iklan

Pada sesi Asia hari ini (23/April), pasangan mata uang USD/JPY sempat terguling hingga mencetak level terendah harian pada 111.65. Namun, Greenback rebound balik dengan cepat, hingga mencapai kisaran 111.87 saat berita ditulis pada awal sesi Eropa. Analis memperkirakan kalau pergolakan tersebut tidak dilandasi oleh faktor fundamental maupun teknikal tertentu yang cukup kuat. Di sisi lain, para pakar manajemen risiko memeringkatkan pelaku pasar agar mewaspadai kemungkinan terjadinya anomali dalam pergerakan JPY pairs akibat minimnya likuiditas.

USDJPY Daily

 

"Risk-off" Di Bursa Jepang

Volatilitas pasar tampak mulai menggeliat dengan dibukanya kembali bursa Australia dan New Zealand seusai perayaan Paskah. Namun, pergerakan masih minim karena kurangnya katalis. Di tengah lanskap pasar seperti ini, kemerosotan USD/JPY tadi pagi menjadi bahan perbincangan. 

Masafumi Yamamoto, pakar strategi mata uang di Mizuho Securities, mengatakan kepada Reuters bahwa ia menilai tak ada penggerak kuat yang mengakibatkan kejatuhan Greenback. Lebih lanjut, ia mensinyalir kalau pergerakan USD/JPY tersebut dipicu oleh minat risk-off di pasar ekuitas Jepang. Menurutnya, penguatan Yen terhadap Dolar AS akan temporer saja selama bank-bank sentral di seluruh dunia tetap memilih untuk menunda kenaikan suku bunga.

"Nada (bicara) bank-bank sentral yang relatif dovish tengah mendukung aset-aset berisiko lebih tinggi," kata Yamamoto, "Itulah mengapa Dolar/Yen (mengalami kenaikan selama beberapa waktu lalu) dengan bantuan minat risiko trading yang tinggi. Saya kira pergerakan semacam ini akan terus berlanjut, jika bank-bank sentral tak membuat perubahan untuk sementara waktu."

 

Waspada "Flash Crash" JPY

Sementara itu, sejumlah pakar risiko pasar memeringatkan bahwa libur 10 hari di Jepang mulai tanggal 27 April mendatang bisa memancing terjadinya "flash crash" sebagaimana disaksikan trader pada tanggal 3 Januari dan 11 Februari lalu. Libur 10 hari tersebut bukanlah peristiwa terjadwal tahunan, karena secara khusus diadakan dalam rangka purna tugas Kaisar Akihito dan pelantikan putra mahkota Naruhito, sekaligus menandai pergantian era Heisei menjadi Reiwa pada tanggal 1 Mei.

"Libur 10 hari yang akan datang di Jepang bisa menghadirkan masalah likuiditas terhadap pasar (dalam lingkup) lebih luas, khususnya selama rollover pada 5pm EST (6pm GMT), yang juga dikenal sebagai 'witching hour'," kata Jeff Wilkins, Direktur Manajer IS Risk Analytics, kepada Finance Magnates. Karenanya, ia menghimbau agar para broker mengevaluasi ulang sistem masing-masing dan memastikan kesiapannya menghadapi krisis likuiditas.

Demetrious Zamboglou, seorang pakar dari perusahaan yang sama, memaparkan bahwa minimnya likuiditas pasar bisa mengakibatkan pelebaran spread pada pasangan-pasangan mata uang cross Yen, terutama dalam periode rollover. Ia memaparkan, "Selama masa-masa tak likuid ini, demand dan supply akan sangat dipengaruhi oleh partisipasi pasar, sehingga bisa mengakibatkan tren temporer dan gap dalam harga."

288227

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


18 Jul 2019

15 Jul 2019