Advertisement

iklan

Plus Dan Minus Outlook Fundamental Forex Tahun 2016

Penulis

+ -

Sepanjang tahun 2015, pasar forex terus dilanda gejolak, dan di tahun monyet mendatang pun, gejolak itu pun diperkirakan belum akan mereda. Secara umum, isu seputar suku bunga dan rendahnya harga komoditas dunia masih akan membayangi pasar finansial.

iklan

iklan

Menyambut tahun 2016, banyak orang memilih untuk liburan, tetapi beberapa lainnya mulai merencanakan strategi untuk segera dijalankan begitu hari trading pertama tahun depan tiba. Sepanjang tahun 2015, pasar forex terus dilanda gejolak, dan di tahun monyet mendatang pun, gejolak itu pun diperkirakan belum akan mereda. Sebelum merancang strategi trading Anda, ada baiknya memantau apa saja yang mesti diantisipasi dari sekarang.

ilustrasi

Secara umum, isu seputar suku bunga dan rendahnya harga komoditas dunia masih akan membayangi pasar finansial. Federal Reserve memang telah mengakhiri teka-teki panjang soal kenaikan Fed rate pada tanggal 17 Desember lalu, tetapi proyeksi para pejabatnya tentang kenaikan bertahap tahun depan berpotensi eksplosif. Belum lagi, beberapa bank sentral lainnya pun masih ada kemungkinan membuka kebijakan. Di sisi lain, rendahnya harga komoditas mensinyalkan perlambatan pertumbuhan ekonomi di berbagai belahan dunia lain, karena tidak hanya dialami oleh komoditas vital seperti minyak mentah, melainkan juga logam mulia, logam industri, dan komoditas pertanian.

Sedangkan dalam lingkup yang lebih sempit, sejalan dengan perbedaan dari karakter dan kondisi fundamental masing-masing negara, outlook setiap mata uang pun beragam.

 

1. Dolar AS Bertumpu Pada Divergensi Kebijakan

Analis di sejumlah bank top dunia menyatakan bahwa Dolar AS bakal memuncak lagi di tahun 2016 meski sempat mengendur bulan Desember ini. Salah satunya, Credit Agricole, mendasarkan perkiraan itu pada tajamnya divergensi kebijakan antar bank sentral.

Jika kita ingat kembali, grafik dot plot yang keluar bersama pengumuman kenaikan Fed rate yang lalu mengindikasikan Federal Reserve bisa jadi akan menaikkan suku bunga empat kali lagi tahun depan, sejalan dengan penguatan ketenagakerjaan dan inflasi. Kebanyakan ekonom sepertinya menganggap the Fed terlalu optimis dalam proyeksi itu dan mengutip angka yang lebih kecil seperti tiga kali, tetapi semua umumnya sepakat suku bunga acuan masih akan dinaikkan lagi. Kalau memang demikian, maka memang antara kebijakan the Fed dengan bank sentral lain akan terlalu timpang, mengingat yang lain cenderung memangkas atau malah menggelontorkan stimulus. Logis bila Dolar AS dianggap bakal menguat kembali.

Namun, tak semua berpendapat demikian. Duo analis dari BK Asset Management, khususnya, memandang lebih kritis. Dalam wawancara dengan CNBC, Boris Schlossberg menilai kenaikan Fed rate Desember adalah satu-satunya -The Fed takkan menaikkan lagi di tahun 2016, kecuali terjadi suatu kejutan luar biasa dari faktor eksternal. Sedangkan partnernya, Kathy Lien, dalam catatan awal pekan ini merujuk pada fakta bahwa susunan anggota dewan pengambil keputusan di the Fed, yaitu FOMC, akan lebih hawkish di tahun 2016. Karenanya, suara dalam pemungutan bisa terpecah.

Berikut estimasi susunan FOMC tahun 2016 berikut pengukuran atas pandangan mereka:

Estimasi FOMC 2016

 

2. Yen Jepang Bisa Dapat Stimulus Tambahan

Salah satu negara yang jelas berada di sisi berseberangan dalam hal kebijakan moneter dengan the Fed adalah Jepang. Stimulus demi stimulus yang dilancarkan Bank of Japan belum mampu menggairahkan perekonomian. Namun demikian, berbagai konflik dan ketidakpastian sepanjang 2015 membuat performa Yen cenderung stabil, sebagaimana bisa dilihat pada garis violet di grafik performa pair mayor berikut:

Grafik Performa Pair Mayor

BoJ belum mengeluarkan lampu hijau untuk stimulus tambahan, tetapi mengingat proyeksi sejauh ini belum melihat akan ada kemajuan ekonomi berarti, maka hal itu tetap mungkin dilakukan. Apabila kebijakan itu dihadapkan pada kenaikan Fed rate lagi, maka tak ragu Yen bisa anjlok.

 

3. Franc Swiss Kemungkinan Lebih Kalem

Tidak seperti biasanya, tahun 2015 menjadi tahun yang sangat bergelombang bagi Franc Swiss. Diawali dengan putusan kontroversial Swiss National Bank untuk mencabut pegging mata uangnya dengan Euro, dan dilanjutkan dengan beralih haluan ke intervensi berkala di pasar uang. Bisa dilihat dalam grafik diatas (garis merah) bahwa gelombang yang dibuat Franc Swiss mulai mereda menjelang akhir tahun, dan inilah yang bisa diekspektasikan berlanjut hingga tahun depan.

