Trading Dengan 200 Day Moving Average (1)

134638

Indikator ini sering digunakan sebagai acuan dengan dasar pemikiran banyak pelaku yang melihat indikator ini, sehingga pasar akan bereaksi bila pergerakan harga menyentuh garis sma 200-day.

Xm

iklan

FirewoodFX

iklan

Salah satu indikator yang paling populer adalah simple moving average (SMA) 200-day. Indikator ini bisa ditemukan pada berbagai trading chart di institusi keuangan, bank-bank besar, perusahaan hedge fund dan juga trader retail. Dengan berbagai alasan, mereka menggunakan indikator ini sebagai acuan utama.

Indikator ini juga sering digunakan sebagai acuan pada analisa fundamental dengan dasar pemikiran banyak pelaku yang melihat indikator ini sehingga pasar akan bereaksi bila pergerakan harga menyentuh garis SMA 200-day tersebut. Sebagai contoh pada saat krisis finansial tahun 2008 lalu, EUR/USD sempat merosot hingga 3500 pip atau 21.58% dalam kurun waktu hanya 3.5 bulan.

Setelah diluncurkan Troubled Asset Relieve Program (TARP) pada 14 Oktober 2008 yang disusul dengan pembelian bond, maka sentimen pasar terhadap mata uang Euro menjadi positif hingga EUR/USD rebound. Pasangan mata uang tersebut rally hingga 2400 pip atau 19.35% dari harga terendahnya, hingga menyentuh garis SMA-200 day, seperti tampak pada gambar berikut:

Trading Dengan 200 Day Moving Average


Contoh diatas sekaligus menunjukkan penggunaan SMA-200 day sebagai level support (sebelum ditembus) dan juga sebagai resistance (setelah ditembus).

SMA-200 day sebagai level support dan resistance

Barangkali indikator yang paling sering dilihat para trader adalah garis-garis level support dan resistance, baik yang statis berupa garis lurus atau yang dinamis berupa garis indikator moving average. Trader sering melihat pada indikator SMA-200 day dengan asumsi banyak trader besar dan analis yang menggunakan indikator ini sebagai salah satu acuan sebelum mereka bereaksi. Sebagai contoh bisa dilihat pada chart EUR/USD daily berikut ini:

Trading Dengan 200 Day Moving Average

Dalam contoh di atas, trader akan bereaksi dengan membuka posisi buy ketika pergerakan harga telah menembus level support garis SMA-200 day. Demikian pula pada contoh sebelumnya, trader entry sell ketika harga menyentuh garis SMA-200 day sebagai level resistance. Untuk konfirmasi, bisa dilihat formasi bar candlestick atau setup price action yang terbentuk. Level stop loss ditentukan dibawah garis SMA-200 day atau level terendah bar candlestick yang memotong garis moving average tersebut.

Trading Dengan 200 Day Moving Average

Strategi diatas biasanya digunakan untuk trading pada jangka menengah atau panjang, karena acuan indikator SMA-200 day tersebut selalu digunakan dalam basis time frame daily.

SMA-200 day sebagai indikator trend

SMA-200 day ini juga populer digunakan sebagai indikator arah trend jangka panjang. Jika harga bergerak diatas garis moving average tersebut maka diasumsikan pasar sedang uptrend, dan jika bergerak dibawah SMA-200 day diasumsikan pasar sedang downtrend.

Bersambung ke bagian (2)

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.


Maryono R
SMA 200 ini responnya lagging sekali, kurang bisa memperlhtkn tren jngk pendek, tapi sangat oke untk nyari tren jangka panjang
Azmie Ll
memang bener perolehan support ma resistance dr sma 200 ni halus banget dan dinamis juga, sayang kurang bisa dipake untuk trading jangka pendek. disini apa periodesasi ma bisa dikecilkan kalau tradingnya untuk jangka pendek?
Martin S
@ Azmie Ll:
Untuk jangka pendek lebih baik digunakan ema (exponential moving average) yang responsnya lebih cepat, karena kalau Anda trading jangka pendek tentu menginginkan respons yang lebih cepat untuk bisa memberikan sinyal entry sesegera mungkin. Untuk jangka pendek periode moving average (ma) memang sebaiknya disesuaikan dengan time frame yang digunakan, semakin rendah time frame semakin kecil periode ma. Berapa periode waktu yang pas untuk time frame tertentu tidak ada patokannya. Dalam prakteknya untuk time frame daily memang digunakan periode 200. Untuk time frame yang lebih rendah perlu dilakukan backtest untuk pasangan mata uang tertentu sehingga diketahui periode waktu berapa yang cukup akurat.
Hari Santoso
Untuk trading jangka pendek memang akan lebih baik untuk menggunakan garis MA dengan periode yang lebih kecil dari 200. Untuk memperkecil peluang tertipu oleh noise ataupun sinyal trading palsu dari pergerakan harga di time frame rendah, bisa juga dilihat bagaimana tren pada time frame yang lebih tinggi.
Fadli.priono
dari pertama kalo ane kalo masang ma selalu ma periode panjang & dibarengi dengan periode yang lebih pendek. rasanya kalo cuman masang satu ma aja bisa bikin tampilan di layar lebih simpel, tapi ane jadi nggak bisa analisa crossingnya. apa kalo sebelumnya ane sudah terbiasa trading dengan cara sebelumnya bisa tiba2 belajar pake satu garis ma aja?
Martin S
@ Fadli.priono:
Kalau sebelumnya sudah terbiasa dengan analisa crossing 2 moving average (ma) sebaiknya tidak berganti strategi analisa dengan hanya satu ma. Artikel ini bermaksud menunjukkan bahwa sma 200 pada time frame daily (sma 200 day) banyak digunakan acuan trader untuk mengetahui arah trend jangka menengah panjang dan support / resistance-nya. Jika kebetulan trading pada time frame daily, Anda bisa mengkombinasikan sma 200 dengan sma 50 atau periode lainnya yang lebih kecil. Baca juga: Moving Average Dalam Trading Forex
Hari Santoso
Kalau masih ragu dibacktest saja strategi tradingnya.
Imam
oke gan