Advertisement

iklan

Notulen FOMC Kirim Sinyal Hawkish Kuat Di Awal 2018

Notulen FOMC memperkuat ekspektasi pasar mengenai kenaikan suku bunga AS pada rapat yang akan digelar tanggal 20-21 Maret mendatang.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Komite penyusun kebijakan bank sentral AS (Federal Open Market Committee/FOMC) menampilkan keyakinan mereka kalau inflasi akan terus meningkat dan suku bunga dapat dinaikkan beberapa kali lagi tahun 2018 ini, dalam notulen rapat tanggal 30-31 Januari yang baru dirilis dini hari Kamis tadi (22/Februari). Laporan ini memperkuat ekspektasi pasar mengenai kenaikan suku bunga pada rapat yang akan digelar tanggal 20-21 Maret mendatang.

FOMC Terakhir Janet Yellen

 

Inflasi Akan Capai 2 Persen Pada 2018 

Notulen FOMC diantaranya menyebutkan, "Anggota (rapat FOMC) setuju bahwa penguatan dalam outlook ekonomi jangka pendek meningkatkan kemungkinan layaknya kenaikan bertahap Federal Funds Rate (suku bunga AS)". Selain itu, diungkapkan pula, "bersama dengan prospek laju aktivitas ekonomi berlanjut dengan solid, memberikan dukungan bagi pandangan bahwa inflasi...kemungkinan akan naik di tahun 2018."

Dalam rapat terakhir Janet Yellen tersebut, terungkap bahwa bukan hanya sebagian besar pejabat tinggi bank sentral AS menilai outlook ekonomi jangka pendek menguat, melainkan juga ada kemungkinan lonjakan. Beberapa orang mengatakan bahwa kebijakan pemangkasan pajak yang diterapkan Presiden Donald Trump bisa mendorong perekonomian naik lebih tinggi dibanding estimasi sebelumnya.

"Hampir semua partisipan (rapat FOMC) terus mengantisipasi inflasi akan naik ke...target 2 persen dalam jangka menengah, seiring dengan pertumbuhan ekonomi tetap mengungguli tren (rata-rata) dan pasar tenaga kerja tetap kuat," demikian tertuang dalam notulen.

 

Dolar AS Menguat, Ekuitas Tumbang

Menanggapi optimisme FOMC, Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang lainnya, sehingga Indeks Dolar AS (DXY) berhasil mencatat kenaikan hari keempat beruntun pada akhir perdagangan sesi Amerika hari Rabu dan ditutup pada 90.12. Rilis notulen juga mendorong yield Obligasi (Treasury) 30-tahunan melesat ke level tertingginya sejak Juli 2015.

Meroketnya keyakinan pasar pada kemungkinan kenaikan FFR pada bulan Maret mendatang ini direspon buruk oleh pasar modal AS. Sekitar dua jam menjelang penutupan pasar, Dow Jones Index yang sempat menghijau, langsung berbalik minus. Kemerosotan ditunjukkan pula oleh S&P500 dan NASDAQ. Indeks saham Jepang, Nikkei 225, pun turut merosot pada pembukaan pasar hari Kamis pagi.

Indeks Saham Dunia 22 Februari 2018

 

Pada gilirannya, goyahnya pasar saham mendorong Yen menguat terhadap Dolar AS pada awal sesi Asia. Saat berita ditulis, pasangan USD/JPY mundur dari level tinggi sepekan dengan mencatat -0.40% ke 107.33. Laju Indeks Dolar AS (DXY) juga tertahan di kisaran 90.09.

Sejak awal Februari, pasar modal AS bergerak sangat volatile lantaran kekhawatiran pelaku pasar mengenai dampak kenaikan suku bunga terhadap korporasi. Ada keresahan kalau-kalau kenaikan suku bunga pinjaman bakal mengekang ekspansi korporasi, sedangkan imbal hasil investasi tetap seperti obligasi justru meningkat dan menarik lebih banyak investor. Namun demikian, para pejabat bank sentral AS telah menyatakan bahwa mereka memandang gejolak ekuitas ini wajar.

Berikutnya, pasar akan menantikan testimoni pimpinan baru bank sentral AS, Jerome "Jay" Powell, di hadapan Kongres AS pada hari Rabu, 28 Februari 2018. Pelaku pasar bakal mengukur lebih lanjut mengenai kecenderungan sang pengganti Janet Yellen ini dalam hal kebijakan moneter, khususnya suku bunga.

282486

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.