OctaFx

iklan

Optimisme Brexit Dinilai Ambisius, Pound Tergelincir

Optimisme seputar brexit pekan lalu ternyata dinilai berlebihan. Menjelang pertemuan penting hari Kamis depan, Pound mulai melemah kembali.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Poundsterling meroket pesat selama Kamis-Jumat lalu, hingga menyentuh rekor tertinggi sejak awal Juli. Namun, posisi GBP/USD merosot 0.6 persen ke kisaran 1.2556 dalam perdagangan hari Senin ini (14/Oktober). Pasalnya, optimisme terkait penyelesaian masalah brexit yang sempat mencuat pekan lalu, ternyata agak berlebihan. Umpan balik dari sejumlah petinggi Uni Eropa mengisyaratkan bahwa ekspektasi kesepakatan brexit masih terlalu dini.

GBPUSD DailyGrafik GBP/USD Daily via Tradingview.com

Pekan lalu, pernyataan bersama antara PM Inggris Boris Johnson dan PM Irlandia Leo Varadkar membuka kemungkinan tercapainya kesepakatan brexit dalam waktu dekat. Sinyalemen negosiator top Uni Eropa, Michel Barnier, juga mendukung ekspektasi tersebut. Akan tetapi, laporan media massa tentang komentar sejumlah petinggi dan diplomat Uni Eropa sepanjang akhir pekan malah mengecilkan potensi tercapainya kesepakatan.

The Guardian melaporkan, Michel Barnier memberitahu sejumlah diplomat Uni Eropa bahwa proposal Inggris menyajikan risiko "tak teruji" yang tidak bisa diterima. Tony Connelly, seorang editor dari media Irlandia RTE, juga mengatakan bahwa salah satu diplomat senior Uni Eropa menilai terlalu ambisius untuk tercapainya sebuah kesepakatan brexit dalam pertemuan tingkat tinggi Uni Eropa yang akan dimulai pada hari Kamis mendatang.

"Pimpinan Negosiator European Commission Michel Barnier mengisyaratkan diskusi belum menciptakan kemajuan memadai untuk menjadi basis kesepakatan, membebani GBP," ungkap Kim Mundy dari Commonwealth Bank of Australia.

Ia menambahkan, "Jika Johnson tak bisa meneken sebuah kesepakatan brexit (dengan Uni Eropa atau parlemen Inggris) pada Sabtu 19 Oktober, maka legislasi tentang penundaan brexit (Benn Act) mengharuskannya untuk meminta Uni Eropa menunda brexit selama tiga bulan hingga 31 Januari 2020. Dalam skenario ini, GBP/USD kemungkinan akan diperdagangkan lebih rendah mendekati 1.2200."

Pokok sengketa utama dalam perundingan brexit masih soal perbatasan Irlandia. Uni Eropa diberitakan tetap tak menginginkan urusan pabean Irlandia Utara dinaungi oleh aturan Inggris. Karenanya, Uni Eropa menuntut agar Inggris memberikan lebih banyak konsesi dalam pengaturan pabean kawasan tersebut untuk memastikan arus barang dan jasa bebas inspeksi perbatasan.

290535

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.