Analisa Rupiah 24-28 Desember 2018

Minggu lalu, Rupiah melemah oleh neraca perdagangan Indonesia yang defisit dan FOMC. Minggu ini, Rupiah diperkirakan stagnan dengan kecenderungan menguat.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga penutupan pasar minggu lalu (21 Desember 2018), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Minggu lalu, Rupiah ditutup pada level 14550 per US Dollar, atau melemah tipis 0.12% dibandingkan penutupan minggu sebelumnya. Di awal pekan, mata uang Garuda sempat menyentuh level 14625, pasca rilis data neraca perdagangan Indonesia yang kembali defisit sebesar USD2.05 miliar. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan defisit USD1.60 miliar, dan merupakan defisit tertinggi sejak bulan Juli 2013. Tingginya defisit neraca perdagangan akan memperlebar defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit) kuartal keempat, yang tentunya akan menekan nilai tukar Rupiah.

Rupiah berbalik menguat setelah Bank Indonesia (BI) membuka lelang dalam transaksi Non Deliverable Forward (NDF), dengan metode Fixed Rate Tender. Setelah itu, BI melakukan intervensi di pasar Domestic NDF atau DNDF, dan berhasil menahan depresiasi, bahkan memperkuat nilai tukar Rupiah. DNDF adalah instrumen derivatif dari kontrak perdagangan mata uang berjangka yang dilakukan di dalam negeri, yaitu kontrak beli atau jual valuta asing dalam jangka waktu tertentu dengan menggunakan kurs yang telah ditentukan di awal transaksi.

Mata uang Garuda sempat menguat hingga level 14330 menjelang FOMC meeting, akibat pelemahan USD oleh spekulasi pengurangan frekuensi kenaikan suku bunga tahun depan. Namun pasca FOMC, Rupiah kembali mengalami depresiasi bersamaan dengan mata uang Asia lainnya. Untungnya, penurunan tersebut tidak sampai menembus 14600. Pernyataan ketua The Fed Jerome Powell pada konferensi pers seusai meeting dianggap tidak hawkish, sehingga USD berbalik melemah.

Dua minggu ke depan, perdagangan akan sepi akibat libur Natal dan tahun baru. Trader dan investor besar di pasar uang dan pasar modal akan absen. Diperkirakan, Rupiah akan bergerak stagnan dengan kecenderungan menguat akibat pelemahan USD yang diprediksi masih akan berlanjut. Sentimen pasar terhadap keraguan kenaikan suku bunga The Fed tahun depan, dan terjadinya government shutdown untuk yang ketiga kalinya dalam tahun ini akan menyebabkan sentimen negatif pada Greenback.

Jika Rupiah menguat, support kuat USD/IDR ada pada sekitar level 14300. Jika melemah, maka resistance kuat masih pada level 14645.

Jadwal Rilis Data Fundamental:

Jumat, 28 Desember 2018:

  • Jam 17:00 WIB: Uang beredar M2 di Indonesia bulan Desember 2018 y/y: bulan sebelumnya: +7.2%.

Analisa Rupiah 24-28 Desember

 

Rabu, 2 Januari 2019:

  • Jam 07:30 WIB: Indeks Manufacturing PMI Indonesia versi Nikkei bulan Desember 2018: bulan sebelumnya: 50.4 (terendah dalam 5 bulan terakhir). Perkiraan: 50.5.

Analisa Rupiah 24-28 Desember

 

  • Jam 11:00 WIB: CPI total Indonesia bulan Desember 2018 y/y: bulan sebelumnya: +3.23% (tertinggi sejak Mei 2018). Perkiraan: +3.60%.
    CPI total Indonesia bulan Desember 2018 m/m: bulan sebelumnya: +0.27%. Perkiraan: +0.60%.
    CPI inti Indonesia bulan Desember 2018 y/y : bulan sebelumnya: +3.03% (tertinggi sejak November 2017). Perkiraan: +2.80%.

Analisa Rupiah 24-28 Desember

 

Data berdampak dari AS minggu ini: indeks kepercayaan konsumen versi CB, indeks Manufaktur Chicago PMI.

 

Tinjauan Teknikal

Analisa Rupiah 24-28 Desember


Chart Daily
:

Pelemahan Rupiah tertahan pada kurva resistance EMA 144. Kemungkinan koreksi bearish USD/IDR masih akan berlanjut (Rupiah masih cenderung menguat). Kemungkinan ini didukung oleh:

  1. Titik indikator Parabolic SAR yang berada di atas bar candlestick.
  2. Kurva indikator RSI yang masih berada di bawah center line (level 50.0).
  3. Garis histogram indikator ADX berwarna merah yang menunjukkan sentimen bearish.

Konfirmasi untuk sell jika harga telah berada di bawah kurva middle band indikator Bollinger Bands, dan kurva indikator MACD telah berada di bawah kurva sinyal (warna merah), serta garis histogram OSMA berada di bawah level 0.00.

Jika berlanjut bearish, support kuat USD/IDR ada pada level 14330 hingga 14285.

Level Pivot mingguan : 14501.67

Resistance : 14645.00 ; 14723.00 (level 38.2% Fibo Retracement) ; 14785.00 ; 14840.00 ; 14929.83 (23.6% Fibo Retracement) ; 15000.00 ; 15050.00 ; 15140.00 ; 15200.00 ; 15265.00 ; 15327.00 ; 15400.00.

Support : 14465.00 ; 14388.98 (61.8% Fibo Retracement) ; 14330.00 ; 14285.00 ; 14205.00 ; 14106.00 ; 14038.00 ; 13983.00 ; 13923.00 ; 13845.00 ; 13795.00 ; 13736.00 ; 13693.00 ; 13624.00 ; 13538.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 144 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ;  RSI (14) ; ADX (14).

Fibonacci Retracement :

  • Titik Swing Low  : 13845.00 (harga terendah 6 Juni 2018).
  • Titik Swing High : 15265.00 (harga tertinggi 11 Oktober 2018).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.