Mata Uang Emerging Market Dan Kiat Tradingnya

290432

Saat membaca berita atau analisa di situs forex, pernahkah Anda mendengar istilah emerging market? Mengapa topik ini menarik dibicarakan? Adakah peluang trading dari mata uang emerging market?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Saat tengah membaca berita atau surat kabar ekonomi, Anda tentu pernah menemui istilah emerging market. Tak hanya dijumpai dalam berita, istilah ini juga digunakan untuk menjelaskan beberapa macam mata uang yang disebut sebagai mata uang emerging market. Sudah tahukah Anda apa yang dimaksud emerging market itu? Lantas, mata uang mana sajakah yang termasuk dalam kategori emerging market ini? Mari simak ulasannya berikut, traders!

 

Pengertian Emerging Market

Istilah emerging market pertama kali diciptakan oleh Antoine W. Van Agtmael dari International Finance Corporation pada tahun 1981 silam. Istilah tersebut biasanya digunakan untuk menjelaskan keadaan ekonomi suatu negara yang sedang berkembang atau berusaha maju. Secara lebih jelas, emerging market didefinisikan sebagai negara dengan ekonomi rendah menuju ke level menengah dalam hal pendapatan per kapita.

Mata Uang Emerging Market

Namun, pengertian emerging market kini mulai mengalami perluasan makna. Tak hanya digunakan untuk menyebut negara berkembang sesungguhnya, emerging market juga bisa didefinisikan secara longgar untuk menyebut negara-negara yang muncul karena perkembangan industri dan perluasan ekonomi secara signifikan. Sehingga, negara-negara emerging market juga bervariasi dari yang sangat besar sampai sangat kecil. Bahkan, China yang kerap dianggap maju oleh kebanyakan orang rupanya masih termasuk dalam kategori ini, setara dengan Tunisia serta India.

Secara keseluruhan, ada 5 negara emerging market yang dikenal luas sebagai negara besar. Mereka disebut sebagai BRICS: Brasil, Rusia, India, China, dan South Africa (Afrika Selatan). Sebagai catatan, Afrika Selatan baru masuk dalam kategori ini sejak tahun 2011. Kelima negara BRICS pernah mengalami pertumbuhan GDP secara pesat, dan sampai saat ini masih memiliki tingkat GDP besar dalam hal Purchasing Power Parity (PPP) meski terkadang masih dibayangi oleh ketidakpastian politik dan masalah utang.

Apa Itu GDP

(Baca Juga: Pengertian GDP (Gross Domestic Product) Dalam Forex)

Selain data GDP, parameter lain untuk mengukur kesehatan ekonomi suatu negara juga bisa dilihat dari nilai tukar mata uang domestik. Dalam konteks emerging market ini, nilai uang domestik ditentukan melalui perbandingan dengan mata uang utama, antara lain Dolar AS (USD), Euro (EUR), Yen Jepang (JPY) dan Pound Inggris (GBP).

 

4 Mata Uang Emerging Market Paling Top

Dilansir dari artikel rilisan FXCM, mata uang emerging market sering dianggap menarik oleh trader maupun investor karena tingginya nilai volatilitas dan fluktuasi nilai tukar yang dramatis. Bagi trader yang pandai membaca peluang, fluktuasi pada mata uang ini bisa dimanfaatkan untuk meraup profit fantastis.

Namun, tidak semua mata uang emerging market potensial untuk diperdagangkan. Hmm...kira-kira jenis mata uang apa sajakah yang tampak sebagai "ladang profit" alternatif ini, ya?

 

1. Brazilian Real (BRL)

BRL adalah mata uang ke-19 yang paling sering ditradingkan dalam pasar forex. Sementara jika dibandingkan dengan emerging market currencies lainnya, BRL menempati posisi terakhir setelah Yuan China, Rubel Rusia, dan Rupee India. Biasanya, BRL ditradingkan berpasangan dengan Euro (EUR/BRL) atau Dolar AS (USD/BRL).

