Advertisement

iklan

Data Mengancam Rencana The Fed, Dolar AS Bangkit

Penulis

+ -

Data PMI Jasa Amerika Serikat menandakan laju inflasi kemungkinan tetap tinggi, sehingga indeks dolar AS rebound ke kisaran 105.30.

iklan

iklan

Seputarforex - Indeks dolar AS (DXY) mengalami pemulihan yang sangat pesat pada sesi New York tadi malam, sehubungan dengan publikasi hasil survei Purchasing Managers' Index untuk sektor jasa Amerika Serikat yang melampaui estimasi konsensus. Greenback menguat terhadap hampir semua mata uang mayor, sehingga Dixie menginjak level 105.30-an lagi pada sesi Asia (6/Desember).

DXY Daily Grafik DXY Daily via TradingView

Institute for Supply Management (ISM) melaporkan skor PMI Jasa AS meningkat dari 54.4 menjadi 56.5 pada November 2022. Data tersebut menandakan bahwa aktivitas sektor jasa --yang mencakup dua pertiga perekonomian AS-- tetap tangguh di tengah kenaikan suku bunga The Fed yang agresif. Data juga berlawanan dengan estimasi konsensus yang dipatok pada 53.0.

Rincian laporan tersebut mengungkap situasi lebih menantang bagi rencana perlambatan "rate hike" yang baru saja dicanangkan oleh The Fed. Komponen ketenagakerjaan dan aktivitas bisnis menunjukkan kenaikan yang mencolok. Komponen pesanan baru hanya terkoreksi tipis dari 56.5 menjadi 56.0, demikian pula komponen harga dari 70.7 menjadi 70.0. Simpulannya, faktor-faktor yang mendasari kenaikan inflasi masih kokoh bercokol dalam industri jasa AS.

"Data PMI Jasa ISM menyoroti perekonomian AS yang masih menunjukkan sejumlah kekuatan, meskipun kondisi keuangan makin ketat," kata Priscilla Thiagamoorthy, ekonom dari BMO Capital Markets, "Meskipun itu adalah kabar baik bagi prospek pertumbuhan, itu bukanlah kabar baik bagi The Fed yang berupaya meredam permintaan dan melonggarkan inflasi."

Ketua The Fed Jerome Powell pekan lalu baru saja menegaskan niat bank sentral untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga mulai rapat FOMC bulan ini. Namun, data NFP hari Jumat dan PMI hari Senin memantik spekulasi kalau-kalau niat itu bakal gagal terwujud. Konsekuensinya, nilai tukar dolar AS menguat lagi.

"Saya pikir masalah tentang 'puncak inflasi, puncak suku bunga, puncak dolar' ini perlahan berubah menjadi 'kegigihan inflasi, kegigihan suku bunga lebih tinggi dalam waktu lebih lama'," kata Jane Foley, pakar strategi senior FX di Rabobank.

Para analis dari grup perbankan multinasional ING mencatat bahwa posisi agregat dolar AS terhadap mata uang G10 saat ini netral pada level terendah sejak Agustus 2021. Mereka juga menilai pelemahan dolar kemungkinan sudah terhenti untuk sementara waktu. Sejumlah faktor memengaruhi ekspektasi itu, termasuk kemungkinan The Fed bersikap hawkish-agresif kembali, sulitnya relaksasi kebijakan Nol COVID di China, serta gejolak harga minyak dan gas.

Download Seputarforex App

298634
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.