Advertisement

iklan

Dampak Corona Vs Krisis Ekonomi 2008, Mana Yang Lebih Tragis?

Krisis ekonomi akibat corona tak terhindarkan lagi. Jika ditinjau dari tingkat penurunan dan prospek ke depan, bagaimana perbandingannya dengan krisis ekonomi 2008?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Mengingat wabah virus Corona (COVID-19) telah masuk ke dalam deretan penyebab krisis ekonomi dunia paling buruk, maka logis untuk membandingkannya dengan beberapa krisis global yang pernah kita alami sebelumnya, terutama krisis ekonomi 2008 yang masih segar di ingatan. Namun sebelum itu, analis broker FBS mengajak kita untuk membandingkan dulu situasi COVID-19 dengan penyakit global lain yang pernah dihadapi dunia sejauh ini, agar dapat melihatnya dari sudut pandang yang objektif.

 

Sebaran Virus Corona Dan Perbandingannya Dengan Wabah Lain

Berikut adalah kerusakan yang disebabkan oleh virus Corona sejauh ini: lebih dari 850,000 kasus dan 42,000 kematian terkonfirmasi secara global. Peta di bawah ini menunjukkan penyebaran infeksi tersebut. Terlihat bahwa selain di Tiongkok sendiri, sebaran paling parah ada di Eropa, AS, dan Iran.

Peta sebaran virus corona globalSumber: Bloomberg

Penyebaran virus corona menjadi sebuah pemandangan global yang terlihat mengkhawatirkan (dan semakin mengerikan karena pemberitaan media). Sekarang, mari kita bandingkan bencana kemanusiaan akibat corona dengan kasus-kasus wabah lainnya yang pernah mendunia.

Perbandingan Corona dan Pandemi LainSumber: sciencenews[dot]org

Ini adalah visual yang menyuguhkan secercah harapan di tengah kengerian corona. Jumlah penambahan kasus di Tiongkok (tempat awal penyebaran virus) sudah berhasil melewati masa puncak infeksi, sehingga kita mungkin akan melihat kondisi serupa di seluruh dunia dalam waktu sekitar dua minggu lagi, atau bahkan lebih cepat. Oleh karena itu, Gaspar Markosyan selaku analis broker FBS menilai jika keseluruhan dampaknya akan jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan riwayat pandemi lainnya.

Selain itu, statistik menunjukkan bahwa penyebaran wabah lain jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan corona yang eskalasi kematiannya "hanya" memuncak dari sekitar 4,600 menjadi 42,000-an dalam kurun waktu empat minggu. Tentu saja, perspektif ini hanya didasarkan pada perhitungan matematis untuk menegaskan bahwa penyebaran corona tidak berjalan dengan akselerasi eksponensial, melainkan meningkat secara linear. Namun jika dijelaskan dari perspektif kemanusiaan, tentu saja peningkatan kematian corona layak dianggap sebagai perkara yang mengkhawatirkan.

Saat kita membayangkan akhir dari cerita ini, maka bahaya sesungguhnya bagi dunia bukanlah terletak pada efek virus terhadap tingkat kematian penderitanya, melainkan dampaknya terhadap ekonomi.

 

Krisis Corona 2020 Vs Krisis Ekonomi 2008

Virus datang dan pergi, merenggut ribuan nyawa manusia – ini adalah realita tak terhindarkan. Namun bagaimana dengan cakupan dampaknya secara keseluruhan pada ekonomi global?

Indeks saham SSP500

Krisis 2008 memaksa S&P turun dari 1,600 ke 700, atau menyusut hingga 56%. Saat ini, indeks saham tersebut masih bertahan di atas 2,200, setelah mencatatkan titik tertingginya di level 3,400. Artinya, indeks mengalami penurunan sebesar 35%.

Beberapa pakar memprediksi potensi penurunan ke level 2,000 sebagai skenario terburuk. Kendati demikian, penyusutannya tidak akan melampaui 41%, dan skenario seperti ini sudah dianggap merepresentasikan zona merah paling ekstrem dari spektrum pergerakannya.

Jadi dari perspektif saham, virus corona tidak begitu mematikan, tidak seperti krisis keuangan pada tahun 2008. Namun, analis broker FBS memperingatkan jika penilaian ini bersifat sementara. Meskipun banyak opini pasar mengatakan bahwa periode pemulihan sudah di depan mata, kita tetap baru akan bisa melihatnya setelah benar-benar mencapai periode tersebut.

 

Tinjauan Fundamental

Saat ini, beredar opini yang menyatakan bahwa dampak corona kemungkinan bisa lebih buruk dibanding krisis ekonomi 2008. Sebagai contoh, jutaan orang di AS terancam kehilangan pekerjaan di level yang secara signifikan lebih tinggi dari angka pengangguran tahun 2008. Mengingat ini merupakan faktor fundamental, maka dampak corona bisa jauh lebih mengerikan dari perkiraan selama ini.

Di samping itu, kerja sama internasional berada di level yang lebih rendah dibanding tahun 2008. Isolasi dan individualisme nasional kini menjadi kebijakan global yang membatasi prospek pemulihan. Hal ini penting untuk dipertimbangkan, karena "api" krisis dapat dipadamkan dengan lebih mudah dan lebih cepat apabila dihadapi secara kolektif.

Sebagai pusat finansial tertua di dunia, Inggris tengah dibelit Brexit dan tidak akan bersedia atau memiliki mandat hukum untuk membantu Eropa keluar dari krisis keuangan. Eropa sendiri saat ini terlihat jauh lebih "tercerai berai" dibandingkan dengan tahun 2008.

Karena alasan tersebut, banyaknya faktor fundamental membuat situasi corona jelas berbeda dari krisis ekonomi 2008. Perbandingan pun menjadi sulit untuk dilakukan dan para pakar semakin kebingungan karena mereka benar-benar tidak tahu apa yang sedang mereka hadapi.

 

Kesimpulan

Krisis 2008 "hanyalah" krisis keuangan atau masalah yang diciptakan oleh manusia dan dapat dikendalikan. Tidak melibatkan nyawa dan tidak mengharuskan negara-negara untuk melakukan lockdown. Tapi kali ini situasinya sangat berbeda: dunia menghadapi ancaman dari makhluk hidup mikroskopis yang bisa merenggut nyawa dan tidak dapat dikendalikan hanya dengan menyiapkan sederet kebijakan ekonomi. Dengan demikian, secara fenomenologis, krisis ekonomi yang disebabkan corona pada tahun 2020 ini tidak ada presedennya. Kita hanya bisa berharap yang terbaik sembari mempersiapkan rencana trading untuk menghadapi dampak corona.

Arsip Analisa By : Fbs
292504

Broker FBS yang berdiri sejak tahun 2009, merupakan salah satu penyedia trading forex dan CFD online yang paling populer di Indonesia. Layanan broker FBS untuk trader Indonesia sangat lengkap, termasuk support CS dalam bahasa Indonesia serta kemudahan transfer deposit dan withdrawal melalui bank lokal. Profil Selengkapnya