Advertisement

iklan

4 Alasan Mengapa Inggris Tidak Menggunakan Euro

260314

Mengapa Inggris Raya tidak menggunakan Euro dan tetap mempertahankan Poundsterling? Bukankah Inggris juga masih terletak di Benua Eropa?

Xm

iklan

Advertisement

iklan

Mengapa Inggris Raya tidak menggunakan Euro dan tetap mempertahankan Poundsterling-nya? Bukankah Inggris juga masih terletak di Benua Eropa? Pertanyaan dasar ini tentu pernah terlintas di benak kita, baik sebagai trader forex maupun orang awam. Ada 4 hal yang mendasari alasan mengapa Inggris tidak menggunakan Euro, artikel ini akan mengupasnya.

poundsterling_euro

1. 5-Uji-Ekonomi Untuk Euro Yang Sukar Dipenuhi

Ketika Euro pertama kali digagas sebagai mata uang tunggal alias single currency untuk Uni Eropa sekitar tahun 1990-an, Perdana Menteri Inggris, Tony Blaire mendeklarasikan bahwa ada 5 Poin Uji Ekonomi yang harus dipenuhi oleh Inggris sebelum menerima Euro sebagai mata uang resmi di negara mereka.

Uji Ekonomi tersebut merupakan usulan dari Gordon Brown, Menteri Keuangan Inggris yang menjabat pada saat itu. Setelah pemerintahan Inggris didominasi oleh partai buruh pada Mei 1997, sejumlah pihak sempat memperkirakan bahwa Inggris akan bergabung dengan mata uang Euro di tahun 1999 saat itu. Perkiraan tersebut ternyata salah.

Gordon Brown justru mengajukan lima poin uji ekonomi yang harus bisa dipenuhi oleh Inggris maupun Zona Euro, sebelum Inggris ikut menggunakan mata uang Euro.

Isi dari 5 uji ekonomi tersebut antara lain:

  1. Struktur ekonomi dan siklus bisnis harus berjalan harmonis, termasuk suku bunga. Inggris harus bisa bertahan dengan tingkat suku bunga yang sama dengan Zona Euro.
  2. Sistem yang ada harus memiliki fleksibilitas yang cukup untuk menyelesaikan masalah-masalah ekonomi dan agregat di kedua wilayah.
  3. Mengadopsi Euro berarti harus menciptakan kondisi yang kondusif bagi perusahaan-perusahaan dan investasi individu di Inggris.
  4. Euro akan tetap memungkinkan industri jasa keuangan untuk tetap dalam posisi yang kompetitif secara internasional.
  5. Mengadopsi Euro berarti harus bisa mengangkat pertumbuhan, stabilitas, dan lapangan kerja dalam jangka panjang.

Kelima poin itulah yang membuat Pemerintah Inggris harus berpikir panjang untuk bergabung dengan Euro. Sejumlah pihak bahkan berspekulasi bahwa lima poin yang dicantumkan dalam uji ekonomi tersebut memang sengaja dirancang agar sulit dipenuhi, sehingga Inggris selamanya tak akan bisa bergabung dengan Euro.

 

2. Inggris Tak Mau Kehilangan Otoritas Mengatur Suku Bunga

Selain itu, pemerintah Inggris juga tak mau melepaskan otoritasnya begitu saja terhadap tingkat suku bunga mereka sendiri, dimana kemungkinan tersebut akan terjadi jika Inggris berada di bawah sistem Euro. Dengan bergabung Sistem Euro, Inggris juga bisa kehilangan level nilai tukar Pound Sterling yang sudah dianggap cukup nyaman dan strategis tanpa melebur dengan Euro.

 

3. Mempermudah Kinerja Investor

Tetap menggunakan Poundsterling juga dianggap mempermudah kegiatan para investor di Inggris. Sebuah perusahaan atau seorang investor di Inggris yang biasanya hanya perlu mengubah GBP menjadi Dolar AS dan sebaliknya, akan dipaksa menyesuaikan dengan nilai tukar Euro apabila Inggris juga menggunakan Euro.

Nilai tukar dan berita Euro terkini bisa dilihat pada grafik berikut:

 

 

4. Kriteria Konvergensi Euro Memberatkan Inggris

Pemerintah Inggris juga keberatan untuk memenuhi kriteria konvergensi Euro yang dipersyaratkan sebelum mengadopsi Euro sebagai mata uang Inggris, karena salah satu syaratnya adalah Pemerintah Inggris harus menjaga rasio debt-to-GDP dalam level tertentu yang berpotensi membatasi kebijakan fiskal Inggris. Pada tahun 2014 saja, Inggris hanya bisa memenuhi 20 persen dari kriteria konvergensi tersebut.

 

Secara keseluruhan, empat hal yang paling mendasar bagi Inggris untuk tidak melepaskan Pound Sterling dan menggantinya dengan Euro bisa disimak lagi dalam ilustrasi menarik berikut:

Alasan Inggris Tidak Menggunakan Euro
Ada pula pandangan lain menurut penjelasan dari sebuah artikel yang diterbitkan oleh BBC pada tanggal 14 April 1998, kurang dari satu tahun sebelum Euro diresmikan di Eropa. Pada dasarnya, artikel tersebut mengulas tentang beberapa dampak merugikan, keuntungan, dan potensi bahaya yang menjadi konsekuensi jika Inggris menggunakan Euro.