Real Brazil, salah satu mata uang emerging market

(Baca Juga: 5 Negara Penghasil Kopi Terbesar Di Dunia)

Brazil masuk dalam kategori emerging market karena disokong oleh sektor ekspor yang kuat ke negara-negara mitra dagangnya, seperti China, Amerika Serikat, serta Argentina. Sementara komoditas ekspor utama Brazil yaitu bijih besi, kedelai, kopi, dan mobil. Dari sektor ekspor inilah GDP Brazil mencapai USD3.365 Triliun pada tahun 2018, mengingat ekspor menjadi kekuatan ekonomi utama bagi negeri samba tersebut.

Kini, nilai tukar Real Brazil berada di angka 4.1 per USD1. Namun, siapa sangka bila mata uang ini ternyata pernah mencapai nilai 3.1 per USD1 pada Agustus 2016 silam. Krisis utang nasional, penurunan harga komoditas utama, serta situasi politik internal, menjadi penyebab ketidakpastian ekonomi yang akhirnya mendepresiasi nilai tukar BRL ke level saat ini.

 

2. Russian Ruble (RUB)

Biasanya, Rubel diperdagangkan dalam pasar forex berpasangan dengan Euro atau Dolar AS (USD1= RUB65). Bagi para pemburu cuan, Rubel Rusia ini sangat diistimewakan karena sifatnya yang sulit diprediksi, bahkan menjadi mata uang paling fluktuatif di dunia. Sehingga bagi trader bernyali, mata uang ini bisa memberikan return yang besar jika bisa ditradingkan dengan tepat.

Rubel Rusia, mata uang emerging market

(Baca Juga: 10 Negara Produsen Minyak Terbesar Di Dunia)

Sejak runtuhnya Uni Soviet pada 1991 silam, ekonomi Rusia telah banyak mengalami "metamorfosis", terutama setelah sektor ekspor Rusia mulai menggeliat. Dikenal sebagai negara pengekspor minyak bumi dan gas alam ke Uni Eropa, China, dan Jepang, Rusia berhasil mencatatkan perolehan GDP sebesar USD4.213 Triliun pada 2018.

Selain karena GDP, nilai tukar Rubel Rusia juga banyak dipengaruhi oleh isu harga minyak mentah, serta dampak sanksi ekonomi yang diberikan oleh AS dan Uni Eropa. Jika dua faktor tersebut mulai muncul, maka nilai tukar RUB akan bergerak secara dramatis. Kondisi ini dibuktikan setelah aksi jual global WTI Crude Oil berjangka 2015 silam mampu mendepresiasi RUB sebanyak 42% terhadap USD selama 4 bulan.

 

3. Indian Rupee (INR)

Dalam konteks trading, Rupee India hanya diperdagangkan versus Dolar AS (USD/INR). Pemerintah India menerapkan kebijakan managed floating policy, yaitu kebijakan bank sentral (dalam hal ini bank sentral India atau RBI) untuk melakukan intervensi terhadap mata uang domestik guna mempertahankan nilai tukar mata uang tersebut. Sehingga, dapat dikatakan bahwa nilai tukar Rupee tidak hanya ditentukan oleh transaksi di pasar terbuka secara resmi, tetapi juga peran RBI.

Mata uang emerging market, Rupee India

(Baca Juga: Memahami Kebijakan Bank Sentral: Suku Bunga, Stimulus, Dan Intervensi)

Angka GDP India juga turut menyokong fluktuasi nilai tukar Rupee. Diketahui, nilai GDP India pada pertengahan 2019 mencapai USD11.468 Triliun; sektor penyedia layanan dan jasa menyumbang 45%, sementara ketenagakerjaan di sektor jasa menyumbang 31%. Pun, perekonomian India juga disokong oleh sektor pertanian dan ekspor minyak bumi ke beberapa mitra dagangnya, seperti Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Hong Kong, serta Arab Saudi.

 

4. Chinese Yuan (CNY)

Yuan China adalah mata uang kedelapan yang paling sering diperdagangkan dalam pasar forex, serta menempati posisi pertama di antara mata uang emerging market lain. Dalam pasar forex, Yuan kerap dipasangkan dengan Dolar AS.

