Advertisement

iklan

Cegah Risiko Resesi, Jepang Rilis Stimulus Fiskal 13 Triliun Yen

Perdana Menteri Shinzo Abe meresmikan peluncuran stimulus fiskal terbesar sejak 2016 guna mengatasi ancaman perlambatan ekonomi global dan sederet isu lainnya.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Hari ini (5/Desember), Perdana Menteri Shinzo Abe mengumumkan peluncurkan stimulus fiskal terbesar oleh Jepang sejak tahun 2016. Paket stimulus sebesar 13.2 Triliun Yen (121 Miliar Dolar AS) tersebut akan disalurkan untuk pemulihan pasca bencana typhoon, perbaikan infrastruktur, dan investasi teknologi baru. Ini merupakan upaya terbaru Jepang untuk menanggulangi ancaman perlambatan ekonomi global, beban kenaikan pajak konsumsi beberapa waktu lalu, serta risiko perlambatan pasca Olimpiade Tokyo yang akan datang.

Shinzo Abe

"Untuk stimulus ekonomi pertama di era Reiwa, kami telah berhasil menyusun sebuah paket yang cukup kuat," kata Abe, "Tiga pilar paket stimulus ini adalah pemulihan, rekonstruksi, dan keamanan dari bencana alam; dukungan untuk menanggulangi risiko perlambatan ekonomi; dan investasi untuk masa depan setelah Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo."

Data dari Kantor Kabinet Jepang menunjukkan bahwa dana sebesar 9.4 Triliun akan dialokasikan untuk belanja pemerintah pusat dan daerah. Sebesar 3.8 Triliun sisanya akan disalurkan dalam bentuk pinjaman publik berbunga super rendah. Beberapa bagian dalam stimulus ini akan ditujukan untuk riset dan pengembangan teknologi komunikasi seluler yang lebih tinggi dari 5G, pendanaan peneliti muda, dan riset biomedis.

Para analis menanggapi pengumuman Abe dengan hati-hati. Banyak pihak masih menelaah dampak stimulus ke depan, sehingga berita tak berpengaruh besar terhadap pergerakan pasar untuk sementara ini. Saat berita ditulis pada awal sesi New York, USD/JPY hanya terkoreksi 0.07 persen di level 108.80.

"Kami menggaruk kepala untuk memikirkan seberapa besar anggaran baru dan apa yang berbeda dari tahun 2016, "kata James Malcom dari UBS London, sebagaimana dikutip oleh Financial Times, "Tapi (di sini) kita berbicara tentang angka-angka yang besar dalam sebuah perekonomian yang potensi pertumbuhannya cukup terbatas. Saya akan memandang dengan kacamata relatif optimistis bagi Jepang agar dapat melaksanakan banyak hal."

291202

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.