Advertisement

iklan

10 Perusahaan Minyak Terbesar Dunia, Siapa Mereka?

Tahun ini, banyak perusahaan minyak gulung tikar. Namun, perusahaan-perusahaan multinasional justru menjadi makin mendominasi pasar minyak global. Siapa saja mereka? Berikut ini 10 perusahaan minyak terbesar dunia. Sayangnya, tak satupun dari Indonesia.

acy

iklan

Advertisement

iklan

Gara-gara harga minyak kelewat rendah, banyak perusahaan minyak gulung tikar. Namun, kesempatan itu justru diambil oleh banyak perusahaan raksasa di sektor ini untuk ekspansi dengan "memakan" perusahaan minyak lain yang lebih kecil. Perusahaan-perusahaan minyak multinasional ini pun menjadi makin mendominasi pasar minyak global. Siapa saja mereka? Perusahaan peralatan penggalian asal AS, Rig Source Inc, bulan lalu menerbitkan data 10 perusahaan minyak terbesar di Dunia berdasarkan total pendapatannya pada tahun 2014.

 

1. China Petroleum and Chemical Corp (Sinopec)

Dengan total revenue sebesar 455.06 miliar USD, Sinopec berhasil merebut gelar sebagai perusahaan minyak terbesar dunia. BUMN China ini menggarap sektor perminyakan di negeri tersebut dan berspesialisasi pada produk olahan hilir. Namun demikian, total produksinya hanya 1.6 juta barel per hari; memang besar, tetapi jauh lebih rendah ketimbang perusahaan minyak kawakan lain di daftar ini.

Sinopec

 

2. China National Petroleum Corp (CNPC)

Kursi "runner up" juga diambil oleh BUMN asal China, yaitu CNPC, dengan revenue 432 miliar USD. Pendapatannya lebih kecil dibanding Sinopec, tetapi hasil produksinya tiga kali lipat lebih besar, yaitu 4.4 juta bpd. Bukan yang terbesar dibanding korporasi lainnya, tetapi jelas jumlahnya signifikan. Awal tahun ini, beredar rumor bahwa CNPC akan merger dengan PetroChina, anak perusahaan Sinopec, tetapi keduanya menampik isu tersebut.

 

3. Royal Dutch Shell

Perusahaan kolaborasi Inggris-Belanda yang lebih akrab disebut dengan Shell ini termasuk salah satu perusahaan minyak tertua dunia, didirikan pada tahun 1907 dan telah mengakuisisi banyak perusahaan minyak lain sepanjang sejarahnya. Ia juga sudah eksis di Indonesia sejak 100 tahun yang lalu dan menguasai sejumlah titik eksplorasi minyak vital dunia, termasuk di Teluk Meksiko. Pada 2014, Shell meraup 422 miliar USD. Sayangnya, tahun ini banyak berita buruk muncul, diantaranya kegagalan eksplorasi Arktik dan mengecewakannya hasil produksi shale di Kanada dan AS. Kini, ia dilansir tengah berusaha menggeser fokus ke LNG (liquid natural gas).

 

4. ExxonMobil

Selain berstatus sebagai perusahaan minyak terbesar keempat Dunia, ExxonMobil juga merupakan perusahaan paling blue chip di muka bumi. Perusahaan minyak asal Texas, AS, yang didirikan oleh Raja Minyak John D. Rockefeller ini mereguk 394 miliar USD revenue pada tahun 2014 dan memproduksi 5.3 juta bpd. Saat ini, ExxonMobil beroperasi di semua benua kecuali Antartika, dengan aset di hulu, menengah, dan hilir, dalam minyak sekaligus gas alam.

