Advertisement

iklan

Dolar Melempem, Euro Mentereng Di Tengah Perayaan Imlek

Penulis

+ -

Rilis sejumlah data ekonomi AS pekan lalu menonjolkan besarnya ancaman resesi, sehingga dolar AS tak lagi menjadi jago kandang. Giliran EUR/USD naik daun.

iklan

iklan

Seputarforex - Indeks dolar AS (DXY) terpuruk di 101.80-an pada awal perdagangan sesi Eropa hari Selasa (24/Januari). Perdagangan pasar cenderung sepi karena pusat-pusat keuangan Asia masih tutup dalam rangka perayaan Imlek, tetapi pembalikan tren USD semakin kentara.

DXY Daily Grafik DXY Daily via TradingView

Kurs dolar AS terus melemah sejak pembukaan perdagangan di awal tahun hingga sekarang. Semakin banyak analis mengubah proyeksi mereka atas dolar AS untuk tahun 2023 dari bullish menjadi bearish, seusai rilis sejumlah data ekonomi AS pekan lalu yang menonjolkan besarnya ancaman resesi.

Pelaku pasar saat ini memperkirakan The Fed hanya akan menaikkan suku bunga dua kali lagi, masing-masing sebesar 25 basis poin, pada paruh pertama tahun ini. Mereka juga memperkirakan suku bunga The Fed akan mencapai puncaknya pada kisaran 5% per Juni mendatang, disusul dengan dua kali pemangkasan suku bunga sebanyak masing-masing 25 basis poin sebelum akhir tahun. Proyeksi pasar secara keseluruhan sedikit lebih pesimistis daripada proyeksi resmi dari para pejabat The Fed.

"AS tak lagi menjadi baju paling bersih di binatu ekonomi global," kata Ray Attrill, kepala strategi FX di National Australia Bank, "Ini integral bagi pandangan kami yang bearish atas dolar AS, bahwa AS tidak akan menjadi pemimpin pertumbuhan global."

Attrill memperkirakan indeks dolar AS akan jatuh sampai 100.00 pada akhir Maret. Sementara itu, EUR/USD justru berpotensi terangkat lebih lanjut sampai 1.10 dalam rentang waktu yang sama.

Euro makin naik pamor pada awal tahun ini sehubungan dengan retorika para pejabat ECB yang cenderung hawkish . Presiden ECB Christine Lagarde pada hari Senin lagi-lagi menegaskan niat untuk menaikkan suku bunga secara agresif demi mengendalikan inflasi.

Pasar kini mengharapkan ECB akan menaikkan suku bunga sebanyak 50 basis poin lagi dalam rapat kebijakan bulan Februari. Keputusan itu kemungkinan akan disusul oleh beberapa kali kenaikan sampai tingkat bunga deposit mencapai puncaknya pada minimal 3.3% per Juli.

"Presiden Lagarde berada di antara para hawkish, sehingga kami merasa nyaman dengan perkiraan kami untuk kenaikan 50 basis poin pada dua rapat (ECB) berikutnya," papar Joseph Capurso, pakar strategi dari CBA, yang juga memperkirakan EUR/USD berpotensi menguji 1.1033 dalam pekan ini.

Harapan untuk kenaikan suku bunga ECB itu juga dapat menjadi bumerang. Euro berisiko terpukul apabila Lagarde gagal merealisasikan retorikanya. Apalagi, data-data ekonomi Zona Euro selama beberapa bulan terakhir tak dapat dikatakan cemerlang.

Laporan preliminer hasil survei Purchasing Managers' Index (PMI) bulan Januari 2023 yang baru saja dirilis, menunjukkan situasi mixed. Skor PMI Manufaktur Jerman terus berkubang di bawah ambang kontraksi, sementara sektor jasa menunjukkan pemulihan dari 49.2 ke 50.4. Prancis mengalami situasi yang berkebalikan; skor PMI Manufakturnya pulih, tetapi sektor jasanya terus terjerumus dalam resesi. 

Download Seputarforex App

298878
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.