Advertisement

iklan

Rupiah Melemah Dibayangi Corona Dan Rilis GDP

Nilai tukar Rupiah melemah terhadap Dolar AS karena faktor eksternal dan internal yang membebani sentimen pasar. Namun, pemerintah masih berpandangan optimis.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Nilai tukar rupiah melemah terhadap Dolar AS pada perdagangan hari Rabu (05/Februari). Berdasarkan grafik TradingView berikut ini, kurs Dolar AS terhadap Rupiah menguat 0.23% dari level Open harian ke Rp13,725.

USD/IDR

Namun menurut data dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar Rupiah dipatok di angka 13.717 per Dolar AS, mengalami kenaikan dibandingkan hari sebelumnya yang ada di kisaran 13.760 per dolar AS.

 

Virus Corona Masih Jadi Katalis

Meskipun sempat menguat di awal sesi pembukaan hari ini, Rupiah diragukan bisa mempertahankan posisinya. Sentimen negatif terhadap mata uang negara-negara berkembang masih dilatarbelakangi oleh penyebaran virus Corona yang kian meluas di berbagai negara hingga menimbulkan banyak korban jiwa.

Mengutip data satelit pemetaan ArcGis, jumlah kasus Corona terus bertambah menjadi 20,155 di seluruh dunia, dan sekitar 19,000 di antaranya terjadi di China. Hal ini membuat pelaku pasar masih menganggap virus Corona belum sepenuhnya reda.

“Pemerintah China pun membuka bantuan dari negara lain untuk mengatasi penyebaran virus Corona. Pihak Beijing setuju untuk mempersilakan ahli- ahli dari AS untuk membantu perjuangan melawan virus ini,” pangkas Ibrahim, direktur TRFX Garuda Berjangka.

 

GDP Indonesia Turun, Pemerintah Masih Optimis

Selain masalah Corona, pergerakan Rupiah terhadap Dolar AS hari ini turut dibebani oleh rilis data GDP Indonesia yang menunjukkan penurunan. Pada kuartal IV/2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam basis tahunan melambat dari 5.02 persen ke 4.97 persen.

Sementara itu, GDP dalam basis kuartalan juga dirilis lebih rendah dari periode sebelumnya. Data tersebut turun dari 3.06 persen ke level -1.74 persen, menandakan kembalinya angka GDP kuartalan Indonesia ke area minus untuk pertama kalinya dalam 3 kuartal terakhir.

faktor domestik

Terkait hal ini, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap tumbuh, hanya saja pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan ekspektasi dan level kuartal sebelumnya.

"Mempertahankan 5 persen di situasi sekarang adalah tidak gampang. 5.02 persen di situasi yang menunjukkan perlemahan ini cukup baik," papar Suhariyanto dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta. Ia merujuk pada data GDP tahunan di kuartal sebelumnya yang direvisi naik menjadi 5.02 persen.

291893

Alumni Sastra Inggris Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dan telah aktif menjadi content writer lebih dari 6 tahun di berbagai macam platform. Saat ini bergabung di Seputarforex.com sebagai jurnalis berita, artikel dan konten-konten menarik lainnya.