Advertisement

iklan

Aussie Dan Euro Jadi Pijakan Rebound Dolar AS

Memburuknya outlook Dolar Australia dan Euro membuka peluang bagi penguatan Dolar AS pasca libur hari Presiden.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Indeks Dolar AS (DXY) mengalami rebound sekitar 0.13 persen ke kisaran 96.91 sepanjang sesi Asia hari Selasa ini (19/Februari), sementara Euro dan Aussie kembali terdepresiasi. Seusai libur hari Presiden kemarin, gairah beli Dolar AS lebih didorong oleh memburuknya outlook mata uang rivalnya, ketimbang karena faktor internal Amerika Serikat. Sebagai mata uang paling likuid di dunia yang dipergunakan dalam mayoritas transaksi internasional, Dolar AS cenderung menampilkan kinerja lebih baik ketika pelaku pasar mengalami kegelisahan.

Indeks Dolar AS, Daily

 

Potensi Aspek Negatif Bagi Euro

Bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pada tanggal 7 Maret 2019. Sejumlah pihak mensinyalir kalau otoritas moneter Zona Euro tersebut bakal memangkas ekspektasi pertumbuhan dan inflasi, setelah kawasan itu menderita perlambatan ekonomi terburuk dalam lima tahun terakhir.

Masafumi Yamamoto, pimpinan pakar strategi forex di Mizuho Securities, mengatakan pada Reuters, "Bounce terakhir Euro (kemarin) tidak berdasarkan insentif spesifik mata uang tersebut, dan pasar kemungkinan akan kembali memperhitungkan potensi aspek-aspek negatif. Euro akan tetap berada pada pijakan yang rapuh."

"Masih ada beberapa waktu hingga potensi aspek-aspek negatif diperhitungkan sepenuhnya ke dalam (nilai) Euro, menjelang rapat ECB 7 Maret," lanjutnya.

Dua pejabat Zona Euro telah mengindikasikan bahwa ECB akan membahas paket TLTRO baru dalam rapat tersebut. Akibatnya, yield obligasi Zona Euro merosot. Yield obligasi Jerman 10-tahunan loyo di kisaran 0.110 persen pada hari Senin, setelah sempat jatuh ke rekor terendah sejak Oktober 2016 di level 0.077 pada tanggal 8 Februari.

 

Meningkatnya Ketidakpastian Ekonomi Australia

Pasangan mata uang EUR/USD tergelincir 0.13 persen ke kisaran 1.1295 saat berita ini ditulis, mengikuti kejatuhan yield obligasi. Sementara itu, Dolar Australia anjlok 0.25 persen ke kisaran 0.7112 terhadap Dolar AS, pasca rilis notulen rapat kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA) tadi pagi.

Notulen rapat yang diadakan pada awal bulan tersebut menunjukkan bahwa bank sentral Australia menemukan terjadinya peningkatan ketidakpastian yang cukup besar dalam perekonomian. Meski RBA mengklaim tak ada alasan kuat untuk mengubah suku bunga, tetapi tumbangnya pasar properti Australia membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan kemungkinan pemangkasan suku bunga.

287445

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.