Advertisement

iklan

Lagarde ECB: Kebijakan Bank Sentral Akan Perhitungkan Darurat Iklim

Sebagai Presiden Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde berniat untuk mempertahankan kebijakan moneter longgar, tetapi meninjaunya dari sisi berbeda.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Dalam testimoninya di hadapan parlemen Eropa kemarin (2/Desember), Presiden ECB Christine Lagarde memaparkan sejumlah arah kebijakan awal yang akan diambil dalam waktu dekat. Diantaranya termasuk komitmen untuk terus berusaha mencapai target inflasi, evaluasi strategi kebijakan moneter ECB, dan upaya untuk ikut serta menanggulangi darurat iklim melalui kebijakan moneter.

Lagarde menyatakan bahwa bank sentral Eropa di bawah kepemimpinannya akan memperhitungkan ancaman perubahan iklim dalam penyusunan forecast ekonomi dan pemantauan sistem keuangan. Katanya, "Beberapa pemodelan (ekonomi) ini perlu memperhitungkan perubahan iklim. Hal itu setidaknya, saya pikir, semestinya sudah kita perkirakan."

Christine Lagarde

Sang mantan Ketua IMF sempat dicecar oleh anggota parlemen Eropa terkait kegagalan ECB mendukung penghijauan ekonomi Zona Euro dengan membeli obligasi perusahaan-perusahaan ramah lingkungan. Lagarde mengakui bahwa portofolio obligasi ECB yang dikoleksi melalui program Quantitative Easing, memang mengandung "beragam warna mulai dari hijau sampai coklat". Pasalnya, bank sentral di bawah kepemimpinan pendahulunya, Mario Draghi, beroperasi dengan dasar kebijakan netralitas pasar tanpa keinginan untuk menstimulasi salah satu sektor ekonomi secara khusus.

Lagarde meyakinkan bahwa evaluasi strategi kebijakan moneter ECB ke depan akan mempertimbangkan apakah dasar kebijakan itu perlu diubah. Ia masih berpendapat bahwa kebijakan moneter longgar ECB dibutuhkan untuk memulihkan perekonomian Zona Euro. Namun, ia menegaskan bahwa evaluasi strategi kebijakan moneter ECB bakal dilaksanakan dengan "dipandu oleh dua prinsip: analisis menyeluruh dan pikiran terbuka."

Testimoni pertama Christine Lagarde sebagai Presiden ECB ini tidak terlampau dipedulikan oleh pelaku pasar keuangan secara umum, karena banyak pihak menilai ia takkan buru-buru mengubah kebijakan suku bunga dan QE dalam waktu dekat. Fluktuasi Euro lebih dipengaruhi oleh perubahan signifikan sentimen risiko pasar gegara peningkatan gairah Amerika Serikat untuk mengobarkan perang dagang global.

Selain melontarkan ancaman akan menaikkan tarif impor lagi untuk produk China, kemarin Amerika Serikat juga mengumumkan peningkatan tarif dadakan untuk impor metal dari Brazil dan Argentina. Situasi tersebut memicu trader melepas Greenback, sehingga EUR/USD meningkat drastis. Saat berita ditulis pada pertengahan sesi Eropa hari Selasa ini (3/Desember), pasangan mata uang tersebut masih bertengger di kisaran 1.1075.

291165

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.