Advertisement

iklan

Fakta-Fakta Tentang Kesepakatan Dagang AS-China Fase Pertama

Kesepakatan dagang AS-China fase pertama bukan hanya memuat soal pembatalan tarif impor bulan ini. Ada beberapa poin lain yang penting untuk diperhatikan.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Pada hari Sabtu dini hari (WIB), Amerika Serikat dan China telah mencapai konsensus untuk kerangka kesepakatan dagang fase pertama. Berdasarkan konsensus tersebut, AS menarik rencana kenaikan tarif impor terhadap produk-produk asal China yang sedianya akan diberlakukan pada hari Minggu kemarin (15/Desember). Hal ini dikonfirmasi oleh Wakil Menteri Perdagangan China Wang Shouwen dan kantor Perwakilan Dagang AS.

Kesepakatan Dagang AS-China Fase Pertama

"Amerika Serikat dan China telah mencapai sebuah perjanjian historis yang dapat diberlakukan dalam kesepakatan dagang fase pertama yang menuntut reformasi struktural dan perubahan lain dalam rezim perdagangan dan ekonomi China di area HAKI, transfer teknologi, agrikultur, jasa keuangan, dan mata uang dan forex," ungkap pernyataan resmi kantor Perwakilan Dagang AS.

Dalam pernyataan terpisah, Wang mengamini poin-poin tersebut, sembari menegaskan, "Kesepakatan ini dapat membantu ekspansi kerjasama perdagangan dan ekonomi antara kedua negara dan mengendalikan sengketa dagang secara efektif."

Menyaksikan tingginya euforia bursa saham hari ini, kesepakatan tersebut disambut baik oleh pelaku pasar. Namun, banyak juga yang menilai perjanjian tersebut masih simpang siur. Apa saja yang sebenarnya diketahui oleh publik tentang kesepakatan dagang AS-China fase pertama? Berikut ini fakta-faktanya, dikompilasi dari beberapa laporan South China Morning Post.

  1. Poin-poin yang disetujui Washington: AS membatalkan rencana pemberlakuan kenaikan tarif 15 persen terhadap USD160 Miliar produk asal China yang sedianya dijadwalkan pada tanggal 15 Desember lalu. AS juga sepakat memangkas tarif impor 15 persen terhadap USD120 Miliar produk asal China menjadi 7.5 persen, sedangkan tarif impor sebesar 25 persen tetap akan diberlakukan terhadap USD250 Miliar produk asal China.
  2. Poin-poin yang disetujui Beijing: China akan meningkatkan pembelian produk agrikultur dan energi dari AS (nilai pembelian belum ditentukan), mempertimbangkan reformasi perlindungan hak kekayaan intelektual di industri farmasi (langkah spesifik belum dijelaskan), membuka akses lebih luas ke sektor jasa untuk perusahaan asing, menghukum pemalsuan produk di platform e-commerce, memitigasi tuduhan manipulasi mata uang (langkah spesifik belum dijelaskan), dan menyetop transfer teknologi paksa terhadap perusahaan asing (langkah spesifik belum dijelaskan).
  3. Kedua negara masih perlu memproses penerjemahan terperinci dan peninjauan hukum terhadap teks perjanjian, serta mendiskusikan rencana penandatanganan resminya. Menurut Penasehat Ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow, proses ini mungkin membutuhkan waktu selama beberapa pekan.
  4. Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping direncanakan tidak akan meneken perjanjian tersebut. Dua tokoh yang didapuk untuk menandatanganinya adalah Wakil Perdana Menteri China Liu He dan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer.

Di luar fakta-fakta yang dianggap cukup abstrak oleh sejumlah pihak tersebut, ada pula beberapa hal yang masih berpotensi menjadi biang sengketa di masa depan. Utamanya, AS tetap akan menggunakan tarif impor sebagai bahan tawar-menawar dalam negosiasi di masa depan. Hal ini disampaikan oleh Trump di Gedung Putih, beberapa jam setelah konsensus diumumkan. Katanya, "Karena China ingin melihat tarif dibatalkan, dan kita OK dengan itu, tetapi mereka akan dipergunakan sebagai meja negosiasi untuk kesepakatan fase kedua."

Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Zheng Zheguang mengatakan bahwa China berkomitmen untuk bekerja sama dengan AS dan menghindari konfrontasi, tetapi tidak akan tinggal diam terhadap "retorika yang tidak benar" dalam masalah kedaulatan dan keamanan. Hal ini disampaikan sehubungan dengan legislasi terkait isu HAM Hong Kong dan Xinjiang yang santer dibahas di parlemen AS.

291326

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


11 Jun 2020

Kesulitan Akses Seputarforex?

Lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone