Belajar Dari Kerugian Jutaan Dolar-nya Investasi Isaac Newton

288799

Banyak kisah yang dapat dijadikan bekal untuk belajar dari kerugian. Salah satunya pengalaman tragis Sir Isaac Newton saat berinvestasi saham di tahun 1700-an.

Xm

iklan

FirewoodFX

iklan

Euforia pasar keuangan seringkali membawa konsekuensi yang tak terduga, baik secara positif maupun negatif. Oleh karena itu, banyak pakar investasi modern merekomendasikan pemula agar memperluas pengetahuan dan melatih pengendalian emosi terlebih dahulu, sebelum menanamkan dana dalam jumlah besar ke dalam aset investasi apapun. Kegigihan untuk senantiasa belajar dari kerugian juga perlu dipegang teguh oleh setiap pemula.

Rekomendasi itu bukan sekedar jualan marketing untuk menarik perhatian orang agar ikut seminar, melainkan buah dari akumulasi pengalaman yang terangkum dalam sejarah investasi dunia. Dahulu, sebelum rekomendasi semacam itu menjadi populer, banyak tokoh-tokoh terkemuka yang menanggung kerugian luar biasa besar dalam aktivitas investasi mereka. Termasuk diantaranya adalah fisikawan dan astronom ternama Sir Isaac Newton. Karena mereka ikut terhanyut dalam euforia pasar bullish yang nyatanya hanya sementara saja.

Belajar Dari Kerugian Jutaan Dolar Isaac Newton

 

Tragedi South Sea Company

Anda tentu pernah mendengar nama Sir Isaac Newton, atau setidaknya menerima wawasan mengenai hukum gravitasi universal yang dipaparkannya dalam jurnal Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica. Namanya disebut-sebut dalam ujian sekolah di berbagai negara, dan pemikirannya ditelaah oleh jutaan orang di seluruh dunia. Namun, siapa sangka kalau sang ilmuwan pandai ini ternyata termasuk investor gagal!?

Petualangan investasi Newton yang berakhir tragis itu terungkap dalam kutipan buku "The Intelligent Investor" yang diulas oleh Business Insider. Berikut ini terjemahannya, yang dapat Anda manfaatkan untuk belajar dari kerugian sang ilmuwan:

"Pada Musim Semi 1720, Sir Isaac Newton memiliki saham di South Sea Company, saham paling populer di Inggris (pada saat itu). Karena merasa bahwa pasar mulai tak terkendali, fisikawan ini menyatakan bahwa ia 'bisa memperhitungkan pergerakan benda-benda langit, tetapi tak bisa memperhitungkan kegilaan massa'. Newton kemudian melepas saham South Sea-nya, mengantongi profit 100% senilai total £7,000."

"Namun, beberapa bulan kemudian, terhasut oleh antusiasme pasar, Newton masuk lagi pada level harga yang jauh lebih tinggi - dan mengalami kerugian sekitar £20,000 (atau lebih dari 3 juta Dolar AS berdasarkan nilai uang saat ini -red). Sepanjang sisa hidupnya, ia melarang siapapun untuk menyebutkan kata 'South Sea' di hadapannya."

Perusahaan apa itu South Sea Company? Itu adalah perusahaan yang didirikan pada tahun 1711 untuk mengkonsolidasikan utang nasional Inggris, serta memegang monopoli perdagangan dengan Amerika Selatan dan kawasan sekitarnya (terutama dalam perdagangan budak). Kenaikan saham mereka pada dasarnya didorong oleh insider trading yang dilakukan oleh sejumlah pejabat tinggi Inggris pada saat itu, tetapi mengakibatkan bubble yang menghebohkan dunia.

Saat bubble itu pecah, banyak pejabat yang kekayaannya disita karena ketahuan melakukan rekayasa, sedangkan para investor yang hanya ingin ikut-ikutan ambil untung (termasuk Isaac Newton) tak bisa mendapatkan kembali uang mereka. Sementara itu, perusahan pesaing terdekatnya di bidang konsolidasi utang negara justru berhasil mengokohkan kredibilitasnya dan kini dikenal sebagai Bank of England.

 

Belajar Dari Kerugian Newton

Belajar dari kerugian fatal yang diderita oleh Isaac Newton tersebut, ada banyak hal untuk dipelajari bagi investor masa kini.

Pertama, kecerdasan atau IQ tidak ada hubungannya dengan kesuksesan seseorang di dunia investasi. Newton jelas bukan orang bodoh, tetapi ia tetap bisa mengalami kerugian fatal.

Kedua, kita perlu selalu mengendalikan emosi agar tak tergoyahkan oleh euforia atau irasionalitas pasar. Tanpa keteguhan batin, Anda tetap bisa tersandung meski sudah menggunakan indikator ataupun teknik trading paling handal.

Ketiga, penting bagi setiap investor untuk memahami kondisi psikologis diri sendiri, memahami psikologi pasar, dan memahami seluk-beluk aset investasi yang dipilih. Jangan hanya berkutat pada pertanyaan seperti "apakah aset investasi A atau B yang lebih menguntungkan?" atau "indikator teknikal mana yang paling mumpuni?", karena masih banyak faktor lain yang lebih berperan dalam menentukan kesuksesan investasi.

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.