Advertisement

iklan

Tingkat Pengangguran AS Merosot, Dolar AS Menguat

Penulis

+ -

Penurunan tingkat pengangguran AS bulan Maret 2022 tergolong solid, meskipun data Non-farm Payroll meleset dari ekspektasi.

iklan

iklan

Seputarforex - Indeks dolar AS membukukan kenaikan sekitar 0.3 persen ke atas 98.60-an seusai rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat pada sesi New York hari ini (1/April). Greenback terpantau menguat pada sebagian besar pasangan mata uang mayor berkat penurunan tingkat pengangguran AS yang tergolong solid, meskipun data Non-farm Payroll meleset dari ekspektasi.

DXY Daily Grafik DXY Daily via TradingView

 

Momentum Ekonomi AS Tetap Solid

Data Non-farm Payroll (NFP) menunjukkan peningkatan sebanyak 431,000 pada periode Maret 2022, atau lebih rendah dibandingkan estimasi konsensus yang sebesar 490,000. Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan data NFP bulan Februari yang direvisi naik dari 678,000 menjadi 750,000. Kendati demikian, tingkat pengangguran AS merosot dari 3.8% menjadi 3.6% -level terendah sejak Februari 2020-.

Data-data mengarah pada momentum ekonomi AS yang tetap solid di tengah lonjakan inflasi, kenaikan suku bunga The Fed, gangguan pasokan global, serta perang Rusia-Ukraina. Alhasil, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bulan depan pun tetap kokoh.

"Data kuat lain yang mempertahankan ekspektasi untuk dua kali atau lebih kenaikan (suku bunga) Fed berukuran jumbo dalam beberapa bulan mendatang, dan telah menambah momentum yang mendorong dolar AS (menguat) lebih tinggi," komentar Karl Schamotta, kepala strategi pasar di Corpay, tentang laporan kali ini.

The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin bulan ini. Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell terakhir mengisyaratkan potensi kenaikan suku bunga lanjutan sebanyak 50 basis poin pada rapat FOMC berikutnya pada 3-4 Mei 2022. CME FedWatch Tool menunjukkan peluang sebesar 68.8% untuk kenaikan tersebut.

Sementara itu, dolar AS juga cenderung diuntungkan oleh kebangkitan sentimen risk-off lantaran minimnya progres dari perundingan Rusia-Ukraina. Meskipun kedua belah pihak mengklaim telah mengalami kemajuan pada perundingan pekan lalu, diskusi minggu ini diawali dengan ketegangan lagi.

 

Rusia Menuntut Pembayaran Dalam Rubel

Presiden Rusia Vladimir Putin menuntut negara-negara Eropa membayar pembelian gas Rusia dalam mata uang rubel mulai hari Jumat ini. Dekret Putin berisiko membuat Eropa kehilangan lebih dari sepertiga pasokan gasnya, sehingga sejumlah negara mulai menggodok rencana darurat untuk penjatahan gas -termasuk Jerman-. Hal ini menopang kurs rubel, tetapi memicu kemerosotan lagi dalam euro dan mata uang Eropa lainnya versus dolar AS.

Putin mengatakan bahwa penggunaan rubel akan memperkuat kedaulatan Rusia. Menurutnya, tak masuk akal bagi Rusia untuk menerima pembayaran dalam euro dan dolar AS ketika aset-aset Rusia dalam kedua mata uang itu telah dibekukan oleh Barat. Ia menuduh Eropa mendapatkan pasokan gas Rusia secara gratis gara-gara sanksi pembekuan aset tersebut, dan hal itu tidak boleh berlanjut.

Amerika Serikat telah menawarkan pasokan LNG untuk Eropa, tetapi jumlahnya tak cukup untuk menggantikan pasokan Rusia. Harga gas Eropa melambung hingga 4% seusai pengumuman Putin, sehingga meningkatkan risiko terjadinya resesi di Benua Biru. Beragam perusahaan yang mengandalkan bahan bakar ini terpaksa membatasi aktivitas produksi, sementara pemerintah masing-masing negara tengah mendiskusikan langkah yang akan diambil berikutnya.

297562
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.