 

Potensi Kerugian Bagi Inggris Jika Menggunakan Euro

  1. Perusahaan-perusahaan di Inggris tidak akan mendapat keuntungan sebesar jika negara tersebut menggunakan Poundsterling saja, sebab biaya transaksi dan nilai tukar yang harus ditanggung kompetitor-kompetitor mereka di Eropa dalam transaksi antar negara Zona Euro akan akan berkurang.
  2. Segala keputusan dalam menentukan kebijakan moneter akan diambil oleh para anggota Euro, yang artinya otoritas Inggris hanya akan sekedar menjadi "anak bawang" alias tidak akan mampu memberikan pengaruh apa-apa pada kebijakan.
  3. Peran politik Inggris di kancah Eropa akan makin termarjinalisasi.

 

Keuntungan Adanya Euro (Tanpa Inggris Bergabung)

  1. Jika single currency ternyata berakhir buruk, sedangkan Inggris belum bergabung menggunakan mata uang tersebut, maka bisnis-bisnis di Inggris akan meroket.
  2. Bank Sentral Inggris (BoE) akan bisa terus berusaha untuk mempertahankan wewenangnya terhadap pengaturan suku bunga Inggris dan menyesuaikannya dengan "takaran" yang tepat sesuai dengan kebutuhan ekonomi Inggris.

 

Potensi Bahaya Jika Inggris Terlambat Bergabung Dengan Euro

  1. Bisnis-bisnis Inggris, khususnya Usaha Kecil, akan menanggung kerugaian yang cukup besar karena kalah bersaing dengan negara-negara yang sudah menggunakan Euro.
  2. Inggris mau tak mau harus menerapkan fix rate terhadap Euro, dan hal ini akan makin menyulitkannya.

 

Poundsterling Dan Euro Di Tengah Isu Brexit

Demikianlah beberapa alasan mengapa Inggris tidak menggunakan Euro meskipun negara itu masuk dalam kesatuan Uni Eropa. Belasan tahun sudah berlalu semenjak Euro resmi digunakan dan Inggris yang masih mempertahankan Poundsterlingnya. Kita sudah melihat sendiri, ternyata tidak ada dampak yang fatal pada kedua belah pihak. Perekonomian Inggris tetap kuat dan negara-negara Zona Euro pun tetap bertahan meski sama-sama didera masalah deflasi.

Namun demikian, tahun 2016 ini Inggris kembali diramaikan dengan isu "Brexit". Semenjak terpilihnya kembali David Cameron sebagai Perdana Menteri Inggris di tahun 2015 kemarin, kabar mengenai referendum untuk menentukan apakah Inggris keluar atau tidak dari keanggotaan Uni Eropa - yang dikenal dengan istilah Brexit - kembali muncul ke permukaan dan bahkan direncanakan akan dilaksanakan selambat-lambatnya tahun 2017. Wacana ini menuai pro dan kontra dengan selisih suara yang ketat mengingat konsekuensi keuntungan dan kerugiannya. Beberapa investor bahkan telah menunda penanaman dana di Inggris hingga ada kejelasan tersebut.

Ada korelasi tak langsung antara penggunaan Poundsterling dan keanggotaan Inggris di Uni Eropa. Jika Inggris terus bergabung dengan Uni Eropa, maka besar kemungkinan cepat atau lambat Inggris harus tunduk dengan ketentuan Uni Eropa, termasuk menggunakan mata uang Euro yang memang ditujukan sebagai mata uang tunggal di Uni Eropa. Hal ini juga menjadi salah satu alasan bagi pihak yang pro Brexit (menginginkan Inggris keluar dari Uni Eropa). Pihak yang pro Brexit enggan menggunakan Euro dan mengikuti segala ketentuan Uni Eropa yang dianggap tidak sesuai bagi Inggris.

Terlepas dari konsekuensinya, Brexit akan memberikan dampak pada pergerakan mata uang, baik Poundsterling sendiri maupun Euro, sehingga para trader forex perlu memperhatikan fenomena ini sebagai pertimbangan fundamental. Selain melalui komentar, Anda dapat mengikuti diskusi langsung dengan ahlinya pada forum tanya jawab berikut. Pertanyaan akan langsung dijawab langsung oleh ahli dari Seputarforex.

Sudah aktif berkecimpung di dunia jurnalistik online dan content writer sejak tahun 2011. Mengenal dunia forex dan ekonomi untuk kemudian aktif sebagai jurnalis berita di Seputarforex.com sejak tahun 2013. Hingga kini masih aktif pula menulis di berbagai website di luar bidang forex serta sebagai penerjemah lepas.


Rosa Singgih
yup, dan sekarang UK udah keluar dari EU meksipn udh banyak resiko2 yg dijabar2in sebelumnya... wow, untung gwa ga ikut2an pasang posisi buy pas voting brexit kmaren...