Yuan China, mata uang emerging market

(Baca Juga: 10 Fakta Menarik Tentang Yuan China)

Meski tergolong sebagai emerging market, nyatanya China memiliki angka tenaga kerja terbesar serta menjadi eksportir mesin terbesar kedua di dunia. Sehingga, tak mengherankan bila GDP China berhasil menempati peringkat pertama, dengan total USD27.3 Triliun per 2018. Namun, China hingga kini tengah terlibat dalam perang dagang dengan AS sejak pertengahan Maret 2018 lalu. Polemik perang dagang antar keduanya pun seolah menjadi katalis "dadakan" nan penting bagi pergerakan harga mata uangnya di pasar forex.

Dalam konteks perang dagang dengan AS, China sempat disinyalir membiarkan nilai tukar Yuan anjlok ke level terendah versus Greenback dalam satu dekade terakhir. Saat itu, Yuan merosot hingga 1.2 persen ke level 7.0275 terhadap Dolar AS, hanya beberapa saat setelah People's Bank of China (PBoC) memangkas referensi nilai tukarnya ke bawah 6.9 untuk pertama kali sejak Desember lalu. Namun, nilai tukar USD/CNY kini berada di level 7.15 per 1 Dolar AS.

 

Faktor Penentu Mata Uang Emerging Market

Memilih emerging market currencies sebagai instrumen trading sah-sah saja. Namun, perlu diperhatikan pula faktor-faktor apa saja yang mungkin memicu pergerakan keempat mata uang emerging market di atas, mengingat pergerakannya bisa sangat volatile dan ekstrem.

Apa sajakah faktor-faktor tersebut? Simak ilustrasinya dalam infografi di bawah ini:

Faktor Penggerak Mata Uang Emerging Market

 

Akhir Kata

Bagi Anda yang tertarik mencoba trading dengan mata uang emerging market, 4 pilihan di atas (BRL, RUB, INR, CNY) bisa menjadi rekomendasi untuk dipertimbangkan. Pasalnya, 4 mata uang tersebut berasal dari negara BRIC (minus Afrika Selatan) yang dikenal memiliki ekonomi besar meski masuk dalam kategori emerging market.

Dengan demikian, Anda bisa mencoba "meraih peruntungan" dari fluktuasi harga yang besar dengan risiko yang relatif terkendali, karena fluktuasi mata uang negara-negara BRIC tentu tidak seliar mata uang emerging market lain seperti Peso Meksiko, Lira Turki, juga Rupiah.

 

Trading dengan mata uang emerging market bisa dianggap ngeri-ngeri sedap atau bisa disebut pedang bermata dua. Jika tak pandai membaca peluang, alih-alih mengincar profit, bisa jadi malah loss yang Anda kantongi. Apabila Anda trader pemula yang belum memahami betul bagaimana gelombang pasar forex, maka trading dengan mata uang ini sangat tidak disarankan.

Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang sudah mengenal dunia jurnalistik sejak SMP. Sempat aktif sebagai Editor dan Reporter di UKM Pers UWKS, kini bekerja sebagai salah satu Online Journalist di seputarforex.com.

Vicky Prasetyo
Terima kasih artikelnya sangat bermanfaat, kalau dari beberapa mata uang emerging market saya pakai pair USD/CNY mata uang ini sama-sama kuat dan 2 negara ini sangat menguasai perdagangan dunia. ketika open buy dan open sell chartnya panjang banget cocok buat pemula yg tidak mau ambil banyak resiko.
Novalia
Terima kasih mas Vicky. Memang benar USD dan CNY adalah dua mata uang yang sama-sama kuat, ditambah kini kedua negara tesebut terlibat dalam perang dagang yang belum usai, jelas menjadi katalis utama pergerakan USD serta CNY. Sebagai pemula, trading pada mata uang ini boleh-boleh saja, tetapi jangan lupa untuk selalu cermat dan berhati2 dalam menentukan manajemen risiko, serta pandai2 me-manage emosi agar tak salah langkah. Salam sukses!