Advertisement

iklan

PM Inggris Masuk RS Akibat COVID-19, Pound Terguncang Sejenak

Pound sempat dibuka melemah karena rumor terkait kondisi kesehatan PM Inggris Boris Johnson, tetapi beranjak naik pada sesi Eropa.

Xm

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Pound bergerak tertatih meski terjadi kenaikan sentimen risk-on awal pekan ini. Sementara trio Aussie, Kiwi, dan Loonie menguat pesat; Poundsterling hanya naik tipis sekitar 0.3 persen ke kisaran 1.2300-an versus Greenback (6/April). Mata uang ini bahkan sempat jeblok karena sebagian pelaku pasar dikejutkan oleh kabar bahwa PM Inggris Boris Johnson dilarikan ke rumah sakit. Namun, posisinya mulai menanjak setelah memasuki sesi Eropa.

GBPUSD DailyGrafik GBP/USD Daily via Tradingview.com

PM Boris Johnson telah dinyatakan positif terkena virus Corona (COVID-19) sejak sepuluh hari lalu. Ia mengaku hanya menderita simtom ringan, sehingga melanjutkan swakarantina di kediamannya. Ia juga masih melaksanakan tugas-tugasnya secara remote. Namun, kemarin dokter menyarankan agar ia dirawat rumah sakit karena gejala COVID-19 yang dideritanya tak juga mereda setelah berhari-hari.

Berita awal sempat memercikkan rumor bahwa Johnson dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi darurat dan harus dirawat menggunakan oksigen. Akibatnya, rumor memicu Sterling dibuka pada level rendah dalam perdagangan tadi pagi. Pejabat setempat kemudian menegaskan bahwa Johnson tidak masuk rumah sakit karena kondisi kritis, melainkan karena rekomendasi dokter saja. Mengingat efek berita yang minim, para analis menilai Pound tetap punya peluang rebound bersama aset-aset high risk lain.

"Pound lebih rendah di awal perdagangan Asia karena berita bahwa PM Inggris Boris Johnson telah masuk ke rumah sakit. Pergerakan memudar dengan cepat (selayaknya). Tak ada komentar di sini - (ini) bukan market event dan fokus seharusnya pada kesehatan dan pemulihan PM," ujar Viraj Patel, seorang analis makro dan FX di Arkera.

Kit Juckes dari Societe Generale sepakat. Katanya, "Optimisme mendominasi di ekuitas Asia karena harapan akan mendatarnya tren pandemi. Minyak sedikit lebih lemah karena (pertemuan) OPEC+ ditunda ke hari Kamis, (tetapi) optimisme masih menang. Asia menjual GBP karena dirumahsakitkannya BoJo, tetapi meloncat seiring bangunnya (pasar) Eropa. Gagal bayar negara berkembang bisa jadi tes pasar yang besar berikutnya."

Pejabat setempat menekankan, Boris Johnson masih mengepalai pemerintahan Inggris. Untuk sementara ini, Menteri Luar Negeri Dominic Raab menjalankan tugas Perdana Menteri. Raab juga telah ditentukan akan menjadi penerus Johnson, apabila sang mantan walikota London itu tidak lagi dapat melaksanakan tugas-tugasnya dalam jangka panjang.

292548

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.