Pair AUD/JPY Mendadak Populer Karena Perang Dagang AS-China

Pair AUD/JPY jadi laris manis sebagai proxy Yuan China, dan diperkirakan bisa jatuh hingga lebih dari 4 persen lagi sebagai bagian dari imbas perang dagang.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Sebuah laporan yang dirilis Bloomberg hari ini (22/Mei) menyebutkan bahwa aktivitas menjual Dolar Australia versus Yen Jepang mengemuka sebagai salah satu peluang trading populer, seiring dengan meningkatnya upaya investor untuk ambil untung dari perang dagang AS-China. Pasangan mata uang AUD/JPY bahkan diperkirakan bisa jatuh hingga menyentuh 72.75 dalam beberapa pekan ke depan.

AUDJPY Daily

 

Sejauh Mana AUD/JPY Akan Merosot?

Saat berita ditulis, AUD/JPY masih bergerak di sekitar level 75.96, setelah tersungkur ke kisaran terendah multi-tahun dekat 75.50 pada pekan lalu. Namun, para analis pasar memperkirakan kalau pair ini bisa merosot lebih jauh lagi lantaran terus berlanjutnya perang dagang antara dua negara ekonomi terbesar di dunia.

"Saya memperkirakan Aussie-Yen berpotensi menguji 72.75 dalam dua pekan," kata Shyam Devani, seorang pakar strategi teknikal senior dari Citi Singapura.

Jeffrey Halley dari Oanda Asia Pacific Pte bahkan menyampaikan prediksi yang lebih ekstrim. Katanya, "Saya tak bisa membayangkan cara yang lebih baik untuk memainkan cross Yen saat ini, selain dengan menjual Aussie. Ada nilai terbesar di sini karena Aussie merupakan proxy bagi China, dan Yen masih dicintai sebagai safe haven. Saya mengira Aussie-Yen (bisa jatuh) ke bawah 70 dalam satu-dua bulan (ke depan)."

 

Harapan Tertumpu Pada Pertemuan Trump-Xi

Dolar Australia berhubungan erat dengan Yuan, lantaran status China sebagai pembeli terbesar komoditi ekspor negeri Kanguru, khususnya bijih besi. Bagi investor yang segan memperdagangan Yuan China secara langsung karena kentalnya campur tangan pemerintah setempat, maka Dolar Australia menjadi pilihan aset yang lebih menarik.

Apalagi saat ini, Presiden AS Donald Trump tengah berusaha menaikkan tarif atas semua impor AS yang berasal dari China. Outlook ekonomi domestik Australia juga terhitung mengecewakan hingga bank sentralnya merasa perlu mengirim sinyal akan memangkas suku bunga.

Meski demikian, sebagian analis tetap optimis kalau Aussie punya prospek rebound kembali. Harapan itu tertumpu pada rencana pertemuan Trump dan Presiden China Xi Jinping dalam ajang pertemuan G-20 bulan depan.

"Asalkan negosiasi perdagangan AS dengan China, Jepang, dan Eropa berlanjut dan tak ada aksi fisik yang diambil lebih lanjut, sukar untuk membayangkan pasar akan mengekspresikan risk-off secara ekstrim," kata Ko Haruki, pimpinan grup solusi finansial di CIBC World Markets, Jepang. Lanjutnya, "(Nilai tukar) Aussie itu sendiri bisa jadi takkan jatuh terlalu tajam, (sehingga) membatasi penurunan pair Aussie-Yen."

288614

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


30 Apr 2019