Advertisement

iklan

Dolar AS Dikekang Oleh Rendahnya Minat Risiko Pasar

Indeks Dolar AS (DXY) tertahan dalam kisaran sempit antara 97.40-97.80, di tengah eskalasi beragam konflik geopolitik yang memicu kemerosotan minat risiko pasar.

Xm

iklan

Advertisement

iklan

Indeks Dolar AS (DXY) tertahan dalam kisaran sempit antara 97.40-97.80 sejak awal pekan ini, di tengah eskalasi beragam konflik geopolitik yang memicu kemerosotan minat risiko pasar. Bukan hanya China yang bereaksi keras terhadap tindakan agresif AS, Iran dan Korea Utara juga menyiratkan sinyal untuk mulai ofensif.

Sumber depresiasi utama Indeks Dolar AS saat ini adalah lumpuhnya USD/JPY serta stagnasi EUR/USD dan USD/CHF, meskipun Greenback masih unggul terhadap mata uang mayor lain yang berisiko lebih tinggi. Ketika berita ditulis pada awal sesi Eropa hari Kamis ini (9/5), USD/JPY sudah ambruk hingga tembus ambang psikologis 110.0.

DXY Daily

 

Risk on, Risk off

Pelaku pasar menantikan kabar dari perundingan AS-China yang akan berlangsung mulai hari ini di Washington, sementara Presiden AS Donald Trump terus menerus menekan China dengan cuitan-cuitan kontroversial. Sejalan dengan situasi ini, ekspektasi akan tercapainya kesepatan semakin menipis, sehingga investor melarikan dana-dananya ke aset-aset safe haven. Akibatnya, bursa saham global tumbang, sementara obligasi pemerintah dan Yen mengalami kenaikan permintaan secara signifikan.

Shin Kadota, pakar strategi senior Barclays, mengatakan kepada Reuters bahwa penguatan Yen terutama diperoleh dalam perdagangan mata uang cross. "Risk on, Risk off, telah menjadi penggerak pasar utama dan Euro (juga) macet dalam kisaran terbatas sebagai hasilnya," ungkapnya.

Kadota menilai, meski bubarnya negosiasi AS-China belum menjadi "skenario utama", tetapi pasar mata uang mulai memperhitungkan kemungkinan tersebut secara bertahap.

 

Korut dan Iran Angkat Senjata

Sementara itu, Korea Utara dikabarkan diam-diam telah melakukan uji misil balistik lagi pada akhir pekan lalu. Ini merupakan peluncuran misil balistik Korut pertama dalam 500 hari terakhir, dan dikhawatirkan mensinyalkan kekesalan Pyongyang terhadap macetnya negosiasi dengan Amerika Serikat.

Pada hari Rabu, Iran juga menyampaikan ancaman untuk merespons sikap AS yang mangkir sepihak dari kesepakatan nuklir tahun 2015. Sehubungan dengan penerapan kembali sanksi oleh AS, Presiden Iran Hassan Rouhani meminta agar para penandatangan kesepakatan lainnya (Inggris, China, Rusia, Prancis, Jerman, Uni Eropa) mengambil tindakan untuk melindungi perekonomiannya dalam tempo 60 hari. Apabila tak ada itikad baik dari para penandatangan kesepakatan lainnya, maka Iran berikrar akan menggalakkan kembali pemberdayaan uranium tingkat tinggi, dan berhenti melaksanakan beberapa komitmen lain yang termuat dalam kesepakatan tersebut.

288459

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


30 Apr 2019