iklan

Carut-Marut Zona Euro: Ekonomi Datar, Kabinet Bubar

Penulis

+ -

Carut-marut zona Euro kian parah dengan merosotnya indeks bisnis Jerman dan pembubaran kabinet di Perancis pada hari Senin. Seakan merefleksikan kekacauan di kedua negeri utama Zona Euro ini, EURUSD dibuka melemah pagi ini dibandingkan penutupan perdagangan hari Senin. Euro bahkan sempat terpuruk ke 1.3185 terhadap USD, level terendah sejak September 2013.

iklan

iklan

Carut-marut zona Euro kian parah dengan merosotnya indeks bisnis Jerman dan pembubaran kabinet di Perancis pada hari Senin. Seakan merefleksikan kekacauan di kedua negeri utama Zona Euro ini, EURUSD dibuka melemah pagi ini dibandingkan penutupan perdagangan hari Senin. Euro bahkan sempat terpuruk ke 1.3185 terhadap USD, level terendah sejak September 2013.

Jerman Merosot Diseret Sanksi Terhadap Rusia

Pada hari Senin, indeks iklim bisnis IFO Jerman merosot ke level terendah dalam lebih dari satu tahun, seiring dengan berkepanjangannya ketegangan akan masalah Ukraina. Aksi balas-membalas sanksi dikatakan menjadi sebab bagi kemunduran yang tengah dialami Jerman saat ini.


Indeks IFO Jerman Data Indeks IFO Jerman Merosot Ke 106.3 Bulan Ini

Indeks bisnis IFO mensurvei 7000 perusahaan di bidang manufaktur, konstruksi, dan ritel untuk mengukur sentimen dunia bisnis mengenai kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi 6 bulan berikutnya. Bagi Jerman yang perekonomiannya berbasis produksi, kemerosotan indeks IFO empat bulan berturut-turut mengindikasikan awal dari kemunduran ekonomi.

Pada bulan Mei lalu, sebuah dokumen rahasia yang disusun oleh Komisi Uni Eropa dan bocor ke media telah menyebutkan bahwa sanksi terhadap Rusia bisa memangkas forecast pertumbuhan ekonomi Jerman hingga 1 persen, mendorong negara tersebut mendekati kemerosotan ekonomi yang bisa berdampak buruk bagi ekonomi Zona Euro yang sedang lemah. Laporan tersebut membahas sejumlah skenario bagaimana hal itu bisa terjadi.

Pertama, sanksi terhadap impor gas dan minyak dari Rusia bisa memangkas 0.9% pertumbuhan GDP Jerman tahun ini dan 0.3% tahun depan; ini karena Jerman sangat mengandalkan energi Rusia untuk kebutuhan industri. Padahal, ramalan pertumbuhan Jerman versi Komisi Uni Eropa memperkirakan Jerman hanya tumbuh 1.6% tahun ini dan 2% tahun depan akibat pemulihan ekonomi Zona Euro yang lambat. Kedua, pelarangan impor atas produk Rusia lain dan pembekuan rekening orang-orang Rusia di Eropa bisa melorotkan pertumbuhan hingga 0.3% tahun ini dan 0.1% tahun 2015. Disamping kedua skenario itu, efek jangka panjang terhadap perekonomian Jerman bisa jauh lebih serius.

Kondisi inilah yang menjadi alasan kenapa Kanselir Jerman, Angela Merkel, terkesan ogah-ogahan dalam menerapkan sanksi terhadap Rusia. Namun demikian, kesepakatan blok Barat dan dorongan Amerika Serikat membuat sanksi pada Rusia tetap dijatuhkan. Bahkan, Rusia sempat membalas dengan menerapkan larangan impor produk makanan dan agrikultur buatan negara-negara Barat yang telah menjatuhkan sanksi padanya. Akibatnya, laporan ekonomi Jerman akhir-akhir ini memburuk.

Situasi bisa semakin parah bagi Jerman karena penyelesaian final tidak diperkirakan akan tercapai dalam waktu dekat. Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan bertemu Presiden Ukraina Petro Poroshenko hari ini (26/8) di Minsk, Belarusia. Akan tetapi Kanselir Merkel yang baru-baru ini bertemu Presiden Poroshenko mengatakan bahwa resolusi signifikan tidak akan tercapai hari ini. Para analis juga menganggap kedua belah pihak belum siap untuk berdamai.

Perancis Bubarkan Kabinet Lagi

Insiden besar lain terjadi di Perancis pada hari Senin kemarin. PM Manuel Valls mengajukan pengunduran kabinetnya pada Presiden Perancis, Francois Hollande, setelah para menterinya memprotes arah kebijakan Presiden. Ini bukan pertama kalinya Kabinet dibubarkan dibawah Presiden Hollande. Kabinet sebelumnya dibawah Jean-Marc Ayrault telah dibubarkan pada bulan Maret.

Perancis mencatat pertumbuhan GDP 0% dalam kuartal pertama dan kedua 2014, dengan pengangguran lebih dari 10% sejak akhir 2012, inflasi dibawah satu persen, dan porsi utang 91,80% dari GDP. Porsi utang yang sangat tinggi membuat Presiden Hollande ingin memangkas defisit anggaran negara lagi, agar utang negara bisa dikendalikan. Namun, banyak menteri dalam kabinetnya berpendapat bahwa pemotongan defisit malah akan semakin mencekik rakyat dan melorotkan pertumbuhan.

