Benarkah NFP Mei Telah Mendesak Prospek Fed Rate Cut?

288802

Melihat kemungkinan Fed untuk memotong suku bunga dalam tahun ini, apakah sekarang saat yang tepat untuk sell USD/JPY?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Non Farm Payroll AS hanya meningkat 75k di bulan Mei 2019, di bawah perkiraan konsensus 175k, dan lebih rendah dari kenaikan 224k di bulan April. Dua bulan sebelumnya, NFP direvisi turun sebesar 75k. Setelah revisi tersebut, laju rata-rata NFP dalam tiga bulan terakhir menjadi 151k. Sementara itu, Tingkat pengangguran tetap stabil di 3.6%. Jika pasar tenaga kerja dapat mempertahankan pertumbuhan pekerjaan mendekati 100k per bulan, kemungkinan meningkatnya tingkat pengangguran dapat dihindari.

Pada titik ini, konsumen, yang mewakili sekitar 70% perekonomian telah menjadi penopang pertumbuhan AS. Namun, prospek pengeluaran mereka menjadi goyah ketika pertumbuhan upah terlihat melambat selama tiga bulan berturut-turut. Ini belum pernah terjadi sejak 2009.

Merespon rilis data ketenagakerjaan dan prospek di atas, Fed Fund Futures memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 25 bps pada bulan Juli, dan hampir 75 bps pada akhir 2019. Yield Obligasi AS bertenor dua tahun turun sebanyak 10 basis poin menjadi 1.78%, dekat level terendah 2019 yang tercapai Rabu pekan lalu. Sementara itu, Yield Obligasi AS yang bertenor 10-tahunan merosot sebanyak 6 basis poin menjadi 2.05%. Dolar AS pun melemah hingga 0.4%.

Fed Rate Cut

Walaupun hasil laporan ketenagakerjaan AS periode Mei 2019 diyakini telah meningkatkan tekanan pada The Fed untuk mempertimbangkan kebijakan longgar. Namun, data-data tersebut agaknya belum cukup lemah untuk mendorong penurunan suku bunga pada pertemuan FOMC Juni. Kemungkinan besar, lemahnya data tenaga kerja hanya akan memicu komentar bank sentral yang lebih dovish.

Meski bukti perlambatan momentum ekonomi dalam jangka menengah sudah semakin banyak, kami memperkirakan bahwa The Fed akan tetap mempertahankan kebijakannya. Masih terlalu dini untuk memperkirakan penurunan suku bunga, karena pengangguran yang rendah akan memperkuat belanja konsumen.

Namun jika ketegangan perdagangan terus meningkat, para pembuat kebijakan mungkin akan terpaksa "bertindak" pada akhir tahun ini. Iklim perdagangan yang berubah dengan cepat nyatanya dapat menimbulkan konflik kepentingan dengan sikap sabar The Fed terkait kebijakan suku bunga.

 

Libur Lebaran Usai, Apakah Rupiah Mulai Bergeliat?

Setelah rehat selama satu minggu karena libur Lebaran dan cuti bersama yang menyebabkan Rupiah "libur" selama satu minggu, Rupiah terlihat kembali menguat pada hari Senin pekan ini. Rupiah diyakini menguat karena efek peningkatan konsumsi beberapa hari dan saat Lebaran.

Lalu bagaimana setelah Lebaran usai? Apa yang akan terjadi dengan Rupiah Melihat kondisi kondisi politik yang senyap serta bisnis yang baru mulai bergulir kembali, maka kami memprediksikan bahwa Rupiah akan berada dalam "masa tunggu" dan cenderung flat. Kalaupun bergerak, maka kemungkinan akan dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Melihat kondisi ini, maka kami melihat bahwa Rupiah akan sedikit melemah menuju area resistance dengan tujuan jangka panjang masih menguat.

Untuk minggu ini, kami melihat IDR akan berada di area Rp14,271-14,395 per Dolar AS.

analisa rupiah

Sumber: CNBC.com

 

Instrumen Trading Pilihan Kami

EUR/USD

Pair ini diperkirakan naik tipis, seiring dengan keengganan ECB untuk memangkas suku bunga yang berpotensi menunjang harga ke area 1.1350 dalam minggu ini.

EURUSD

 

USD/JPY

Dolar AS akan melemah terhadap Yen Jepang. NFP yang di bawah ekspektasi telah meningkatkan ekspektasi Fed Rate Cut. Dengan pertimbangan tersebut, USD/JPY bisa mencapai level 107.80 di pekan ini.

USDJPY

 

XAU/USD

Harga emas kemungkinan turun tipis, dengan perkiraan target pelemahan di area 1310 selama pekan ini.

XAUUSD

 

US30USD

Diproyeksi melemah tipis, Indeks Saham ini menyimpan kemungkinan penurunan lebih lanjut ke 25841.

Indeks Dow Jones

 


Franky Nangoy

Market Strategist - Fullerton Markets

Dengan lebih dari 15 tahun pengalaman profesional dalam forex, Franky telah mengambil berbagai peran di industri ini. Ia menjadi konsultan dan analis untuk broker lokal dan internasional, dan saat ini memegang peranan sebagai Market Strategist di Fullerton Research, dimana ia bertanggung jawab mempersiapkan materi pembelajaran secara rutin, seperti Weekly Market Research dan webinar secara langsung untuk Audience global. Kelebihannya terletak pada analisis pasar Indonesia.

Pada tahun 2018, Franky menyelesaikan serangkaian Roadshow di 11 kota di seluruh Indonesia, menjangkau para trader, baik yang pemula maupun berpengalaman dengan wawasan dan kebijaksanaan terkait forex.

Arsip Analisa By : Fullerton Markets

Didirikan sejak 2015, broker Fullerton Markets menawarkan trading forex pada MT4 dengan spread rendah dan layanan menyalin trader sukses. Fitur yang bernama CopyPip itu memuat lebih dari 300 Signal Provider yang bisa disalin dengan mudah dan membuka peluang pendapatan tambahan bagi para profesional. Profil Selengkapnya

Pair Rate    
AUD/JPY 74.19 74.19 -1
AUD/USD 0.6818 0.6818 -3
EUR/CHF 1.0947 1.0947 9
EUR/USD 1.1062 1.1062 10
GBP/JPY 140.67 140.67 30
GBP/USD 1.2928 1.2928 25
NZD/USD 0.6402 0.6402 0
USD/CAD 1.3218 1.3218 -6
USD/CHF 0.9896 0.9896 -1
USD/JPY 108.81 108.81 3
18 Nov 09:10