Rupiah Kembali Tembus Level Rp14,000

Rupiah menguat signifikan, salah satunya karena BPS merilis data pertumbuhan ekonomi yang menunjukkan angka lebih tinggi dibandingkan perkiraan.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Seputarforex - Pada sesi perdagangan Selasa (05/November), Rupiah perkasa terhadap Dolar AS dan berhasil melewati level "keramat" Rp14,000. Berdasarkan grafik TradingView di bawah ini, kurs USD/IDR mencapai Rp13,965, atau turun 0.25% dari Open Harian. Ini menjadi kali kedua bagi Rupiah untuk menembus level Rp14,000 dalam kurun waktu 3 bulan terakhir.

nilai tukar rupiah

Menurut Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, penguatan Rupiah didorong oleh positifnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, yang naik 0.76% ke area 6,227. Selain itu, adanya rilis data ekonomi AS yang tidak sesuai dengan ekspektasi pasar membuat Dolar AS tertekan, sehingga Rupiah dapat menguat.

"Pergerakan Rupiah hari ini cukup stabil, ya juga dipengaruhi oleh pergerakan IHSG yang positif," kata Josua.

 

PDB Indonesia Lebih Tinggi Dari Perkiraan

Selain peningkatan pada IHSG, penguatan Rupiah hari ini juga ditopang oleh rilis data pertumbuhan ekonomi (PDB) Indonesia yang mengungguli ekspektasi pasar. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2019 mencapai 3.06%. Meski lebih rendah dibandingkan kuartal II-2019 (4.20%), pencapaian dalam kuartal III-2019 itu masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan ekspektasi pasar di 3.05%.

pdb indonesia

Hal yang sama juga ditampilkan pada data PDB dalam basis tahunan (YoY), yang menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi sebesar 5.02%, lebih tinggi dibandingkan ekspektasi (5.01%). Sama dengan data bulanan, rilis PDB Indonesia secara YoY juga lebih rendah dari periode sebelumnya (5.05%). Kepala BPS Suhariyanto memang tidak memungkiri adanya perlambatan laju perekonomian yang terjadi saat ini.

"Perekonomian global saat ini masih diliputi ketidakpastian. Ada tensi geopolitik di beberapa kawasan, harga komoditas yang berfluktuatif mengarah ke penurunan. Hal ini membawa dampak ke ekonomi Indonesia," kata Suhariyanto dalam jumpa pers kemarin.

Ia menerangkan PDB masih didominasi oleh sektor konsumsi rumah tangga, yang mencakup lebih dari separuh dari total PDB Indonesia, yaitu 56.52%. Selanjutnya, disusul dengan komponen investasi yang mencapai 32.32%, eskpor barang dan jasa sebesar 18.75%, konsumsi pemerintah 8.36%, perubahan inventori 1.52%, dan konsumsi lembaga non-profit rumah tangga 1.25%.

Sementara dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi didorong oleh hampir seluruh jenis lapangan usaha, antara lain lapangan usaha industri, pertanian, perdagangan, dan konstruksi. "Jika dilihat dari spasial, struktur perekonomian kita masih didominasi dari Pulau Jawa dengan 59.15%," terang Suhariyanto.

Ia tetap optimistis PDB pada kuartal IV akan mengalami kenaikan. Hal tersebut didukung dengan adanya momen Hari Raya Natal dan akhir tahun yang diprediksi akan meningkatkan belanja konsumen. Selain itu, pertumbuhan investasi asing di kuartal III-2019 juga cukup signifikan, yakni sebesar 17.8%, level tertinggi sejak kuartal IV-2015.

290842

Sudah terjun di dunia jurnalis sejak 2013. Aktif menulis di media cetak, online, dan website pribadi dengan berbagai macam topik. Selain itu, juga trading saham sejak 2018.