Advertisement

iklan

Rekonsiliasi, Perdagangan, Dan BI Akan Pengaruhi Rupiah Minggu Ini

289233

Minggu lalu, Rupiah menguat akibat testimoni ketua The Fed yang dianggap dovish. Minggu ini, data perdagangan Indonesia, statement BI, Retail Sales AS, dan pidato Powell akan menjadi katalis.

acy

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga pentupan pasar minggu lalu (12 Juli 2019), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Dalam dua minggu terakhir, Rupiah menjadi mata uang terkuat di Asia. Minggu lalu, mata uang Garuda bahkan kembali terapresiasi dan ditutup pada level 14007 per US Dollar, atau menguat 0.53% dibandingkan harga penutupan minggu sebelumnya.

Faktor utama penguatan Rupiah yang cukup tajam disebabkan oleh anjloknya indeks USD, menyusul pernyataan ketua The Fed Jerome Powell dalam testimoninya di hadapan kongres, yang mengkonfirmasi pemotongan suku bunga pada bulan ini. Sementara itu, Bank Indonesia (BI) belum mengisyaratkan akan melakukan kebijakan pelonggaran moneter.

Di antara bank-bank sentral kawasan Asia, BI memang dianggap yang tidak bersikap dovish, sementara bank sentral Malaysia dan India telah memangkas suku bunga acuannya, dan bank sentral China dan Thailand juga memberi isyarat kemungkinan rate cut.

Minggu ini akan kembali digelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI. Diperkirakan, BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan (BI 7 day Repo Rate) pada level +6.00%. Neraca perdagangan Indonesia bulan Juni juga akan menjadi perhatian pelaku pasar. Seperti diketahui, bulan Mei lalu Rupiah sempat melemah tajam akibat defisit neraca perdagangan bulan April yang mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah (sejak data neraca perdagangan dirilis tahun 1960), yaitu sebesar USD2.50 miliar. Meski berhasil surplus sebesar USD0.21 milliar pada bulan Mei, tetapi data perdagangan untuk bulan Juni diperkirakan defisit USD1.38 miliar.

Sentimen positif dari dalam negeri adalah pertemuan antara capres Joko Widodo dan Prabowo Subianto kemarin, yang dianggap sebagai rekonsiliasi. Rekonsiliasi akan menyebabkan iklim politik yang lebih kondusif.

Sementara itu, dari AS akan dirilis data penjualan ritel untuk bulan Juni, yang diperkirakan turun ke +0.2% m/m, dibandingkan bulan sebelumnya yang +0.5%. Juga akan ada pidato ketua The Fed Powell mengenai kebijakan moneter pada pertemuan G7 di Prancis.

Secara fundamental maupun teknikal, minggu ini Rupiah masih cenderung menguat, dengan support kuat antara level psikologis 14000 hingga 13900.

 

Jadwal Rilis Data Fundamental

Senin, 15 Juli 2019:

  • Jam 11:00 WIB: data neraca perdagangan Indonesia bulan Juni 2019 y/y: bulan sebelumnya: +USD0.21 miliar. Perkiraan: -USD1.38 miliar.

Rekonsiliasi, Perdagangan Dan BI Akan

 

Kamis, 18 Juli 2019:

  • Jam 14:30 WIB: suku bunga Bank Indonesia bulan Juli 2019: bulan sebelumnya: +6.00%. Perkiraan: +6.00%.

Rekonsiliasi, Perdagangan Dan BI Akan

 

 

Jumat, 19 Juli 2019:

  • Jam 18:00 WIB: penjualan mobil di Indonesia bulan Juni 2019 year over year (y/y): bulan sebelumnya: -16.3% (terendah dalam 3 bulan).

Rekonsiliasi, Perdagangan Dan BI Akan

 

Data dan peristiwa berdampak dari AS minggu ini: Retail Sales, indeks Philly Fed Manyfacturing, kepercayaan konsumen, serta pidato para pejabat The Fed (Powell, Williams, dan Evans).

 

Tinjauan Teknikal

Rekonsiliasi, Perdagangan Dan BI Akan

 

Chart Daily:

USD/IDR masih cenderung untuk berlanjut bearish (Rupiah cenderung menguat), setelah harga menembus level support kuat 14080.00:

  1. Harga berada dekat kurva lower band indikator Bollinger Bands, dan titik indikator Parabolic SAR masih berada di atas bar candlestick.
  2. Kurva indikator MACD di bawah kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di bawah level 0.00.
  3. Garis histogram indikator ADX berwarna merah yang menunjukkan sentimen bearish.

Support kuat ada pada level psikologis 14000, dan resistance pada 14080.

 

Level Pivot mingguan : 14055.00

Resistance: 14036.04 (76.4% Fibo Retracement); 14080.00; 14128.09 (level 61.8% Fibo Retracement); 14155.00; 14185.00; 14205.00 (50% Fibo Retracement); 14280.52 (38.2% Fibo Retracement); 14355.00; 14373.96 (23.6% Fibo Retracement); 14435.00; 14475.00; 14520.00; 14600.00; 14650.00; 14721.83; 14785.00; 14930.00; 15050.00; 15140.00; 15200.00; 15265.00; 15327.00; 15400.00.

Support: 14000.00; 13950.00; 13885.00; 13736.00; 13587.31; 13485.00; 13400.00; 13362.00; 13314.00; 13263.00.


Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 21 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; ADX (14).

Fibonacci Retracement:

  • Titik Swing Low: 13885.00 (harga terendah 6 Februari 2019).
  • Titik Swing High: 14525.00 (harga tertinggi 22 Mei 2019).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.