Bank Sentral Kurangi Forecast Inflasi, NZD Tumbang

RBNZ mengurangi forecast inflasi hingga tahun 2020 dan menyatakan akan mempertahankan suku bunga rendah. Akibatnya, NZD melemah versus USD dan AUD.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Dolar New Zealand rontok terhadap beberapa mata uang mayor pada awal sesi Asia Kamis pagi ini (8/Februari), setelah rapat kebijakan bank sentral New Zealand (Reserve Bank of New Zealand/RBNZ). Saat berita ditulis, NZD/USD sudah terperosok 0.50% ke 0.7201, sedangkan AUD/NZD melonjak 0.55% ke 1.0863. Pasalnya, RBNZ bukan hanya tak merubah kebijakan suku bunganya, melainkan juga mengurangi forecast inflasi hingga tahun 2020 dan menyatakan akan mempertahankan suku bunga rendah.

Reserve Bank of New Zealand

 

Dovish Yang Beralasan

Seusai rapat kebijakannya, RBNZ menyatakan mempertahankan suku bunga tetap pada 1.75 persen. Dalam pengumuman yang sama, forecast inflasi diundurkan, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi jangka pendek pun dipangkas.

Inflasi CPI untuk kuartal IV/2017 hanya mencapai 1.6%, di bawah ekspektasi 2% yang dipatok RBNZ dalam rangka mendapai target inflasi di kisaran 1-3%. Oleh karena itu, RBNZ mengurangi forecast inflasi untuk dua tahun ke depan, dengan perkiraan angka 2% kini diharapkan dapat diraih pada kuartal III/2020.

"Ini adalah pernyataan dovish yang beralasan," kata Ben Jarman, ekonom senior JP Morgan di Sydney, pada Reuters, "Angka inflasi baru-baru ini berada di sisi rendah". Lanjutnya lagi, "Dibutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke inflasi 2 persen. Jika Anda lihat pada jangka sangat pendek, (inflasi) itu sudah turun cukup besar."

 

Inflasi New Zealand

 

Kebijakan Moneter Tetap Akomodatif

Pada pidato seusai pengumuman tadi, Grant Spencer, Pejabat Pelaksana Tugas Gubernur RBNZ, mengatakan, "Kebijakan moneter akan tetap akomodatif (suku bunga rendah dan stimulus berlanjut -red) untuk waktu yang cukup lama. Sejumlah ketidakpastian tersisa, dan kebijakan boleh jadi perlu disesuaikan dengannya."

Spencer juga menyampaikan bahwa gejolak di pasar finansial dunia sejak awal pekan ini, tidak mempengaruhi forecast. Katanya, "Pasar obligasi tak benar-benar bereaksi; ini lebih merupakan fenomena pasar modal. Dan sekarang, itu sudah mereda, jadi tak benar-benar akan ada efek jangka panjang. Namun, Anda perlu mengetahui bahwa ini tanda peringatan, karena volatilitas menunjukkan betapa gelisahnya pasar mengenai....normalisasi suku bunga."

Sementara itu, mengenai nilai tukar Dolar New Zealand, Grant Spencer justru lebih rileks menanggapinya ketimbang pimpinan bank sentral dunia lain. Ia menyatakan tak ada masalah dengan level Dolar NZ belakangan ini, meski telah menguat terhadap Dolar AS (di akhir bulan Januari). Namun, Spencer dijadwalkan akan berhenti menjalankan tugasnya mengepalai RBNZ dalam waktu dekat, karena Adrian Orr telah ditunjuk untuk menduduki jabatan Gubernur RBNZ dan akan mulai bertugas pada 27 Maret mendatang.

282269

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


28 Nov 2018

3 Dec 2018