Advertisement

iklan

Yen Rontok Karena PM Jepang Akan Umumkan Kondisi Darurat

Peningkatan jumlah kasus COVID-19 di Tokyo mendorong PM Jepang Shinzo Abe untuk mengumumkan kondisi darurat di sejumlah prefektur.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Dolar AS kembali menguat versus Yen Jepang dalam perdagangan hari ini (6/April), sehubungan dengan kabar bahwa PM Jepang Shinzo Abe akan memberlakukan kondisi darurat mulai besok dalam rangka membendung penyebaran infeksi virus Corona (COVID-19). Saat berita ditulis pada awal sesi Eropa, USD/JPY diperdagangkan menguat sekitar 0.7 persen ke kisaran 109.30-an. Yen juga melemah terhadap mayoritas mata uang mayor lain seiring dengan meningkatnya sentimen risk-on di pasar keuangan global.

USDJPY DailyGrafik USD/JPY Daily via Tradingview.com

Koran Yomiuri melaporkan bahwa PM Shinzo Abe akan mengumumkan kondisi darurat secepat hari Selasa besok, karena ibukota Tokyo sudah mencatat lebih dari 1000 kasus positif COVID-19. Pertumbuhan jumlah kasus di Jepang tergolong lambat (jika tidak memperhitungkan kapal pesiar Diamond Princess), sehingga pemerintah Jepang relatif longgar dalam menyikapi pandemi. Meski demikian, tekanan dari Gubernur Tokyo dan Osaka semakin meningkat agar pemerintah melaksanakan kebijakan tegas guna membendung wabah, karena kedua prefektur ini mengalami lonjakan jumlah kasus yang meluas ke wilayah di sekitarnya.

Selaras dengan perkembangan terkini, Abe menyatakan akan memberlakukan kondisi darurat di prefektur Tokyo, Osaka, Kanagawa, Saitama, Chiba, Hyogo, dan Fukuoka. Ia juga mengumumkan bahwa pemerintah akan menganggarkan lebih dari 6 Triliun Yen dalam paket stimulus untuk subsidi tunai.

"(Deklarasi ini) diperkirakan akan berlangsung dalam periode satu bulan," kata Abe, "Deklarasi kondisi darurat ini untuk memastikan sistem pelayanan medis tetap tangguh dan meminta kerjasama lebih dari orang-orang untuk menghindari kontak antara satu sama lain demi mengurangi infeksi seoptimal mungkin."

Kondisi darurat di Jepang tidak serta-merta berimplikasi pada lockdown seperti yang telah diberlakukan oleh negara-negara lain. Namun, dalam kondisi darurat, kepala daerah masing-masing prefektur akan dapat menuntut agar layanan non-esensial, lembaga pendidikan, dan fasilitas publik ditutup. Apabila jumlah pasien meroket, gubernur dapat mengambil alih lahan untuk mendirikan fasilitas medis sementara. Perusahaan-perusahaan dari bidang tertentu juga bisa dipaksa untuk menyediakan barang-barang esensial bagi kebutuhan negeri.

Efek ekonomi ke depan diperkirakan cukup besar. Estimasi Goldman Sachs menunjukkan bahwa jika Tokyo melakukan lockdown selama sebulan, maka permintaan masyarakat akan jatuh 40 persen. Akibatnya, GDP nasional berpotensi menurun 0.7 persen.

292549

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.