Laporan PMI Mengecewakan, Pound Ditopang Ekspektasi Hasil Pemilu

Pound masih kokoh versus USD dan Euro, karena PM Boris Johnson diperkirakan bakal memenangkan pemilu Inggris bulan depan.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Hasil survei Purchasing Manager's Index (PMI) untuk sektor manufaktur dan konstruksi Inggris menampilkan skor lebih baik dari ekspektasi, tetapi sama-sama masih dalam kondisi resesi. Meski demikian, Poundsterling bertahan di level tinggi karena ekspektasi terkait hasil pemilu bulan depan. Saat berita ditulis pada pertengahan sesi Eropa (4/November), GBP/USD masih bertengger di atas ambang 1.2900, sementara EUR/GBP bertahan di rekor terendah sejak Mei 2019.

GBPUSD DailyGrafik GBP/USD Daily via Tradingview.com

Pada hari Jumat lalu, IHS Markit melaporkan bahwa skor PMI untuk sektor manufaktur Inggris membaik dari 48.3 menjadi 49.6 dalam survei bulan Oktober. Hasil survei PMI untuk sektor konstruksi yang dipublikasikan hari ini juga menunjukkan pemulihan dari 43.3 menjadi 44.2. Keduanya mengungguli estimasi awal yang dipatok oleh konsensus ekonom, tetapi masih di bawah ambang 50.0 yang memisahkan kondisi resesi dan ekspansif. Artinya, kondisi kedua sektor ini masih melambat.

Secara khusus, ini merupakan skor di bawah 50 yang ke-6 kali beruntun bagi sektor konstruksi Inggris. Pesanan baru terus merosot, sementara perusahaan-perusahaan melakukan PHK untuk menanggulangi ketidakpastian outlook bisnis jangka pendek. Namun, akumulasi data yang cukup suram ini tak berpengaruh besar terhadap nilai tukar Poundsterling, karena pelaku pasar memprediksi iklim politik akan semakin membaik.

"PMI sudah terlalu buruk belakangan ini; barometer resmi untuk output konstruksi meningkat sebanyak 0.6 persen dalam basis tiga bulanan pada bulan Agustus, bahkan PMI berada jauh di bawah 50," kata Samuel Tombs, pimpinan ekonom Inggris di Pantheon Macroeconomics. Namun, ia menambahkan, "Sektor ini semestinya bangkit pada tahun 2020, karena partai Konservatif sudah tidak mengancam (akan melakukan) No-Deal Brexit) dan kedua partai utama sudah berkomitmen menggelontorkan dana lebih besar untuk infrastruktur."

Hasil polling terbaru dari The Times menunjukkan bahwa partai Konservatif yang dipimpin oleh PM Boris Johnson semakin mungkin memenangkan pemilu tanggal 12 Desember mendatang dengan perolehan 35%, disusul oleh Labour 25% dan LibDem 19%. Peningkatan dukungan bagi PM Boris Johnson diterjemahkan sebagai kabar baik oleh pelaku pasar, karena kemenangannya berpotensi memuluskan proses brexit sebelum atau tepat waktu sesuai deadline 31 Januari 2020.

290825

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.