IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Dunia, Dorong Minat Beli Dolar AS

Proyeksi pertumbuhan dunia versi IMF memicu kekhawatiran investor karena menunjukkan perkiraan ekonomi yang amat pesimis bagi negara maju maupun berkembang.

acy

iklan

Advertisement

iklan

Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di kisaran tertinggi dua pekan dan menguat nyaris 0.10 persen ke level 96.39 pada perdagangan hari Selasa ini (22/Januari). Laporan International Monetary Fund (IMF) terkini yang dirilis tepat sehari setelah laju GDP China dilaporkan terendah sejak 2009, mendorong kemerosotan minat risiko investor. Dolar AS dan Yen terdongkrak karena perannya sebagai Safe Haven, sementara Dolar Aussie dan mata uang lain yang rentan risiko kembali merosot. Saat berita ditulis, pasangan mata uang AUD/USD tercatat menurun 0.30 persen ke kisaran 0.7139, sedangkan Yen unggul versus Pounds dan Euro.

Indeks Dolar AS Setelah IMF Revisi Proyeksi Pertumbuhan Dunia

 

Proyeksi Pertumbuhan Dunia Memburuk Bagi Negara Maju Maupun Berkembang

Dalam laporan World Economic Update terbarunya, IMF mengungkapkan bahwa perekonomian global diproyeksikan hanya tumbuh 3.5 persen tahun ini, dan cuma bakal naik tipis 3.6 persen pada tahun depan. Outlook untuk tahun 2019 dan 2020 ini masing-masing lebih rendah 0.2 persen dan 0.1 persen dari proyeksi IMF sebelumnya, yang dipublikasikan pada bulan Oktober 2018. Penyebabnya, perang dagang AS dengan China, makin ketatnya kondisi pasar keuangan dunia, serta peningkatan volatilitas pada aset-aset berisiko tinggi.

Proyeksi IMF mematok outlook ekonomi yang memburuk bagi negara maju maupun berkembang. Pertumbuhan AS diperkirakan hanya melaju 2.5 persen pada 2019 dan 1.9 persen pada 2020. Kawasan Eropa diperkirakan mendingin jadi hanya tumbuh 0.7 persen pada tahun 2019 (sangat drastis apabila dibandingkan dengan pertumbuhan 3.8 persen pada 2018), sebelum bangkit ke 2.4 persen pada 2020.

Pertumbuhan di Asia pun diproyeksikan hanya tumbuh 6.3 persen pada 2019 (versus 6.5 persen pada 2018), serta melandai lagi hingga 6.4 persen pada 2020. Secara khusus, China diperkirakan hanya tumbuh 6.2 persen baik pada tahun 2019 maupun 2020, selip cukup besar dibandingkan pencapaian 6.6 persen pada 2018.

 

Situasi Bisa Memburuk Jika Perang Dagang Panas Lagi

Patut untuk dicatat pula bahwa proyeksi pertumbuhan dunia versi IMF ini dibuat dengan mengasumsikan takkan tercapai kesepakatan damai antara AS-China pada negosiasi dagang yang memiliki deadline tanggal 1 Maret mendatang. Lebih lanjut, IMF mengingatkan adanya ancaman lebih besar bagi pertumbuhan dunia apabila konflik perdagangan tak juga mereda.

"Sejumlah peristiwa katalis pada perekonomian-perekonomian utama bisa memicu kemerosotan lebih luas dalam sentimen investor serta perubahan harga aset-aset keuangan yang tajam dan mendadak di tengah meningkatnya beban utang (kenaikan suku bunga di berbagai negara -red). Pertumbuhan global kemungkinan akan meleset dari proyeksi dasar jika peristiwa seperti itu terjadi dan memicu episode risk-off secara umum," demikian diungkapkan oleh IMF, sebagaimana dikutip oleh Yahoo Finance.

287099

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


30 Apr 2019