Masalahnya, tingkat pajak di Perancis sudah terlalu tinggi, baik pajak perorangan maupun pajak usaha. Di sisi lain, inflasi terus merosot, yang berarti harga barang-barang di pasar cenderung stagnan atau menurun. Akibatnya, perusahaan-perusahaan menolak merekrut karyawan baru dan terus memangkas investasinya, karena penambahan karyawan dan ekspansi bisnis bisa melipatgandakan beban pajak yang harus dibayar di saat penghasilan tidak bertambah.

Dalam kondisi ini, Presiden Hollande ingin mengurangi belanja anggaran pemerintah Perancis lagi dalam porsi yang lebih besar. Di sisi lain, para menterinya berpendapat, yang lebih penting adalah mengurangi pajak dan mengangkat permintaan domestik. Kedua pendapat ini berlawanan, karena pemotongan anggaran belanja pemerintah secara efektif akan menjatuhkan permintaan domestik dan meningkatkan ketergantungan anggaran pemerintah pada pemasukan pajak.

Dalam interview dengan media Perancis hari Minggu lalu, Menteri Ekonomi Arnaud Montebourg secara terbuka mengkritik arah kebijakan presiden Hollande. Katanya, "Politik penghematan dengan penetapan pajak tinggi yang dilakukan pemerintah, telah memperpanjang krisis ekonomi. Prioritas seharusnya pada bagaimana keluar dari krisis, dan pengurangan defisit yang dogmatis jadi nomor dua". Selain itu, ia juga pernah mengatakan, "Janji-janji perekonomian akan melaju lagi di jalur pertumbuhan dan full employment, telah gagal. Kejujuran menuntut kita untuk mengakui hal ini. Peran menteri ekonomi dan negarawan manapun adalah untuk menghadapi kebenaran -walaupun itu kejam- dan mengajukan solusi alternatif."


Arnauld Montebourg Menteri Ekonomi Perancis, Arnauld Montebourg

Pendapat Montebourg tersebut didukung oleh dua koleganya secara publik, Menteri Pendidikan Benoit Harmon dan Menteri Kehakiman Chistiane Taubira, juga sejumlah tokoh partai Sosialis lainnya. "Pemberontakan" dalam kabinet ini lah yang mendorong PM Manuel Valls untuk membubarkan kabinetnya. Presiden Hollande pun menerima pembubaran ini, dan menginstruksikan pembentukan kabinet baru sesegera mungkin.

ECB Didesak Luncurkan Stimulus

Disamping mengkritisi pemerintahnya sendiri, Montebourg juga mengeluh, terlalu banyak tokoh hawkish di ECB yang lebih meributkan inflasi ketimbang mengentaskan pengangguran. Ia menghimbau agar ECB segera melakukan pembelian obligasi dan melemahkan nilai tukar Euro, meniru Quantitative Easing yang telah dilakukan oleh sejumlah bank sentral lain. Himbauan Montebourg ini merupakan salah satu contoh peningkatan tekanan pada ECB untuk segera meluncurkan stimulus.

Namun ECB masih bungkam. Dalam simposium di Jackson Hole  akhir minggu lalu, Gubernur ECB, Mario Draghi, hanya menegaskan kembali kesiapan bank sentral Eropa tersebut untuk bertindak lebih jauh apabila dibutuhkan, tanpa memberikan detail apapun mengenai tindakan yang akan mereka ambil. Ia malah berbicara lebih banyak tentang pentingnya koordinasi yang lebih kohesif diantara negara-negara zona Euro, dan penggunaan kebijakan fiskal untuk mendorong pertumbuhan. Sikap Draghi ini mengakibatkan kekecewaan besar di kalangan investor, yang memandang kebijakan penghematan yang diberlakukan Kanselir Merkel, Presiden Hollande, dan kawan-kawannya, telah gagal mengeluarkan Zona Euro dari krisis.

Euro Oversold

Seiring dengan memburuknya kondisi Eropa dan ECB yang tidak jelas, Euro terus melemah terhadap Dolar AS. EURUSD tengah berada dalam tekanan bearish yang sangat kuat,walaupun laju kemerosotonnya kini telah berkurang. Posisi EURUSD telah terbenam lebih dalam daripada perkiraan.

Secara teknikal, reversal pada EURUSD telah diperkirakan akan terjadi pekan lalu. Namun berbagai faktor fundamental justru mendorong pair ini turun lebih jauh, hingga terjun kebawah EMA-200 pada timeframe W1.


EURUSD W1 EURUSD pada timeframe W1 dengan indikator EMA-20 (merah), EMA-60 (biru), EMA-200 (magenta), Fibonacci Retracement, dan MACD

Dalam chart tersebut, juga dalam timeframe yang lebih rendah, EURUSD nampaknya sudah memasuki area oversold. Ini bisa jadi merupakan persiapan untuk reversal, tetapi bisa juga sebaliknya, awal dari tren bearish yang berkepanjangan. Dalam jangka menengah, ada kesempatan yang sama besarnya bagi EURUSD untuk bergerak kebawah menuju level Fibonacci 100.0 dan keatas menuju Fibonacci 50.0. Outlook untuk pair ini, untuk sementara adalah 'wait and see'. Berhati-hatilah sebelum ada konfirmasi ke salah satu arah.

195800

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.

Archuletta
Prancis meringis.. -__-

Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone