Advertisement

iklan

Pound Nelangsa Seusai Pengunduran Diri PM Inggris

Penulis

+ -

Pengunduran diri Liz Truss menyeret GBP/USD sampai ke bawah 1.1200. Pelaku pasar kini tengah berusaha menelaah implikasi dari pergantian PM Inggris mendatang.

iklan

iklan

Seputarforex - Drama politik terus membebani pound sterling. Menyusul pengunduran diri mendadak PM Liz Truss kemarin (20/Oktober), GBP/USD terseret sampai ke bawah 1.1200-an dan EUR/GBP menanjak terbatas di atas 0.8700-an. Pelaku pasar kini tengah berusaha menelaah implikasi dari situasi ini terhadap perekonomian Inggris.

GBPUSD Daily Grafik GBP/USD Daily via TradingView

 

Mengapa PM Inggris Mengundurkan Diri?

Kisruh politik Inggris bukanlah hal baru. Setelah Liz Truss terpilih sebagai Perdana Menteri baru pada bulan September, Menteri Keuangan Kwasi Kwarteng mengajukan rencana fiskal yang teramat kontroversial. Rencana fiskal itu berpotensi melipatgandakan utang pemerintah Inggris, sehingga memicu aksi jual masif atas obligasi pemerintah (gilt). Bank sentral Inggris (BoE) bahkan sempat terpaksa menjalankan operasi pembelian obligasi demi menstabilkan situasi, padahal langkah itu berlawanan dengan pengetatan moneter yang sedang dijalankannya.

Truss lantas berupaya mengatasi krisis kredibilitas tersebut dengan memecat Kwarteng dan menggantikannya dengan Jeremy Hunt. Namun, keputusan itu disambut dingin oleh publik dan pasar keuangan.

Para pejabat separtainya sendiri menganggap Truss "lempar batu sembunyi tangan", karena rencana fiskal Kwarteng sejatinya berbasis pada platform yang diusung oleh Truss. Lawan-lawan politiknya memanfaatkan situasi untuk mendesak Truss agar mengundurkan diri. Situasi selanjutnya makin kacau lantaran rencana fiskal baru yang diajukan oleh Hunt tak mampu memperbaiki kredibilitas pemerintah Inggris.

Pada hari Kamis (20/Oktober), Liz Truss akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Ia akan tetap menjabat hingga sepekan ke depan selama proses pemilihan penggantinya berlangsung. Dengan demikian, Truss akan menjadi Perdana Menteri dengan masa jabatan paling singkat dalam sejarah Inggris.

 

Bagaimana Dampaknya Terhadap Pound Sterling?

Pound sterling awalnya menguat tipis dalam merespons pengunduran diri Truss, tetapi kemudian langsung jatuh kembali. Hal ini mengisyaratkan keraguan pelaku pasar dalam menyikapi situasi sekarang. Para analis dan trader institusional juga cenderung wait-and-see, karena perkembangan politik Inggris rentan "nyelonong" ke arah yang tak terduga.

"Awalnya, ini kemungkinan menghapus premi ketidakpastian keluar dari pasar, tetapi (perkembangan berikutnya) tergantung pada siapa yang mengambil alih (jabatan PM Inggris), (karena) kita membutuhkan sosok yang reliabel untuk memimpin," kata Viraj Patel, pakar strategi makro global dari Vanda Research.

"Masih ada ketidakpastian besar tentang apakah partai Konservatif dapat mempertahankan kekuasaan. Kebijakan ekonomi (yang diajukan Truss) sudah mati, sehingga pasar tak memiliki banyak informasi autentik untuk bergerak, meskipun ada peristiwa-peristiwa yang mengejutkan dalam 24 jam terakhir," kata Neil Wilson, kepala analis pasar Markets.com.

"Peristiwa (pengunduran diri Truss) ini tak mengejutkan, karena tekanan telah berkembang dalam beberapa hari terakhir. Kami tak mengharapkan banyak penurunan atas Pound dari peristiwa ini, dan bahkan, (kami) tak akan terkejut jika ada sejumlah pembelian (pound) karena pasar mencari kenyamanan dari alternatif (PM Inggris yang lebih baik)," papar Joel Kruger, pakar strategi pasar dari LMAX Group, "(Namun) terkait GBP/USD, kita akan membutuhkan penembusan ke atas 1.1500 untuk melepas tekanan turun."

Pelaku pasar berikutnya akan menyoroti siapa saja calon PM Inggris berikutnya beserta janji-janji mereka, sembari tetap memerhatikan manuver-manuver bank sentral Inggris. Pound sterling juga dapat menjadi lebih peka terhadap kekuatan dolar AS dan fluktuasi sentimen risiko global di tengah kekosongan arah kebijakan yang jelas di Inggris.

Download Seputarforex App

298419
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.