 

5. Saudi Aramco

Meski "cuma" menduduki kursi nomor lima, BUMN milik Kerajaan Saudi Arabia ini bisa disebut sebagai perusahaan minyak paling penting di Dunia karena kuatnya hegemoni negeri ini di OPEC. Perusahaan tersebut dulunya merupakan joint-venture antara Saudi Arabia dan perusahaan Aramco asal AS, tetapi pemerintah Saudi mengambil alih semuanya pasca perang Yom Kippur tahun 1973. Total aset Saudi Aramco berdasarkan data terakhir mencapai 30 triliun USD, jauh lebih besar dibanding perusahaan minyak manapun di planet ini, meskipun revenue-nya tahun 2014 hanya mencapai 378 miliar USD.

 

6. BP, plc

Perusahaan multinasional Inggris ini dulunya dikenal dengan nama British Petroleum, sebelum berubah menjadi BP, plc pada tahun 2001. Berawal dari perusahaan yang dibangun seabad lalu untuk menambang minyak Iran, BP terus berkembang dari tahun ke tahun hingga operasionalnya merambah kurang lebih 80 negara. Sialnya, ledakan dan tumpahan minyak dalam insiden Deepwater Horizon pada tahun 2010 memukul BP, dan sejak saat itu dominasinya berkurang. Pada 2014, ia hanya sanggup mendapatkan 358.7 miliar USD revenue meskipun berhasil memproduksi 4.1 juta bpd.

 

7. Total S.A

Nama perusahaan ini mungkin tidak asing lagi di telinga rakyat Indonesia, mengingat Total telah menjadi operator blok Mahakam sejak tahun 1968. Selain di Indonesia, raksasa asal Perancis ini juga memiliki basis operasi di lebih dari 100 negara lainnya. Tahun lalu, Total meraup pendapatan sebesar 260 miliar USD dan memproduksi 2.7 juta bpd.

Total

 

8. Kuwait Petroleum Corp

Bersama dengan Saudi Aramco, Kuwait Petroleum Corp juga menjadi tulang punggung OPEC. Uniknya, perusahaan nasional Kuwait ini adalah satu-satunya perusahaan dalam daftar ini yang tidak pernah mengakuisisi perusahaan lain. Meski demikian, ia meraih revenue yang hanya selisih sedikit dengan Total, yaitu sebesar 252 miliar USD, dari produksi 3.2 juta bpd.

 

9. Chevron Corp

Berkebalikan dengan Kuwait Petroleum Corp, Chevron yang merupakan korporasi asal Kalifornia, AS, ini berhasil berkembang terutama dengan mencaplok perusahaan-perusahaan lain, terutama Gulf Oil (1984), Texaco (2000), dan Unocal (2005). Kini ia berspesialisasi pada produksi minyak lepas pantai, dan baru-baru ini juga meluaskan lingkup operasi ke LNG. Pendapatannya pada 2014 mencapai 192 miliar USD dengan output 3.5 juta bpd.

 

10. Lukoil

Berbasis di Rusia, Lukoil merupakan satu dari segelintir perusahaan minyak swasta di negeri Tirai Besi. Ia juga hobi akuisisi, dan berkat itu kini berhasil menduduki posisi perusahaan minyak terbesar kesepuluh sejagat. Ia memiliki banyak aset terkait minyak di Rusia, tetapi disamping itu banyak dari produksinya berasal dari Basra di Irak selatan. Tahun lalu Lukoil meraih 144 miliar USD revenue dan memproduksi 2.2 juta bpd.

 

Kesepuluh perusahaan minyak terbesar dunia ini bisa dikatakan sebagai "too big to fail" di sektor migas. Pemain pasar komoditas pun memperhatikan tingkah polah mereka, karena seiring dengan semakin rampingnya industri minyak global akibat banyaknya kebangkrutan sepanjang tahhun 2015, maka apabila ada salah satu diantaranya mengalami goncangan, gema-nya bisa menerpa harga minyak juga. Pun, langkah-langkah seperti penghentian proyek di titik eksplorasi tertentu, pemotongan belanja investasi, PHK, dan penutupan sumur minyak tertentu yang dilakukan mereka, akan turut menentukan masa depan harga dan supply komoditas minyak bumi.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.