Advertisement

iklan

USD/JPY Menanjak Lagi Pasca Rilis Notulen Rapat BoJ

Rupanya ada anggota rapat BoJ yang menyarankan agar stimulus moneter ditambah. Hal ini membuat Yen melemah dalam pair USD/JPY dan EUR/JPY.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Pasangan mata uang USD/JPY menguat kembali hingga mencapai level tertinggi pada level 111.69 dalam perdagangan hari Rabu ini (20/Maret), setelah rilis notulen rapat bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ). Saat berita ditulis pada pertengahan sesi Eropa, Yen masih mencatat pelemahan harian sebesar 0.15 persen terhadap Dolar AS pada level 111.58, meskipun pergerakannya telah terkoreksi. Yen juga lumpuh versus Euro dengan posisi EUR/JPY naik 0.12 persen ke level 126.63.

USDJPY Daily

 

Jepang Butuh Stimulus Moneter Tambahan?

Notulen rapat bulan Januari yang dipublikasikan pada sesi Asia, menunjukkan bahwa para pejabat tinggi Bank of Japan bersilang pendapat mengenai bagaimana mereka akan mengubah kebijakan moneter ke depan, di tengah peningkatan ancaman perlambatan ekonomi global terhadap pemulihan ekonomi dalam negeri. Meski mayoritas anggota rapat sepakat untuk mempertahankan program stimulus moneter saat ini, tetapi salah satu diantaranya menyarankan agar bank sentral bersiap-siap meluncurkan stimulus tambahan.

"Dikarenakan pencapaian target inflasi telah tertunda, tak baik mengadopsi posisi tak berbuat apa-apa hingga terjadinya sebuah krisis serius," ujar sang anggota tersebut. Namun, anggota rapat lain menepisnya dengan mengatakan bahwa bertindak terlalu terburu-buru di tengah ketidakpastian justru bisa mengakibatkan ketidakseimbangan keuangan dan gejolak yang tidak perlu.

 

Target Inflasi Jepang Jadi Sorotan

Perbedaan pendapat diantara anggota rapat kebijakan moneter BoJ bukanlah hal baru. Namun, isi notulen kali ini mendorong pelaku pasar untuk kembali menyoroti target inflasi Jepang serta probabilitas realisasinya. Data terbaru menunjukkan laju inflasi tahunan hanya 0.2 persen (Year-on-Year) pada bulan Januari 2019. Padahal, target inflasi BoJ telah dipatok pada level 2 persen.

Besarnya kesenjangan dengan realita membuat target tersebut kemungkinan tidak akan dicapai hingga bertahun-tahun yang akan datang. Karena kebijakan moneter BoJ sudah terlalu ekspansif, maka muncul opini agar target inflasinya saja yang diubah.

David Cottle dari DailyFX mencatat, "Target inflasi kembali menjadi pusat perhatian. Jika cerita-cerita (seperti termuat dalam notulen ini) terus bermunculan, (maka) akan meningkat pula spekulasi bahwa (target inflasi) bisa diubah. Apabila (spekulasi) itu mendapatkan pemicu, maka bisa memberikan sejumlah dukungan dari data ekonomi domestik yang saat ini tak tersedia bagi Yen, dikarenakan diskoneksi nyata yang terjadi saat ini antara performa ekonomi dan kebijakan moneter."

287831

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.