iklan

Indeks Dolar: Skenario Teknikal Jangka Panjang Dan Menengah

Penurunan Indeks Dolar di bawah level 88.25 dibutuhkan untuk menegaskan downswing jangka menengah hingga panjang. Kegagalan skenario itu justru akan memperbesar risiko rebound berdasarkan chart pattern Falling Wedge.

iklan

iklan

Beberapa hari lalu, saya terlibat diskusi teknikal yang cukup seru dan menarik dengan beberapa kawan trader. Diskusi itu menyangkut pergerakan Indeks Dolar (DXY) yang mengukur kinerja USD terhadap sejumlah mata uang utama lainnya dalam perspektif jangka menengah hingga panjang. Seperti diketahui, sejak Maret lalu, Indeks Dolar tergelincir dari area 102.99 setelah gagal menembus level puncak 103.82 (High Januari 2017).

 

DXY Grafik Monthly

Jika kita cukup teliti menyimak histori price action grafik Monthly, kita bisa melihat sebuah Spinning Top terbentuk di bulan Maret. Banyak analis teknikal yang menganggap candle pattern itu berkombinasi dengan Double Top. Keduanya saling mendukung dalam hal meningkatkan risiko koreksi dari pergerakan upswing Monthly. Candle pattern Spinning Top itu terbentuk nyaris sempurna; berada di zona resistance dengan upper spike dan lower shadow yang rentangnya sangat signifikan sementara lebar body-nya sangat kecil.

DXY Monthly 2020-12 A

Spinning Top, yang pada skala Monthly mungkin bisa dibilang tergolong cukup jarang teridentifikasi, mencerminkan sengitnya tarik ulur antara buyers dan sellers yang kemudian berakhir nyaris tanpa konsensus atau hampir stagnan karena jarak harga pembukaan (Open) dan penutupan (Close) terpaut cukup dekat. Hal ini menjadi indikasi keraguan buyers saat berupaya memperpanjang reli DXY guna menembus resistance kritis jangka panjang (level 103.82).

Secara fundamental, jika kita mundur lagi ke belakang atau ke awal tahun 2020, sebetulnya pergerakan DXY memang agak di luar perkiraan banyak pengamat, terutama jika dikaitkan dengan perang dagang AS-China yang belum berakhir serta ketegangan geopolitik di Laut China Selatan yang mestinya mampu mendongkrak USD naik lebih tinggi.

Pasalnya, Negeri Paman Sam yang ekonominya terkuat di dunia menempati urutan teratas kasus COVID-19 sejak akhir Maret 2020. Wacana lockdown guna membatasi penyebaran virus di sejumlah wilayah AS ketika itu meramaikan headline berbagai media global, termasuk berita online. Akibatnya, minat investor terhadap Greenback menyusut tajam seiring beralihnya dukungan ke aset berisiko, terutama mata uang tunggal kawasan Euro.

Sekarang, mari kita simak lagi time frame Monthly di bawah ini. Kali ini dengan zoom-out agar bisa memuat lebih banyak perjalanan aksi harga mulai dari tahun 2005 hingga 2020. Di situ kita segera bisa melihat, bahwa pada dasarnya DXY sejauh ini telah memasuki zona support krusial skala long term. Hal ini kemudian mengekspos level 88.25 (Low Februari 2018) yang menjadi target downswing jangka panjang. Penutupan candlestick Monthly atau breakout tegas di bawah level itu akan berisiko memicu penurunan DXY yang lebih dalam.

DXY 2020-12 B

Lantas barangkali kita sampai pada pertanyaan, apakah DXY masih akan menjaga prospek downside dalam beberapa pekan ke depan hingga awal tahun 2021? Ini tampaknya akan menjadi sangat menarik. Pasalnya, grafik Weekly ternyata menggambarkan situasi teknikal yang justru meningkatkan risiko rebound dalam jangka menengah.

 

DXY Grafik Weekly

Bias Weekly sejauh ini memang masih bertendensi bearish selama berada di bawah kurva MA-30. Bias itu didukung indikator RSI yang masih parkir di teritori negatif sejauh ini. Akan tetapi, pergerakan downswing DXY cenderung terjebak di dalam lintasan Falling Wedge (FW).

Seperti diketahui, FW umumnya meningkatkan risiko rebound. Artinya, prospek penurunan yang lebih rendah dalam jangka menengah/panjang memang sangat membutuhkan breakout di bawah level 88.25 untuk mematahkan chart pattern tersebut.

DXY Weekly 2020-12-06

Sebaliknya pada sisi upside, DXY barangkali hanya memerlukan akselerasi di atas level 93.66 (High 7 September) yang bisa mengkonfirmasi terpicunya potensi rebound. Level resistance dinamis MA-30 (sekarang di 94.61) dan resistance Weekly di level 96.35 (Low Desember 2019) kemudian menjadi target harga selanjutnya. Pada skenario ini, DXY malah punya peluang untuk membuka lagi jalur uptrend Weekly/Monthly, atau setidaknya berusaha kembali mendekati level psikologis 100.00.

Jika menggabungkan skenario teknikal di atas dengan sedikit isu fundamental terkini, banyak analis yang berpendapat bahwa pelemahan DXY dalam beberapa pekan terakhir adalah dalam rangka menyambut stimulus fiskal AS terbaru yang berskala masif serta memang sangat dinanti-nanti pelaku pasar. Artinya, ada kemungkinan bahwa penurunan DXY memasuki zona support Monthly atau jangka panjang memang merupakan upaya "penyesuaian" terhadap spekulasi tersebut.

Sehingga, kecuali apabila  Uni Eropa juga menggelontorkan stimulus berskala besar atau ECB menerapkan kebijakan moneter yang lebih longgar di akhir tahun, maka risiko rebound DXY untuk mengkonfirmasi chart pattern Falling Wedge adalah skenario yang tak dapat diabaikan.

Download Seputarforex App

Arsip Analisa By : Buge Satrio
294752

Buge Satrio Lelono memiliki latar belakang pendidikan IT dan mengenal forex sejak tahun 2003 ketika platform Metatrader masih versi 3. Setelah berlatih di akun demo selama beberapa tahun dan mencoba berbagai teknik trading, Buge menekuni forex secara full-time sejak awal 2014. Kini aktif trading mengandalkan pengamatan Price Action, Ichimoku Kinko-hyo, Trading Plan, dan pengendalian risiko tak lebih dari 1 persen.

Mundzir
Untuk analisa bulanan saya mendukung dollar...

Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone