Advertisement

iklan

Ekspektasi Stimulus Mendongkrak Yield Obligasi, Dolar AS Menguat

Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang karena berkembangnya ekspektasi stimulus berbagai negara, tetapi masih melemah versus safe haven.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Indeks Dolar AS (DXY) bertengger di level tertinggi tiga pekan dalam perdagangan hari ini (20/Agustus). Berbagai negara diekspektasikan akan meluncurkan stimulus fiskal dan moneter baru untuk menanggulangi perlambatan ekonomi global, sehingga mendorong kenaikan yield obligasi AS. Saat berita ditulis, DXY berada di kisaran 98.37, sementara yield obligasi AS bertenor 10-tahunan beranjak dari level terendah tiga tahun. Namun, Greenback tetap melemah versus Yen Jepang dan Franc Swiss.

DXY Daily

"Dolar menguat lintas papan bursa, mengikuti rebound yield (obligasi). Prospek Jerman meluncurkan stimulus adalah titik baliknya, dan Dolar telah mendapatkan momentum kembali sejak saat itu," kata Yukio Ishizuki, pakar strategi mata uang senior dari Daiwa Securities, sebagaimana dilansir oleh Reuters.

Stimulus yang dimaksud berhubungan dengan pernyataan menteri keuangan Jerman baru-baru ini. Ia mengungkapkan kesiapan pihaknya untuk menggelontorkan anggaran hingga lebih dari USD50 Miliar apabila terjadi resesi.

Berita mengenai stimulus fiskal Jerman tersebut mengerem kemerosotan Euro, tetapi belum mampu mengangkat EUR/USD dari kisaran terendahnya tahun ini. Pada awal sesi Eropa, EUR/USD masih terpuruk di bawah ambang 1.1100. Masalah fiskal Italia berkembang menjadi krisis politik baru karena koalisi petahana pecah kongsi dan partai 5-star Movement berencana mengirim mosi tak percaya kepada PM Giuseppe Conte.

"Situasi politik di Italia tetap tidak stabil. Selain itu, ekspektasi Jerman meluncurkan stimulus fiskal bisa jadi malah meningkatkan kekhawatiran mengenai kondisi fiskal Italia," kata Masafumi Yamamoto, pimpinan pakar strategi forex di Mizuho Securities.

Dolar AS juga menguat terhadap Renminbi, karena mulai diberlakukannya reformasi suku bunga pinjaman oleh PBoC. Suku bunga pinjaman bernama Loan Prime Rate (LPR) baru tersebut akan diumumkan pada tanggal 20 setiap bulan, dan bakal digunakan sebagai acuan untuk pinjaman baru yang dikeluarkan oleh perbankan. LPR baru ditentukan hari ini pada 4.25 persen, atau 10 basis poin lebih rendah dari suku bunga acuan pinjaman sebelumnya yang sebesar 4.35 persen.

Tak mau ketinggalan, para pejabat Gedung Putih dirumorkan sedang mempersiapkan paket pemangkasan pajak pendapatan baru untuk menggairahkan perekonomian AS. Langkah tersebut kemungkinan diambil karena pelaku pasar dan Federal Reserve mengabaikan himbauan Presiden AS Donald Trump agar Fed memangkas suku bunga hingga 100 basis poin.

Terlepas dari aneka desas-desus stimulus tersebut, minat risiko pasar global belum benar-benar pulih. Sentimen risk-off nampak dari posisi USD/JPY dan USD/CHF yang kembali tergelincir dalam perdagangan hari ini. AUD/USD juga hanya naik terbatas, meskipun bank sentralnya menyatakan tak ingin buru-buru memangkas suku bunga lagi.

289735

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.