OctaFx

iklan

Proyeksi Kurs Rupiah Pasca Pemilu 2019

Apakah kurs Rupiah pasca Pemilu akan melemah, menguat, atau ya, begitu-begitu saja? Berikut ini opini sejumlah analis dari bank dan lembaga keuangan terkemuka.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Kurs Rupiah menguat cukup pesat dalam perdagangan hari Senin ini (15/April) karena peningkatan surplus neraca dagang dan penurunan impor sepanjang bulan lalu, hingga pasangan USD/IDR mencapai level Rp14,065 per Dolar AS. Meski demikian, banyak orang bertanya-tanya, bagaimana proyeksi kurs Rupiah kelak seusai hari-H Pemilu tanggal 17 April 2019? Apakah kurs Rupiah pasca Pemilu akan melemah, menguat, atau ya, begitu-begitu saja? Berikut ini penulis mengompilasikan opini sejumlah analis dari bank dan lembaga keuangan terkemuka mengenai proyeksi kurs Rupiah pasca Pemilu 2019.

 

Arus Modal Masuk Telah Meningkat Kembali

Amy Yuan Zhuang dari Nordea Markets merangkum berbagai faktor yang memengaruhi kurs Rupiah belakangan ini dengan ringkas dalam catatannya. "IDR melemah tajam selama tahun 2018 karena sentimen 'risk-off'. Hal itu memicu Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga sebanyak enam kali guna melindungi nilai tukarnya. Respons yang tepat waktu itu secara umum meningkatkan kredibilitas BI dan memperbaiki daya tarik IDR bagi pemodal asing. Hal itu direfleksikan dalam kenaikan net equity inflow ke bursa saham Indonesia sejak akhir tahun lalu."

Setelah melemah parah sepanjang separuh tahun 2018 bersama rombongan mata uang negara berkembang lainnya, kurs Rupiah mulai menguat bertahap sejak bulan Oktober. Apresiasi Rupiah tersebut bertepatan dengan mulai munculnya sinyal penghentian rencana kenaikan suku bunga Fed. Federal Reserve masih mempertahankan moratorium itu hingga kini, sehingga faktor eksternal dinilai masih mendukung penguatan kurs Rupiah lebih lanjut, meski ada risiko jangka pendek yang berkaitan dengan pemilu tanggal 17 April 2019.

USDIDR Weekly

 

Kaitan Kurs Rupiah Pasca Pemilu dan Pemenang Pilpres 2019

Secara umum, pelaku pasar saat ini telah sepenuhnya memperhitungkan potensi kemenangan petahana Joko Widodo dalam pemilu presiden, dan memperkirakan kalau kandidat oposisi Prabowo akan kalah. Dengan demikian, apabila Jokowi benar-benar memenangkan pemilu presiden lagi, maka kurs Rupiah dan bursa saham diperkirakan takkan bereaksi terlalu dramatis. Namun, apabila suara bagi Prabowo ternyata mendominasi, maka kejutan tersebut bisa mengakibatkan pelemahan kurs Rupiah dalam jangka pendek.

Alan Richardson dari Samsung Asset Management mengatakan, reli saham-saham Indonesia akan terus berlanjut jika Jokowi menang, karena investor asing memilih stabilitas di bawah pemimpin yang telah memiliki rekam jejak panjang. Sebaliknya, "Saham akan jatuh 5 persen dan Rupiah bakal melemah jika Prabowo menang secara mengejutkan."

Jokowi dan Prabowo

 

Siapapun Presidennya, Jangka Panjang Tetap Cemerlang

Terlepas dari proyeksi tersebut, ditilik dari pemulihan faktor eksternal yang telah dipaparkan sebelumnya, maka apresiasi Rupiah bisa jadi akan berlanjut kembali, segera setelah shock mereda. Apalagi jika pemulihan ekonomi China terus berlanjut dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi global mengalami rebound, sehingga mendorong kenaikan investasi asing dan perdagangan internasional.

Hans Redeker dari Morgan Stanley mengungkapkan bahwa outlook kurs Rupiah pasca pemilu 2019 tetap bullish, karena inflasi terkendali. Ia mengekspektasikan BI akan memangkas suku bunga sebanyak tiga kali setelah pemilu, "seiring memudarnya tekanan inflasi dan berkurangnya defisit neraca transaksi berjalan (Current Account)", yang pada gilirannya "akan mendukung reli obligasi pemerintah dan menarik lebih banyak aliran dana (asing) masuk, sehingga akan positif bagi Rupiah."

Senada dengan Redeker, Amy Yuan Zhuang juga menilai outlook kurs Rupiah pasca pemilu masih bullish karena investor asing mengekspektasikan kondisi ekonomi saat ini akan terus berlanjut, sehingga mendorong arus modal masuk. Selain itu, "Jika kesepakatan dagang antara China dan AS tercapai, (maka) itu akan positif bagi IDR melalui (perantaraan) harga logam, karena Indonesia merupakan eksportir komoditi logam utama."

Walaupun demikian, Zhuang menegaskan pentingnya kelanjutan reformasi struktural agar perekonomian Indonesia dapat merealisasikan potensinya. Ia mencatat, "Indonesia memiliki potensi untuk menjadi sentra manufaktur raksasa bagi dunia. Untuk mencapainya, (Indonesia) perlu meningkatkan infrastruktur transportasinya, yang terbelakang dibandingkan banyak negara Asia lainnya. (Indonesia) juga perlu memangkas pita merah (birokrasi) dan meningkatkan transparansi dalam kegiatan bisnis."

288137

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


15 Jul 2019

30 Apr 2019