Nantikan BI Rate Dan Pidato Powell, Rupiah Masih Hadapi Tekanan

289708

Minggu lalu, Rupiah ditutup melemah akibat kekhawatiran akan terjadinya resesi global dan membaiknya data ekonomi AS. Minggu ini, Statement BI dan pidato Powell menjadi katalis.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Analisa mingguan USD/IDR berikut ini dibuat berdasarkan harga pentupan pasar minggu lalu (16 Agustus 2019), serta dimaksudkan sebagai acuan untuk trading jangka menengah dan panjang.

 

Tinjauan Fundamental

Sepanjang pekan lalu, Rupiah bergerak sideways sebelum ditutup pada level 14235 per USD, atau melemah 0.32% dibandingkan harga penutupan minggu sebelumnya. Sempat menyentuh level 14332.50 di awal pekan, mata uang Garuda berbalik menguat dan berimpit dengan kurva SMA 200-day yang secara teknikal dianggap sebagai acuan arah pergerakan trend.

Pelemahan Rupiah disebabkan oleh faktor eksternal, yaitu kekhawatiran akan terjadinya resesi global, dan membaiknya data fundamental ekonomi AS. Sementara itu, penundaan tarif impor barang-barang dari China yang diumumkan AS sempat membuat mata uang Garuda menguat hingga level 14215.

Faktor internal yang mendukung penguatan Rupiah adalah defisit neraca perdagangan Indonesia bulan Juli yang hanya USD0.06 milliar, jauh lebih rendah dari perkiraan defisit hingga USD1.7 miliar. Selain itu, pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo di akhir pekan ikut mendukung apresiasi Rupiah. Asumsi ekonomi makro tahun depan yang disampaikan Presiden telah menimbulkan optimisme pelaku pasar.

Minggu ini, fokus pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang akan memutuskan tingkat suku bunga acuan atau BI 7-Day Repo Rate. Diperkirakan, BI 7-Day Repo Rate masih akan dipertahankan pada level +5.75%, setelah bulan lalu dilakukan pemotongan sebesar 0.25%.

Sementara dari AS, minggu ini akan ada pidato ketua The Fed Jerome Powell pada simposium ekonomi tahunan di Jackson Hole. Seperti diketahui, simposium ini akan dihadiri oleh pimpinan bank sentral dari berbagai negara. Tema untuk tahun ini adalah "tantangan terhadap kebijakan moneter". Selain itu, minggu ini juga akan dirilis notulen FOMC dan data manufaktur PMI AS bulan Juli.

Banyak analis memperkirakan, tekanan sell-off terhadap mata uang negara-negara berkembang masih belum berakhir. Pelaku pasar masih ingin cari aman dengan memburu asset safe haven, terkait dengan ancaman resesi global. Disamping itu, kekhawatiran akan perang mata uang (currency war) yang lebih meluas juga menjadi faktor penekan nilai tukar mata uang negara-negara berkembang termasuk Rupiah.

 

Jadwal Rilis Data Fundamental

Kamis, 22 Agustus 2019:

  • Jam 14:20 WIB: suku bunga Bank Indonesia bulan Agustus 2019: bulan sebelumnya: +5.75%. Perkiraan: +5.75%.

Nantikan BI Rate Dan Pidato Powell,

  • Jam 16:00 WIB: data pertumbuhan kredit bulan Juli 2019 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +9.92%. Perkiraan: +9.10%.

Nantikan BI Rate Dan Pidato Powell,

 

Jumat, 23 Agustus 2019:

  • Jam 16:00 WIB: penjualan mobil di Indonesia bulan Mei 2019 year over year (y/y): bulan sebelumnya: +1.2%. Perkiraan: -18.2%.

Nantikan BI Rate Dan Pidato Powell,
Data dan peristiwa berdampak dari AS minggu ini
: pidato ketua The Fed di simposium Jackson Hole, notulen FOMC, Flash Manufacturing PMI, pidato Fed Quarles.

 

Tinjauan Teknikal

Nantikan BI Rate Dan Pidato Powell,

 

Chart Daily:

USD/IDR bergerak sideways dengan kecenderungan bullish, atau Rupiah masih cenderung melemah. Saat ini, harga berada pada kurva SMA 200-day yang merupakan acuan arah trend, tetapi dari penunjukan indikator trend dan momentum, USD/IDR masih cenderung bullish:

  1. Harga masih berada di atas kurva middle band indikator Bollinger Bands, dan titik indikator Parabolic SAR berada di bawah bar candlestick.
  2. Kurva indikator MACD berada di atas kurva sinyal (warna merah), dan garis histogram OSMA berada di atas level 0.00.
  3. Kurva indikator RSI berada di atas center line (level 50.0).
  4. Garis histogram indikator ADX berwarna hijau dan berada di atas level 25, menunjukkan sentimen bullish yang masih kuat.

Dari chart daily di atas, tampak support kuat ada pada kurva EMA 89, sementara resistance pada level 14355. Jika bisa menembus kurva support EMA 89 dan 38.2% Fibo Retracement, Rupiah akan berlanjut menguat secara teknikal dengan support pada level psikologis 14000.

 

Level Pivot mingguan: 14256.50

Resistance: 14281.80 (level 61.8% Fibo Retracement) ; 14298.00 ; 14355.00 ; 14435.00 ; 14475.00 ; 14525.00 ; 14600.00 ; 14650.00 ; 14721.83 ; 14785.00 ; 14930.00 ; 15050.00 ; 15140.00 ; 15200.00 ; 15265.00 ; 15327.00 ; 15400.00.

Support: 14206.69 (50% Fibo Retracement) ; 14131.57 (38.2% Fibo Retracement) ; 14038.43 (23.6% Fibo Retracement) ; 14000.00 ; 13950 ; 13889.00 ; 13835 ; 13736.00 ; 13670.63 ; 13469.67 ; 13400.00 ; 13362.00 ; 13314.00 ; 13263.00.

Indikator: Simple Moving Average (SMA) 200 dan EMA 89 ; Bollinger Bands (20,2) ; Parabolic SAR (0.02, 0.2) ; MACD (12,26,9) ; OSMA ; RSI (14) ; ADX (14).

Fibonacci Retracement:

  • Titik Swing High: 14525.00 (harga tertinggi 22 Mei 2019).
  • Titik Swing Low: 13889.00 (harga terendah 19 Juli 2019).
Arsip Analisa By : Martin

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.

Perlu tukar mata uang ?

Konversi valas ke rupiah atau sebaliknya ?
bisa lebih mudah dengan kalkulator kurs. Temukan disini.