Penggunaan Indikator Moving Averages (2)

122679

Secara umum indikator moving average adalah lagging atau mengalami keterlambatan dalam menunjukkan nilai rata-rata yang dihitung.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Artikel ini adalah lanjutan dari bagian (1) artikel dengan judul yang sama

Secara umum indikator moving average adalah lagging atau mengalami keterlambatan dalam menunjukkan nilai rata-rata yang dihitung. Nilai moving average terjadi setelah pergerakan harga, oleh karena itu indikator ini kurang cocok untuk memprediksi arah trend selanjutnya, hanya menunjukkan trend yang sedang terjadi, artinya pergerakan harga saat ini sedang uptrend atau downtrend.

Untuk memperbaiki tampilan simple moving average yang perhitungannya sederhana dan cenderung lagging maka digunakan cara pembobotan pada harga akhir relatif terhadap harga-harga yang terjadi sebelumnya, atau pembobotan indikator Simple Moving Average (SMA) pada harga terakhir yang sedang diperhitungkan. Indikator Moving Average yang menggunakan cara ini dinamakan Exponential Moving Average.


Exponential Moving Average (EMA)

Nilai pembobotan yang diterapkan tergantung dari periode waktu pengukuran Moving Average, sehingga periode EMA yang pendek berarti efek pembobotan pada harga akhir akan lebih tampak. Dengan menerapkan pembobotan ini, indikator ema akan bereaksi lebih cepat pada pergerakan harga-harga terakhirnya. Ukuran pembobotan adalah dalam persen dan disebut ema%. Secara praktis untuk EMA dengan n periode maka:

EMA% = 2 / (n+1) x 100%.

Misal EMA% untuk periode 5 hari adalah 2 / (5 hari +1) x 100% = (2 / 6) x 100% = 33.33%, sedang pembobotan untu periode 20 hari: 2 / (20+1) x 100% = 9.52%. Jadi semakin pendek periode waktu pengukuran, pembobotan ke nilai akhir semakin besar. Sebagai illustrasi berikut perbandingan yang tampak dalam trading chart antara EMA-21 daily dan SMA-21 daily:

Penggunaan Indikator Moving Averages

Tampak pada gambar di atas, EMA-21 daily lebih sensitif dibanding SMA-21 daily, disebabkan oleh faktor pembobotan pada harga-harga akhir, tetapi juga tidak mengabaikan sama sekali harga-harga sebelumnya. Perlu diketahui bahwa semakin sensitif sebuah indikator bukan berarti akan semakin teliti, melainkan kemungkinan untuk terjadi noise atau kesalahan akan lebih besar.

Dalam hal ini, maksudnya bukan kesalahan menghitung nilai EMA, tetapi kesalahan dalam melakukan prediksi atau biasa disebut false signal akibat harga yang terjadi tidak berlangsung lama. Namun demikian sejauh ini indikator EMA lebih populer dibanding SMA, terutama bagi para trader harian yang lebih banyak mengandalkan sinyal trading yang cepat dan cukup akurat.


Weighted Moving Average (WMA)

Jenis Moving Average dengan pembobotan yang lain adalah Weighted Moving Average (WMA). Perbedaannya dengan EMA adalah pada WMA semakin panjang periode waktu pengukuran yang digunakan maka akan semakin besar bobot nilai terakhirnya, sedang pada EMA semakin panjang periode maka semakin kecil pembobotan pada nilai akhir. Untuk menghitung faktor pembobotan WMA, kita jumlahkan periode waktu total, kemudian kita kalikan masing-masing waktu pengukuran sesuai dengan periode waktu pengukuran, dan dibagi dengan jumlah periode waktu total.

Sebagai contoh, untuk WMA-5 daily, maka faktor pembagi: 1+2+3+4+5=15. Jika kita terapkan untuk CAD/JPY pada contoh sebelumnya dengan periode waktu pengukuran yang sama, maka:

Penggunaan Indikator Moving Averages

Nilai WMA-5 daily adalah jumlah dari nilai pembobotan masing-masing waktu periode, yaitu: 5.48+10.95+16.72+22.29+27.89 = 83.33.

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.


Reni Sumarto
kenapa wma tampaknya lebih jarang digunakan ketimbang sma dan ema??
Martin S
@ Reni Sumarto:
Saya tidak tahu persis, mungkin karena faktor akurasinya yang kurang memadai dibandingkan dengan sma dan ema. Biasanya trader menggunakan sebuah indikator setelah di-backtest, dan dilihat akurasinya. Semakin tinggi persentase profit yang dihasilkan dari backtest maka dianggap semakin tinggi juga akurasi indikator tersebut dan layak untuk digunakan. Kita ngikut saja indikator apa yang banyak digunakan para analis handal yang tentunya telah mem-backtest indikator-indikator yang akan digunakan.
Salih
Saat buka MT5 sya ketemu adaptive moving average, double exponential moving average dan triple exponential moving average. Itu apa sebenarnya sama saja dengan EMA atau ad perbedaannya?
Martin S
@ Salih:
Saya belum penah menggunakan ketiga indikator tersebut, setahu saya ketiganya merupakan pengembangan dari exponential moving average (ema) yang masih dianggap lagging. Meski ketiga indikator tsb relatif masih lagging tetapi lebih responsif dibandingkan ema biasa.

Adaptive moving average (ama) digunakan jika kondisi pasar sideways dimana dengan ema biasa kemungkinan false bisa terjadi. Double moving average (dma) dibuat dengan memberi bobot lebih pada harga yang paling akhir, dimana formula untuk dma adalah: 2.ema (n) - ema (ema(n)), n adalah periode.Triple moving average (tma) dibuat dengan mereduksi pengaruh dari fluktuasi yang besifat noise sehingga lebih akurat karena menyaring volatilitas yang tidak perlu.

Namun demikian karena ema dihitung secara matematis maka tetap saja dianggap lagging meskipun dengan ama, dma atau tma lebih sensitif.