Meski perekonomiannya mungkin takkan tumbuh tinggi karena kondisi global yang masih diproyeksi lesu, tetapi mengingat basis ekonomi Swiss yang masih relatif kuat, maka untuk memburuk drastis pun bisa jadi tidak. Turut menunjang prediksi tersebut adalah bank sentralnya yang belum ada rencana mengutak-atik suku bunga lagi dari level negatifnya saat ini, dan aktivitas rutinnya mengintervensi pasar uang guna mendukung nilai tukarnya.

 

4. Euro, Stabilitas Kesatuan Diragukan

Ramalan banyak pihak awal tahun 2015 bahwa Euro akan mencapai paritas di akhir tahun, ternyata tidak terwujud. Proyeksi perekonomian Eropa belum menunjukkan perubahan signifikan, tetapi Euro nampaknya sudah bertemu level rendah yang susah ditembus. Bagaimana dengan 2016?

Dibanding Swiss yang notabene negeri mungil di tengah Eropa, Zona Euro memiliki fondasi yang lebih rawan secara politik, ekonomi, maupun keamanan. Tahun ini, siapa yang tidak mendengar gonjang-ganjing Yunani dan krisis Ukraina!? Ke depan pun, terlalu optimis jika menganggap Euro akan tenang-tenang saja. Meskipun ECB mungkin tidak meluncurkan stimulus lagi, tetapi banyak yang mengancam keutuhan kesatuan negara-negara Euro. Salah satunya, soal kemungkinan lepasnya Inggris dari Uni Eropa.

PM Inggris telah menjanjikan paling lambat 2017 akan mengadakan referendum yang mempertanyakan apakah Inggris akan keluar atau tetap di Uni Eropa (Brexit). Inggris memang tidak menggunakan Euro, tetapi banyak jalinan kerjasama antara Zona Euro dan Inggris yang terwujud karena Inggris masuk Uni Eropa. Jika Inggris keluar, maka selain pamor Euro menurun, imbasnya secara finansial juga perlu diperhitungkan.

 

5. Pounds Diprediksi Stabil, Kecuali...

Bank of England yang terus mengulur-ulur kenaikan suku bunganya telah menampilkan citra negatif di mata pelaku pasar, sehingga Pounds mengakhiri tahun dengan performa mengecewakan. Ini bisa jadi ada kaitannya dengan proyeksi pertumbuhan pesat 2015 yang gagal tercapai. Karenanya, bila ekonomi Inggris bisa ngebut lagi tahun 2015, maka kenaikan suku bunga kembali masuk dalam agenda dan Pounds punya peluang untuk terapreasiasi.

Namun jika referendum digelar, maka isu Brexit akan lebih memukul Pounds daripada Euro, karena proyeksi GDP Inggris pun bisa anjlok jika Inggris benar-benar keluar dari Euro. Terlepas dari faktor itu, fundamental ekonomi Inggris sebenarnya tidak buruk, dan itu berarti dalam kondisi normal, Pounds kemungkinan stabil.

 

6. Komoditas Masih Mencari Support

Apabila ada anugerah untuk mata uang berperforma terburuk, maka mata uang-mata uang komoditas akan langsung masuk nominasi tahun 2015. Buruknya harga komoditas dan merosotnya permintaan global menggelayuti Dolar Australia, Dolar New Zealand, dan Dolar Kanada. Dolar Kanada selama setahun hingga 30 Desember 2015, khususnya, ambruk lebih dari 15 persen terhadap Dolar AS gara-gara harga minyak terjun bebas (lihat garis violet pada grafik dibawah). Selama harga minyak belum mencapai level terendahnya, maka ekonomi Kanada maupun nilai mata uangnya diproyeksikan akan terus di-pingpong.

Performa Mata Uang Komoditas 2015

Imunitas Kiwi dan Kanguru terhitung lebih kuat dibanding Kanada, terutama karena proporsi sumbangsih komoditas ekspor negaranya relatif lebih beragam. Baik harga bijih besi (Australia) maupun susu dan olahannya (New Zealand) kini masih menurun, namun begitu permintaan pulih, tentunya mereka juga akan ikut bangkit. Itu tidak lepas dari China yang tengah bergumul dengan kemelut. Kondisi China ke depan diproyeksikan membaik, sehingga outlook kedua mata uang ini lebih bagus ketimbang Dolar Kanada.

Dari sisi kebijakan moneter, bank sentral New Zealand memangkas suku bunga bulan ini sembari menyatakan takkan melakukannya lagi tahun depan. Bank sentral Australia pun lebih sering menggunakan jawboning untuk mempengaruhi sentimen pasar ketimbang mengusik bunga acuan. Kata-kata bank sentral memang harus selalu diragukan, tetapi dilihat dari fundamental ekonomi dalam negeri mereka, nampaknya tak ada alasan untuk merubah kebijakan secara drastis, sehingga "tidak bertindak" bisa jadi lebih baik.

 

257447

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC   |   Smartphone

AWAS
Grup Telegram Palsu Mengatasnamakan Seputarforex!

Baca Selengkapnya Di Sini