iklan

The Fed Abaikan Kenaikan Yield Obligasi, Dolar Mentereng

Dolar AS mendominasi pasar forex menjelang rilis data Nonfarm Payroll nanti malam, lantaran pernyataan Ketua The Fed yang mengabaikan gejolak yield obligasi.

iklan

iklan

Seputarforex - Dolar AS kembali mendominasi pasar forex hari ini (5/Maret), menjelang rilis data Nonfarm Payroll nanti malam. Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell tadi pagi masih tetap bernada dovish, tetapi sikap abainya terhadap kenaikan yield obligasi justru memicu penguatan USD. 

Saat berita ditulis pada awal sesi Eropa, Greenback terpantau menguat dalam semua major pairs. USD/JPY memasuki rentang 108.20-an, rekor terkuatnya sejak Juni 2020. GBP/USD dan EUR/USD masing-masing tergelincir sekitar 0.2 persen, sementara NZD/USD dan AUD/USD masing-masing ambruk sekitar 0.4 persen.

USDJPY DailyGrafik USD/JPY Daily via Tradingview.com

Dalam pidatonya dini hari tadi, Ketua The Fed Jerome Powell bersikukuh mempertahankan niatnya untuk mempertahankan kebijakan moneter longgar dalam waktu lama atau hingga inflasi mencapai lebih dari 2 persen. Pernyataan dovish seperti itu saja biasanya berefek bearish bagi USD. Tetapi dalam kesempatan yang sama, ia juga menegaskan sikap The Fed yang tidak akan mempedulikan gejolak di pasar obligasi saat ini.

Menurut Powell, aksi jual obligasi yang memicu kenaikan yield signifikan belakangan ini tidaklah "tidak teratur" dan tidak akan mendorong suku bunga jangka panjang naik terlalu tinggi sehingga membutuhkan campur tangan The Fed. Alhasil, yield obligasi AS kembali melejit dan aset-aset high risk menghadapi aksi jual menyusul pidatonya.

Yield obligasi US Treasury bertenor 10-tahunan yang sempat melandai ke kisaran 1.42% pada awal pekan, kini telah melambung lagi ke kisaran 1.55%. Posisinya sekarang bahkan jauh lebih tinggi dari rekor tertinggi setahun yang tercapai pada pekan lalu. Kenaikan yield obligasi AS selanjutnya mendorong apresiasi USD, khususnya versus yen dan euro yang sama-sama berstatus mata uang pendana (funding currency) dalam transaksi carry trading. Tapi efeknya mungkin akan lebih cepat pupus pada mata uang komoditi.

"Pasar mendengarkan bank-bank sentral dan jika mereka akan mempertahankan (kebijakan moneter longgar -red) dalam waktu lama, itu artinya inflasi jangka panjang akan lebih tinggi dan itulah mengapa Anda menyaksikan aksi jual pasar ekuitas dan obligasi," kata Joseph Capurso, seorang analis mata uang dari CBA, "Pasar mata uang bereaksi pada peningkatan volatilitas di kedua pasar tersebut."

Meski demikian, Capurso optimistis mata uang komoditi akan menguat kembali segera setelah pergolakan di pasar obligasi ini berakhir. Katanya, "Setelah pergolakan obligasi usai, setelah volatilitas memudar, mata uang-mata uang komoditas (Aussie dan Kiwi) akan bisa mendaki lagi karena harga-harga komoditas tidak jatuh."

Harga minyak mentah tipe WTI dan Brent kembali mencatat kenaikan 1.4 persen dalam perdagangan hari ini, sehingga masing-masing menduduki level USD64.80 dan USD68.55 per barel. Harga bijih besi -komoditi ekspor utama Australia- di pasar futures juga masih bertengger pada rekor tertinggi sejak 2011.

Download Seputarforex App

295317

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


1 Apr 2021

19 Apr 2021
Madewa
Kenapa pernyataan dovish malah memicu penguatan usd?
A Muttaqiena
Pernyataan dovish-nya bukan hal baru (Ketua The Fed sebelumnya pernah menyampaikan pernyataan yang sama). Yang baru justru sikapnya mengabaikan kenaikan yield obligasi. Padahal, kenaikan yield yang dibiarkan terus-menerus akan menaikkan bunga riil, sehingga hal ini mendorong penguatan USD.

Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone